Musala di salah satu sudut GOR Jati Kudus tampak kecil belaka. Namun, di dalamnya, harapan-harapan besar tengah digantungkan oleh mereka yang datang dari jauh demi Audisi Umum PB Djarum 2026.
***
Selepas azan Magrib berkumandang, menjadi tanda bagi Parman (40-an) untuk menarik diri dari hiruk-pikuk GOR Jati Kudus. Ia melangkah menuju musala kecil yang berada di salah satu sudut GOR Jati. Mengambil wudu, menunaikan salat, lalu duduk sejenak menengadahkan tangan—melangitkan doa-doa.
“Anak didik saya sudah gugur satu, ini tinggal dua yang masih berjuang,” ujarnya saat kami akhirnya berbincang tidak jauh dari musala, Jumat (11/9/2026) petang.
Parman adalah seorang pelatih asal Purworejo, Jawa Tengah. Tiba di Kudus sejak Selasa (8/9/2026), ia mengantar tiga anak didiknya yang ingin menembus Audisi Umum PB Djarum 2026 edisi Kudus.
“Menempuh perjalanan 4 jam-an dari Purworejo. Saya ikut rombongan orang tua anak didik,” ungkapnya. Bagi anak-anak daerah yang menggilai bulu tangkis, PB Djarum bukanlah kompetisi biasa, tetapi gerbang pertama untuk menjadi atlet profesional yang kelak bakal tampil di panggung nasional bahkan internasional.

Bukan anak kandung, tapi doa tulus tetap harus dilangitkan
Anak kandung Parman memang tidak ikut dalam gelaran Audisi Umum PB Djarum 2026. Ia datang murni sebagai pelatih. Tidak seperti beberapa pelatih yang ia temui, yang datang selain mengantar anak didik tapi juga untuk mengantar anak kandung “bertarung” merebutkan Super Tiket.
“Kalau anak saya sendiri memang belum didorong ke bulu tangkis,” akunya.
Meski begitu, sebagai pelatih, ia merasa punya ikatan emosional dengan anak didiknya. Ia tentu akan sangat bangga jika anak-anak didiknya bisa meniti jalan mimpi mereka.
Oleh karena itu, momen salat lima waktu, bagi Parman, tidak hanya menjadi waktu untuk memenuhi kewajiban sebagai Muslim. Tapi juga menjadi ruang khusus untuk melangitkan doa dan harapan besar agar anak-anak didiknya bisa meraih hasil terbaik.
“Pasti lah mendoakan. Bagaimana pun orang tua mereka menitipkan ke saya. Kewajiban saya adalah melatih mereka dengan baik, memberikan dukungan moral, dan tidak kalah penting adalah dukungan spiritual (lewat doa),” ujar Parman dengan senyum teduh.

Hasil perjuangan keras dan pasrah pertolongan Tuhan
Parman bercerita, salah satu titik lemah anak didiknya adalah sering blank di poin-poin krusial. Bisa unggul lebih awal, tapi ketika mendekati akhir, tiba-tiba buang-buang peluang hingga poinnya terkejar lawan.
Kalau sudah begitu, ia hanya bisa mendorong anak didiknya agar kembali fokus dan tentu saja memohon pertolongan Tuhan.
Dan pada akhirnya, dalam keyakinan Parman, perjuangan keras sekaligus pertolongan Tuhan memang nyata adanya. Dua anak didiknya bisa melaju ke babak berikutnya.
“Satu sudah gugur. Harapannya yang dua bisa lolos audisi. Tapi kita kembalikan, kalau belum lolos berarti latihannya harus lebih keras lagi. Barangkali juga rezekinya belum di tahun ini, semoga Tuhan masih memberi kesempatan di edisi berikutnya,” beber Parman.
Doa, dukungan, dan kebesaran hati seorang ibu
Musala di sudut GOR Jati Kudus itu juga menjadi tempat melangitkan doa oleh para ibu yang sejak hari pertama mendampingi anak-anak mereka di Audisi Umum PB Djarum 2026.
Saya sempat berbincang dengan rombongan ibu-ibu selepas mereka menunaikan salat Magrib petang itu. Ada yang semringah karena anaknya terus melaju, ada juga yang menunjukkan sikap bijak usai langkah sang anak terhenti.
Tiga ibu-ibu yang saya ajak berbincang itu mengaku memang tidak begitu paham bulu tangkis. Selama ini mereka memasrahkan sang anak ke pelatih. Yang mereka tahu, Audisi Umum PB Djarum 2026 pasti menyajikan persaingan ketat.
Tahun ini, ada 1.601 peserta dari berbagai daerah yang bersaing untuk memperebutkan Super Tiket. Setiap peserta datang dengan tekad kuat dan tentu skill yang sudah diasah. Sehingga persaingan menembus Audisi Umum PB Djarum 2026 edisi Kudus pun tidak serta-merta mudah.
“Tiap sehabis sala, pasti menyelipkan doa buat anak. Anak punya mimpi, sebagai ibu harus dukung dan mendoakan, kalau memang mimpinya adalah yang terbaik buat anak,” ucap satu dari tiga ibu-ibu tersebut.
“Tapi kalau anak gagal, ya nggak kecewa. Justru ibu, atau orang tua, harus memeluk, membesarkan hati anak. Jangan sampai mereka merasa gagal, jalannya masih panjang. Karena masih panjang, harus latihan lebih keras lagi,” sambungnya, sekaligus mengakhiri obrolan kami yang tidak bisa berlangsung panjang.
Audisi Umum PB Djarum 2026 edisi Kudus memang penuh persaingan sengit
Persaingan sengit di Audisi Umum PB Djarum 2026 memang terlihat baik sektor putra maupun putri. Hal itu diungkapkan oleh jajaran Tim Pencari Bakat.
Legenda PB Djarum sekaligus Tim Pencari Bakat Audisi Umum PB Djarum 2026, Aryono Miranat menyebut, di sektor putra persaingan sengit terjadi karena para pebulutangkis muda menunjukkan kualitas teknis yang merata.
Sementara di sektor putri, Tim Pencari Bakat Tim Pencari Bakat, Yuni Kartika, menilai bahwa bakat-bakat putri yang muncul di Audisi Umum PB Djarum 2026 edisi Kudus kali ini memperlihatkan level kualitas yang cukup menjanjikan.
Namun, aspek teknis memang tidak menjadi satu-satunya variabel yang dilirik oleh Tim Pencari Bakat. “Attitude juga penting seperti bagaimana menyikapi hasil, misalnya banting raket atau meledek lawan, dan lainnya. Semoga kami bisa memantau bibit dan talenta terbaik,” ucap Aryono saat ditemui, Jumat (11/9/2026).

Mereka yang datang dengan kekuatan lebih besar
Audisi Umum PB Djarum 2026 edisi Kudus juga menjadi ajang bagi para atlet bulu tangkis muda yang pernah gagal, tapi kembali datang dengan membawa tekad dan kekuatan yang lebih besar.
Farnas Rozan Iraqee, atlet bulu tangkis berusia 12 tahun asal Sampang, Madura, Jawa Timur. Tahun ini menjadi kali keempat Farnas mengikuti Audisi Umum PB Djarum.
Ia mengikuti Audisi Umum PB Djarum sejak 2023, kemudian berlanjut pada 2024 dan 2025. Namun, langkahnya belum pernah sampai ke karantina maupun mendapatkan Super Tiket.

Tahun ini, Farnas kembali dengan persiapan lebih matang. Karena ia ingin menyusul langkah atlet bulu tangkis asal Madura yang menjadi inspirasinya: Zaki Ubaidillah.
“Aku mau masuk PB Djarum supaya bisa berprestasi dan membanggakan orang tua. Sebagai persiapan audisi, aku fokus latihan selama seminggu,” ujarnya.
“Setelah latihan rasanya kayak ada aura juaranya dan tambah semangat. Orang tua saya bilang harus semangat dan memaksimalkan kesempatan audisi terakhir ini untuk masuk karantina PB Djarum. Meski persaingannya ketat, tahun ini harus berani, harus bisa menang,” begitu tekad Farnas, juga tekad para atlet bulu tangkis muda lain yang tengah unjuk kemampuan di GOR Jati Kudus.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kakek Usia 71 Tahun Nyetir Sendiri dari Madura-Kudus, Ikhlas Antar Anak Didik Mengejar Mimpi di PB Djarum atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan