ADVERTISEMENT

Sisi Lain Audisi Umum PB Djarum 2026: Bulutangkis Jadi ‘Terapi’ agar Anak Tak Kecanduan Gawai

Audisi Umum PB Djarum 2026

Di tengah ribuan anak yang datang membawa raket ke GOR Djarum Jati, Kudus, dalam perhelatan Audisi Umum PB Djarum ada orang tua yang sebenarnya tidak sedang mengejar medali. Tapi menjadi terapi agar anak tidak kecanduan gawai.

***

Nur Rohman (38), warga Boyolali, Jawa Tengah, datang mengantarkan anaknya, Raka (11), mengikuti Audisi Umum PB Djarum 2026. Ini menjadi pengalaman pertama Raka mengikuti audisi tersebut. Ketika Mojok temui di sekitar GOR Jati, Rohman sedang menunggu anaknya bertanding.

Obrolan kami awalnya biasa saja. Sampai kami bertanya alasan ia meminta Raka serius berlatih bulutangkis. Jawabannya justru membawa pembicaraan ke persoalan yang semakin akrab dengan anak-anak seusia Raka: gawai.

“Bulutangkis adalah sesi terapi yang saya lakukan agar anak saya tidak kecanduan game online,” kata Rohman kepada Mojok, Sabtu (12/09/2026).

Kalimat itu terdengar berbeda dari alasan orang tua peserta audisi pada umumnya. Di tempat ini, anak-anak datang untuk mengejar kesempatan menjadi atlet. Bagi Rohman, bulutangkis sekaligus menjadi cara agar anaknya tidak terlalu dekat dengan game online.

Audisi Umum PB Djarum 2026
GOR Djarum Jati Kudus (Janu Wisnanto/Mojok.co)

Audisi Umum PB Djarum 2026 dan 1.601 anak yang bertanding

Audisi Umum PB Djarum 2026 di Kudus berlangsung di GOR Djarum, Jati, pada 9-13 September 2026. Sebanyak 1.601 peserta dari berbagai daerah, mulai Sumatra hingga Papua, mengikuti seleksi dalam kategori U-11, KU-11, dan KU-12 putra maupun putri. Kudus menjadi kota ketiga setelah Pekanbaru dan Makassar.

Sehari setelah screening, 576 atlet dinyatakan lolos dan melanjutkan ke tahap turnamen. Persaingan bukan hanya soal kemampuan memukul kok. Tim pencari bakat juga melihat karakter dan sikap atlet ketika berada di lapangan. Di tengah proses pencarian bibit itu, persoalan gawai ternyata ikut muncul.

Rohman tidak memberikan Raka HP pribadi. Jika anaknya membutuhkan gawai untuk sesuatu, penggunaan dilakukan dengan pengawasan dirinya atau istrinya. Durasi penggunaannya pun dibatasi, maksimal sekitar 30 menit.

“Kalau tidak diawasi, ya bisa keterusan, jadi repot,” ujarnya.

Bagi Rohman, membatasi gawai bukan berarti melarang anak mengenal teknologi. Ia hanya tidak ingin game online mengambil terlalu banyak perhatian anaknya.

Pelatih membatasi gawai untuk anak asrama

Hal serupa juga dilakukan Husein (21), salah satu pelatih PB Champion Kebumen. Husein datang ke Kudus membawa tujuh atlet. Dua di antaranya sudah terhenti dan kini ia menggantungkan harapan kepada lima atlet yang masih bertahan.

Di PB Champion, atlet yang tinggal di asrama memiliki rutinitas yang ketat. Latihan dilakukan pagi dan sore hampir setiap hari. Kamis menjadi satu-satunya hari libur latihan. Namun, ada satu aturan lain yang tidak kalah ketat: penggunaan HP. Anak-anak di asrama hanya diperbolehkan memegang HP pada Kamis. Itu pun pada pukul 09.00-12.00 dan malam pukul 19.00-19.25.

Saya kemudian bertanya kepada Husein, mengapa aturan itu dibuat sedemikian ketat.

“HP itu distraksi yang besar,” jawabnya.

Menurut Husein, atlet muda membutuhkan fokus untuk menjalani latihan fisik, menjaga stamina, sekaligus mempertajam konsentrasi ketika bertanding. Penggunaan gawai yang tidak terkontrol dikhawatirkan membuat perhatian mereka terpecah.

Bagi anak-anak yang sedang menjalani pembinaan sebagai atlet, fokus bukan perkara kecil. Mereka harus belajar bahwa ada waktu untuk berlatih, beristirahat, belajar, dan menggunakan gawai.

Husein punya contoh konkret soal bagaimana gawai bisa ikut mengganggu konsentrasi atlet. Ia bercerita tentang Kiara (11), salah satu anak didiknya yang gagal melaju ke babak berikutnya. Permainan Kiara sebenarnya tidak buruk. Hanya saja, menurut Husein, pola permainannya mulai mudah ditebak lawan.

“Kalau fokusnya sudah terbagi, itu kelihatan banget waktu main,” kata Husein.

Persoalannya bukan sekadar anak bermain game. Gawai sudah menjadi bagian dari kebutuhan sekolah, komunikasi, sekaligus hiburan. Karena itu, bagi Husein, solusi paling realistis bukan sekadar menyita HP. Anak-anak perlu dibiasakan menjalani aktivitas tanpa gawai. Ketika atlet mulai bosan atau jenuh, ia memilih mengajak mereka berenang, jalan-jalan, atau sekadar melakukan kegiatan bersama tanpa membawa HP.

Audisi Umum PB Djarum 2026
Husein, salah satu pelatih di Audisi Umum PB Djarum 2026 (Janu Wisnanto/Mojok.co)

Audisi Umum PB Djarum 2026 Mengajarkan Pelatih Ikut Menjauh dari HP

Ada satu hal yang menarik dari aturan di PB Champion. Larangan penggunaan HP tidak hanya berlaku kepada anak-anak. Husein dan para pelatih juga berusaha membatasi diri. Pernah suatu ketika Husein sedang bermain HP. Seorang anak didiknya justru menegur.

“Coach Husein kok main HP sih, kan nggak boleh?”

Husein tertawa ketika menceritakan kejadian itu kepada kami. Teguran tersebut menjadi pengingat bahwa anak-anak tidak hanya mendengar aturan. Mereka memperhatikan perilaku orang dewasa di sekitarnya. Maka, pembatasan gawai di asrama pada akhirnya bukan hanya soal membuat anak berhenti bermain HP. Pelatih juga harus memberi contoh.

Audisi Umum PB Djarum 2026, bukan sekadar mencari juara

Rohman dan Husein datang dari posisi berbeda. Rohman adalah orang tua yang menggunakan bulutangkis sebagai jalan keluar dari kekhawatiran terhadap game online. Husein adalah pelatih yang harus memastikan anak-anak binaannya tetap fokus mengejar kemampuan sebagai atlet. Namun, keduanya bertemu pada persoalan yang sama: bagaimana membuat anak tidak sepenuhnya dikendalikan layar.

Audisi Umum PB Djarum 2026 memang sedang mencari calon atlet. Namun, proses menuju ke sana tidak hanya berlangsung selama pertandingan di lapangan. Ada kebiasaan yang dibentuk setiap hari. 

Rohman mungkin belum tahu sejauh mana Raka akan melangkah dalam audisi pertamanya. Husein juga masih harus menunggu bagaimana nasib lima atlet PB Champion yang dibawanya ke Kudus. Dalam pembinaan atlet usia muda hari ini, lawan yang harus dikalahkan tidak selalu berdiri di seberang net. Kadang-kadang, lawan itu justru berada di dalam genggaman tangan sendiri.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Di Sudut Musala Kecil, Ada Doa dan Kebesaran Hati Orang Tua untuk Impian Anak di PB Djarum 2026 atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 12 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.