Bagi keluarga berpenghasilan pas-pasan, agenda momong anak tak selalu harus pergi ke mal atau membayar tiket tempat wisata. Cukup membawa bekal dari rumah, mencari tempat duduk, lalu menunggu kereta api datang. Namun, di balik kesenangan sederhana itu, ada risiko keselamatan yang tak boleh luput dari perhatian orang tua.
***
Sore hari di kawasan perlintasan kereta api Lempuyangan, Yogyakarta, tak hanya sibuk oleh kendaraan yang menunggu palang terbuka. Di bawah jembatan layang, sejumlah orang tua membawa anak mereka untuk menikmati pemandangan yang tak perlu tiket: kereta api melintas.
Di antara banyaknya kendaraan yang berjubel untuk melintasi perlintasan rel kereta api. Ada juga mereka yang momong anaknya ke perlintasan kereta api untuk mencari hiburan murah meriah.
Nasi sop dan kereta api jadi teman makan sore momong anak
Ari (32) duduk bersama Nita (30) dan anak mereka, Alzan (2). Nita menyuapi Alzan nasi sop. Setiap kali kereta melintas, perhatian bocah itu tertuju pada rangkaian gerbong yang bergerak di hadapannya. Nasi masuk ke mulut, sementara matanya mengikuti kereta.
Ari melihat kebiasaan itu sebagai hiburan sederhana bagi keluarganya. Dengan penghasilan yang harus mereka atur untuk kebutuhan sehari-hari, momong anak melihat kereta menjadi pilihan yang tidak menuntut banyak biaya.
“Ini hiburan murah kelas pinggiran seperti kami, Mas. Di sini pasti si Alzan dokoh (lahap) makannya,” ujar Ari.
Pemandangan semacam itu bukan hal baru di sekitar perlintasan Lempuyangan. Dalam liputan Media Indonesia pada 11 Mei 2026, sejumlah anak juga terlihat datang bersama orang dewasa untuk menunggu kereta. Salah seorang pengunjung, Ningsih, mengaku membawa keponakannya yang berusia dua tahun karena anak itu senang melihat kereta api.
Jauh-jauh demi kereta api dan momong anak
Nita bukan satu-satunya orang tua yang membawa anak ke sana. Ia menyebut sejumlah keluarga datang untuk melakukan kegiatan serupa, bahkan dari kawasan yang cukup jauh dari Lempuyangan.
“Di sini memang sudah cukup lama jadi titik momong anak, Mas. Bahkan saya jauh-jauh dari daerah Jlagran (Malioboro) sampai sini cuma mau momong anak,” kata Nita.
Bagi anak seusia Alzan, kereta yang melintas menawarkan tontonan yang bergerak, bersuara, dan selalu menarik perhatian. Orang tua pun punya kegiatan sederhana untuk menemani waktu sore tanpa harus menyusun agenda rekreasi yang menguras dompet.
Sebagian keluarga membawa makanan dari rumah. Mereka menyuapi anak sambil menunggu kereta berikutnya. Di sela-sela itu, anak-anak bisa melihat anak lain bermain dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Kebiasaan tersebut memperlihatkan bagaimana warga memanfaatkan ruang kota untuk kegiatan sehari-hari. Namun, keramaian pengunjung tidak serta-merta menjadikan area sekitar rel sebagai ruang bermain yang aman.
Anak-anak datang, pedagang cilok ikut meraup berkah
Keramaian keluarga yang momong anak turut menarik pedagang jajanan. Waluyo (45-an), penjual cilok, memarkirkan dagangannya di dekat tiang penyangga jembatan layang. Kehadiran anak-anak menjadi peluang baginya untuk menjajakan dagangan sebelum pulang.
“Berkah sih, Mas, jualan di sini. Rame anak-anak. Misal saya habis muter keliling, saya pasti terakhir mangkal di sini sekalian menghabiskan dagangan, terus pulang,” ujar Waluyo.
Cerita Waluyo menunjukkan bahwa kegiatan sederhana warga juga menciptakan peluang ekonomi bagi pedagang kecil. Anak-anak yang datang bersama orang tua menjadi calon pembeli, sementara pedagang mendapat tambahan titik untuk menawarkan jajanan.
Penelitian Dinarjati Eka Puspitasari yang terbit di Mimbar Hukum UGM membahas penataan pedagang kaki lima kuliner di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Penelitian itu menyoroti dua sisi aktivitas PKL: kontribusi ekonomi dan kebutuhan mengatur penggunaan ruang publik agar tidak mengganggu fungsi kawasan. Meski penelitian tersebut tidak secara khusus membahas pedagang di Lempuyangan, temuan itu relevan untuk membaca hubungan antara keramaian pengunjung, peluang jualan, dan kebutuhan menjaga ruang bersama.
Tidak memberi hp, memilih momong anak dengan keluar rumah dan melihat kereta api
Waluyo juga memperhatikan cara orang tua momong anak-anak mereka. Ia melihat sejumlah orang tua memilih mengajak anak melihat kereta daripada mengandalkan ponsel untuk membuat anak tenang saat makan.
“Tapi saya kagum sama orang tua sekarang yang tidak ‘nyekoki’ anaknya pakai HP, Mas. Milih diajak ke sini, lihat kereta dan lihat anak-anak lain bermain. Soalnya kan lagi tren ya anaknya disuapi sambil dipegangi HP, biar anaknya nggak rewel, padahal malah bahaya,” kata Waluyo sambil melayani pembeli.
Bagi Waluyo, keramaian itu membuatnya bisa berjualan sekaligus menyaksikan interaksi keluarga di ruang terbuka. Meski begitu, pilihan orang tua untuk menjauhkan anak dari layar ponsel tidak otomatis membuat lokasi ini aman. Anak yang terlalu asyik melihat kereta bisa kehilangan perhatian terhadap kendaraan yang melintas di dekatnya.
Hiburan murah yang tetap membutuhkan kewaspadaan
Perlintasan Lempuyangan berada di lingkungan dengan aktivitas kereta api dan lalu lintas jalan yang padat. Pada jam sibuk sore, orang tua perlu membagi perhatian antara anak, kendaraan, dan kereta yang datang silih berganti.
Risiko itu bukan perkara sepele. Pada 10 Juli 2025, Polresta Yogyakarta melaporkan seorang warga mengalami luka berat setelah terserempet kereta api di dekat Stasiun Lempuyangan. Kepolisian kemudian mengingatkan masyarakat agar menjaga jarak aman dari rel dan tidak membiarkan anak bermain di sekitar jalur kereta.
PT KAI Daop 6 Yogyakarta juga mengingatkan warga agar tidak beraktivitas di sekitar jalur rel. Imbauan tersebut menegaskan bahwa jalur kereta bukan ruang bermain, sekalipun masyarakat terbiasa melihat kereta melintas dari dekat.
Bagi Ari dan Nita, melihat kereta tetap menjadi cara sederhana untuk menghabiskan waktu bersama Alzan. Bagi Waluyo, keramaian keluarga menjadi kesempatan mencari rezeki. Namun, kedua kepentingan itu perlu berjalan tanpa mengabaikan keselamatan.
Momong anak dengan keluar rumah tak harus mahal. Orang tua tetap bisa mencari hiburan sederhana, tetapi perlu memilih tempat yang aman dan menjaga anak dalam jangkauan pengawasan. Sebab, kesenangan melihat kereta api di Lempuyangan semestinya berakhir dengan anak pulang dalam keadaan selamat.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Angkringan Lempuyangan Jogja Berisi Rindu, Kegagalan, dan Beban Finansial Para Pejuang Perantauan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan