Di Gamping, Sleman, tidak banyak olahraga kompetitif yang mampu bertahan lama. Bola voli masih sanggup mengumpulkan warga di lapangan. Masalahnya, pertandingan voli kampung bukan cuma soal siapa yang menang, tetapi juga siapa yang paling keras berteriak dan siapa yang paling mudah tersulut emosi.
***
Bagi warga kampung, menonton bola voli bisa menjadi hiburan murah meriah. Tak perlu membeli tiket mahal atau pergi ke stadion besar. Cukup datang ke lapangan, membayar parkir, lalu menikmati pertandingan sambil bersorak mendukung tim jagoan. Kalau sedang beruntung, penonton bahkan bisa mendapat bonus tontonan berupa adu mulut antarsuporter.
Di tengah kebiasaan warga kampung yang mencari hiburan tanpa harus mengeluarkan banyak uang, olahraga voli punya daya tarik yang sulit digantikan. Lapangan menjadi tempat bertemu, bersenda gurau, sekaligus menguji kesabaran ketika kampung sendiri berhadapan dengan musuh bebuyutan. Salah satu orang yang masih setia mengikuti geliat olahraga ini adalah Kasihana (54), atau yang akrab saya panggil Lik Mente
Dari atlet voli kampung, kabupaten hingga penonton setia
Bagi Lik Mente, bola voli bukan sekadar olahraga untuk mengisi waktu luang. Selama lebih dari 30 tahun, ia menekuni olahraga ini, mulai dari tingkat kampung hingga kabupaten. Bahkan, ia pernah masuk jajaran atlet Kabupaten Sleman yang mengikuti Pekan Olahraga Daerah (Porda).
“Saya sudah menjadi atlet voli kampung dari usia saya masih belasan, Mas. Bahkan pernah masuk ke jajaran atlet kabupaten Sleman yang dikirim untuk Porda, tahun pastinya saya lupa. Tapi intinya saya masih menggemari olahraga itu, bahkan tidak absen menonton kalau ada Pekan Olahraga Kalurahan (Porkal), saya pasti menonton bahkan di luar daerah kampung kita,” ujarnya kepada saya, Sabtu (10/10/2026).
Pengalaman puluhan tahun itu membuat Lik Mente tetap mengikuti perkembangan bola voli di lingkungannya. Di kampung saya di Gamping, Sleman, olahraga ini masih bertahan ketika tenis meja dan bulutangkis kehilangan peminat.
Bagi Lik Mente, voli punya daya tarik yang tidak sekadar terletak pada permainan di lapangan. Penonton juga punya andil dalam menciptakan keramaian, termasuk ketika mereka saling mengejek untuk mendukung tim jagoannya.
“Kenapa bola voli itu masih menjadi olahraga yang eksis, ya karena hiburan penonton tidak hanya pemain yang bertanding, tapi juga penonton yang saling ejek dan berakhir ricuh menjadi keasyikan tersendiri,” katanya sembari tertawa lebar.
Anak muda masih mencari adrenalin di lapangan
Ridwan (33) punya pandangan serupa. Saya menjumpainya setelah ia bermain bola voli di lapangan RT yang tidak jauh dari rumah saya. Baginya, voli kampung masih punya tempat di antara pilihan olahraga anak muda, seperti futsal dan bulutangkis.
“Selain futsal dan bulutangkis, voli kampung masih digemari anak muda. Karena voli itu selain mainnya ramean juga karena ada adrenalin tersendiri kalau lagi Porkal ketemu kampung musuh bebuyutan, wah di situ letak serunya,” ujar Ridwan menggebu.
Pertemuan antarkampung dalam Porkal menghadirkan persaingan yang berbeda dari permainan rutin di lapangan RT. Warga tidak sekadar datang untuk melihat siapa yang menang, tetapi juga membawa kebanggaan terhadap kampung masing-masing.
Penonton ikut membangun suasana pertandingan melalui sorakan, dukungan, dan ejekan kepada lawan. Pertandingan yang awalnya berlangsung sebagai kompetisi olahraga bisa berubah menjadi adu gengsi antarkelompok.
Dalam situasi seperti itu, kemenangan tim kesayangan terasa seperti kemenangan bersama. Sebaliknya, kekalahan bisa memancing perdebatan panjang setelah pertandingan berakhir.
Voli kampung adalah hiburan murah meriah, tak kalah dari dangdutan
Di kampung, hiburan tidak selalu harus menghadirkan panggung besar, pengeras suara, dan penyanyi dengan bayaran mahal. Pertandingan bola voli juga bisa mengumpulkan warga dalam satu tempat, terutama ketika turnamen mempertemukan tim-tim dari kampung sekitar.
“Karena memang itu jadi hiburan yang semurah itu, cukup bayar parkir bisa lihat olahraga voli plus adu jotos,” ujar Lik Mente dan Ridwan, seragam, disusul gelak tawa kami.
Bagi warga, daya tarik pertandingan tidak berhenti pada teknik pemain melakukan servis, menerima bola, atau melakukan smash. Riuh penonton turut membentuk pengalaman menonton yang membuat pertandingan kampung berbeda dari kompetisi profesional.
Penonton bisa datang bersama teman, bertemu tetangga, dan mendukung tim yang mereka kenal. Lapangan pun menjadi tempat warga dari berbagai kelompok usia berkumpul tanpa harus membuat agenda pertemuan khusus.
Penelitian Ashafaa Razii Ramadhani dan Suhadi yang dimuat dalam jurnal Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Universitas Negeri Yogyakarta pada 2019 turut mengkaji dampak penyelenggaraan pertandingan bola voli terhadap masyarakat desa. Penelitian terhadap 40 warga itu mencatat 55 persen responden menilai dampak kesejahteraan dari kegiatan tersebut kurang baik, sedangkan 40 persen menilainya cukup baik. Temuan ini menunjukkan bahwa keramaian pertandingan tidak otomatis menghadirkan manfaat ekonomi yang dirasakan merata oleh warga.
Pemersatu kampung yang bisa memancing keributan
Dalam obrolan kami, Lik Mente menyebut bola voli memiliki dua sisi. Olahraga ini bisa mempertemukan warga, tetapi persaingan antarkampung juga bisa memicu kericuhan, terutama ketika pertandingan mencapai babak final.
“Voli di kampung itu bisa menjadi pemersatu tapi tidak sedikit yang membuat kericuhan penonton apalagi kalau partai final, wah itu berangkat pasti dah siap ‘tempur’,” ujarnya.
Persaingan memang menjadi bagian dari pertandingan. Namun, persoalan muncul ketika dukungan terhadap tim berubah menjadi permusuhan terhadap pendukung lawan. Ejekan yang semula dianggap candaan bisa memicu pertengkaran ketika salah satu pihak merasa tersinggung.
Studi Diko Prasetyo, Sulaiman, dan Tri Rustiadi yang terbit dalam Journal of Physical Education and Sports pada 2022 membahas perubahan sosial dan budaya setelah penyelenggaraan turnamen bola voli terbuka di Desa Sinar Harapan. Penelitian tersebut menemukan bahwa kegiatan olahraga mendorong interaksi dan partisipasi masyarakat. Namun, peneliti juga mencatat adanya praktik perjudian selama pertandingan.
Temuan itu memperlihatkan bahwa olahraga kampung tidak berdiri di luar persoalan sosial masyarakatnya. Lapangan bisa menjadi ruang perjumpaan, tetapi perilaku orang-orang di sekitarnya ikut menentukan apakah kompetisi berlangsung sehat atau justru menimbulkan masalah.
Selama masih ramai, voli kampung belum kehabisan penonton
Di kampung saya di Gamping, bola voli masih bertahan sebagai olahraga kompetitif yang menarik warga untuk bermain maupun menonton. Ketika tenis meja dan bulutangkis kehilangan tempat, lapangan voli tetap menjadi salah satu ruang berkumpul yang hidup.
Lik Mente juga belum kehilangan minatnya. Pengalaman bermain selama puluhan tahun tidak membuatnya berhenti mengikuti pertandingan. Ia masih menyempatkan diri menonton Porkal, termasuk ketika pertandingan berlangsung di luar kampungnya sendiri. Sementara itu, Ridwan dan anak-anak muda lainnya masih menemukan kesenangan dalam permainan beregu yang mempertemukan kawan sekaligus lawan.
Bola voli memang tidak otomatis menyelesaikan persoalan hubungan antarwarga. Pertandingan bisa mempererat pertemanan, tetapi juga menguji kesabaran ketika gengsi mengambil alih sportivitas. Meski begitu, selama warga masih bersedia datang ke lapangan, bersorak, tertawa, dan mendukung tim kesayangan, olahraga voli punya alasan untuk terus bertahan di kampung.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
Editor: Pasangan Muda Lebih Betah Ngontrak di Perumahan daripada di Kampung yang Isinya Flexing dan Rasan-rasan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan