ADVERTISEMENT

Ngiring Manten: Acara dalam Pernikahan di Desa yang Malah bikin Pengantin Sumpek dan Malu karena Ulah Anggota Keluarga Sendiri

Ngiring manten di desa: tradisi mengantar pengantin dalam acara pernikahan di desa yang malah bikin sumpek MOJOK.CO

Tradisi ngiring manten (mengantar pengantin) dalam acara pernikahan di desa, alih-alih membuat pengantin yang diantar gembira, justru malah bikin sumpek dan menambah beban. Di titik tertentu bahkan membuat si pengantin malu sendiri dengan ulah orang-orang yang ikut mengantar. 

***

ADVERTISEMENT

Tradisi ngiring manten atau iring-iring manten hingga saat ini masih menjadi tradisi cukup kental di sejumlah desa di Jawa, termasuk di Rembang, Jawa Tengah.

Tradisi ini lazimnya untuk mengantar pengantin pria ke kediaman mempelai wanita. Pasalnya, acara akad sekaligus walimatul ursy memang dilakukan di kediaman mempelai wanita. 

Dalam mengantar pengantin pria tersebut, membawa keluarga inti saja tidak cukup. Sering kali harus membawa rombongan besar (terdiri dari keluarga inti, kerabat jauh, hingga tetangga pun bisa diikutkan). Makanya, kalau ngiring manten-nya harus menempuh jarak jauh (luar daerah misalnya), bisa memakai satu bus besar atau dua elf besar untuk mengantar iring-iringan. 

Momen tersebut sepintas tampak penuh keguyuban. Bayangkan saja, demi mengantarmu bertemu calon istri, orang-orang desa begitu bersemangat, berbondong-bondong untuk ikut serta. Akan tetapi, bagi pihak pengantin yang diantar, malah menyisakan rasa kesal, sumpek, dan malah nambah-nambah beban. 

Ngiring manten ke tempat jauh: rekreasi gratis bagi warga desa 

Dalam kultur masyarakat desa saya di Rembang, tradisi ngiring manten atau iring-iring manten pada prinsipnya adalah untuk menyenangkan pengantin pria yang diantar, sebagai simbol bahwa di hari bahagianya menuju pelaminan-menyongsong pernikahan tersebut, ia benar-benar dirayakan. 

Sejujurnya, yang terjadi kerap kali sebaliknya. Setidaknya begitu yang diakui oleh sejumlah teman seusia yang telah menikah. Salah satunya, Jalil (26), pemuda asal Rembang, Jawa Tengah, yang menikahi perempuan asal Lamongan, Jawa Timur. 

“Kalau di desaku, ya kan banyak anggota keluarga yang jarang lah rekreasi jauh-jauh begitu. Maksudnya rekreasi yang beneran rekreasi, jalan-jalan jauh. Rekreasinya paling setahun sekali, ziarah Wali Sanga,” ujar Jalil berbagi cerita, Sabtu (17/10/2026). 

Karena itulah, kalau sejauh yang Jalil amati, warga desanya punya kecenderungan: kalau ada anggota keluarga yang akan melangsungkan pernikahan di luar daerah, anggota keluarga pasti akan antusias. Jauh-jauh hari sudah bertanya-tanya soal kemungkinan diajak ngiring manten. 

ADVERTISEMENT

Begitu juga yang saya alami sendiri saat hendak melangsungkan pernikahan di rumah istri di Jombang pada Februari 2025 lalu. Bedanya dengan Jalil, saya memang tidak merencanakan membawa rombongan besar. Hanya keluarga inti saja karena acara pernikahan saya kecil-kecilan belaka. 

Tapi saya ingat betul ketika ngiring manten untuk Pakde saya dari Rembang ke Madiun, Jawa Timur. Saat itu saya masih SD (lupa kelas berapa). Saya bahkan tidak bisa tidur, tidak sabar menunggu pagi untuk melakukan perjalanan ngiring manten tersebut. 

Momen perjalanan dengan bus pariwisata itu pun kemudian saya ceritakan ke teman-teman: saya ceritakan bagaimana bus kami meliuk-liuk melintasi banyak kawasan hutan (di Ngawi dan Bojonegoro). Sensasinya benar-benar seperti hendak pergi rekreasi. Padahal hanya datang, melihat Pakde dan istrinya melakukan berbagai rangkaian prosesi, dan sekadar makan suguhan tuan rumah untuk kemudian pulang lagi. 

Niat mengantar pengantin ke pernikahan tapi malah iri-irian hingga jadi beban tambahan

Jalil mengaku, semula ia tidak ingin membawa banyak rombongan. Paling cukup satu elf saja lah. Maka ia mencoba menyortir, siapa-siapa keluarga yang akan diajak. 

Akan tetapi, penyortiran pengiring tersebut justru memicu iri-irian antar-saudara. “Dia diajak, kok aku tidak diajak,” begitu-begitu lah gerutuan anggota keluarga yang tidak masuk list untuk ngiring manten ke Lamongan. 

Maka, daripada ribet di belakang, Jalil dan orang tuanya akhirnya memutuskan untuk mengajak setiap anggota keluarga yang ikut. Membludak lah rombongan, dari yang rencana awalnya hanya satu elf kemudian menjadi tiga elf. 

“Nggak mau cari perkara. Soalnya ya, aku tahu persis lah, di kasus-kasus sebelumnya (pernikahan orang desa lain), kalau ada anggota keluarga nggak diajak, dia pasti ngedumel-ngedumel ke orang lain,” beber Jalil. 

“Loh kok ketinggalan? Kok nggak ikut iring-iring?” Akan ada orang yang memancing pertanyaan begitu ke orang yang tidak diajak ngiring manten. 

“Lah iya, nggak diajak kok, mau apa. Masa mau ngeyel ikut.” Jawaban tersebut akan terlontar dari orang yang ditanya dengan nada ketus, lalu disambung dengan rasan-rasan soal keluarga pengantin. Hanya karena tidak diajak ngiring manten, efeknya bisa jadi omongan. Repot. Jalil tidak ingin itu terjadi pada dirinya dan orang tua. 

Hanya saja, konsekuensinya beban Jalil pun turut bertambah. Sebab, ia harus menggelontorkan uang lebih lagi untuk sewa elf. Belum lagi, ia harus menyediakan rokok untuk bapak-bapak/laki-laki yang ikut dalam rombongan, juga snak-snakan untuk camilan selama di perjalanan menuju rumah calon istri di Lamongan. 

Bikin risih karena rempong dan ngeluh-ngeluh sepanjang jalan

Kalau sudah diajak, tinggal ikut dan duduk manis saja. Jalil tentu penginnya begitu. Sayangnya, drama mengajak rombongan dalam ngiring manten tersebut masih akan berlanjut hingga perjalanan pulang. 

“Sudah diajak, nggak bayar kan, tapi sepanjang jalan itu ada saja yang ngeluh,” ungkap Jalil. 

Di antara yang dikeluhkan rombongan ngiring manten dalam pernikahan Jalil: jarak yang ternyata jauh, jalanan pantura yang gronjal-gronjal, pertanyaan-pertanyaan kapan sampai, dan macam-macam lah. Jalil hanya bisa membatin kesal: kalau sedari awal nggak suka perjalanan jauh dan lama, ya nggak usah ngeyel pengin diajak. 

“Tapi ya itu, di desa itu perkara begini sensitif. Sebenarnya ada kok yang sadar diri, nggak bisa perjalanan jauh. Tapi kalau diajak, dia merasa nggak dianggap sebagai keluarga atau kerabat,” tutur Jalil. 

Bahkan, setidaknya dalam kasus Jalil, ada saja permintaan-permintaan rempong. Ada usulan, karena sudah jauh-jauh dari Rembang ke Lamongan, masa nggak mampir-mampir. Maksud mampir ala warga desa Jalil tidak lain tidak bukan adalah: mampir ziarah wali yang dilalui, antara ke makam Sunan Bonang di Tuban atau makam Syekh Ibrahim al-Samarqandi (Asmoroqondi) di perbatasan Tuban-Lamongan. 

Belum lagi rasan-rasan terhadap orang desa tertentu yang bisa dikupas tuntas sepanjang perjalanan pergi-pulang. 

Omongan ngawur tidak terkontrol yang bisa menyinggung

Rasan-rasan tersebut bahkan bisa menyasar keluarga mempelai wanita yang sebelumnya menjamu keluarga pengantin pria loh. 

Sejak rombongan ngiring manten pengantin pria tiba di kediaman mempelai wanita, omongan ngawur tidak terkontrol sudah langsung terlontar. Mengomentari banyak hal: kondisi rumah si mempelai, jamuan, pelaminan, pokoknya apa yang dilihat bisa jadi rasan-rasan. Dan bisik-bisik itu sudah langsung terjadi di tempat. 

Tidak selesai di situ, rasan-rasan masih ternyata berlanjut di dalam elf dalam perjalanan pulang. Kali itu ketambahan bahan rasan-rasan: jenis bingkisan yang diterima bisa dipaido. Benar-benar tidak menimbang, apakah omongan-omongan itu bakal menyinggung dan menyakiti atau tidak. 

Kalau bagian ini saya mengamini. Karena saya sendiri pernah mengalami dari pengalaman ikut ngiring manten rombongan besar: entah rombongan teman atau saudara. 

Itulah kenapa saya memutuskan untuk membawa rombongan keluarga inti saja saat menikah. Saya eneg saja dengan model omongan-omongan tidak mutu semacam itu. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pernikahan Terutama di Desa Memberi Beban Lebih Berat ke Perempuan, Jadi Dasar Gen Z Tak Menikah karena Tak Sanggup Membayangkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.