Tanpa ada pembahasan apapun, Eki*(24) tiba-tiba nyeletuk ke ibunya. Dia bilang, nanti ingin menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) saja tanpa acara yang meriah. Mendengar pernyataan dari anaknya yang Gen Z itu, ibu Eki terdiam sebentar.
Namun, diamnya ibu Eki bukan karena lega. Diam itu artinya, besok pagi akan ada huru-hara di rumahnya. Benar saja, keluarganya langsung mengadakan rapat di malam harinya. Seluruh saudara Eki terpantau sudah kumpul di ruang tamu pukul 20.00 WIB.
“Tanteku langsung membuka obrolan dengan pertanyaan, ‘nanti bagaimana kata orang?’,” cerita Eki saat dikonfirmasi Mojok, Selasa (19/5/2026)
Eki pun hanya diam. Dia belum menyiapkan jawaban. Bingung harus merespons bagaimana, sekaligus bingung dengan pertanyaan tantenya.
“Orang-orang yang dimaksud tante ini, bukankah mereka nggak bakal hidup bareng aku nantinya?,” kata Eki.
Biaya yang dibutuhkan untuk menikah
Namun, pertanyaan dari tantenya itu hanyalah permulaan. Pembahasan berlanjut dengan nostalgia acara pernikahan keluarga sepupunya dulu di grup WhatsApp keluarga. Salah satu sepupu Eki yang baru menikah pun membagikan fotonya.
“Dia nikah di ballroom dengan 300 tamu undangan. Dekorasinya putih menunjukkan kesederhanaan tapi berkesan. Kalau ditotal, biaya nikahannya ada sampai Rp150 juta. Dari situ aku sadar, oh makanya pas aku bilang mau nikah di KUA kesannya seperti penghinaan,” tutur Eki.
Di hari berikutnya, tantenya membagikan sebuah artikel berjudul “Segini Biaya Nikah yang Ideal di 2025”. Dalam artikel itu, setidaknya Eki hanya perlu budget Rp75 juta untuk acara yang terbilang sederhana.
Padahal, nikah di KUA biayanya bisa gratis. Jika akad dilakukan di kantor pada hari dan jam kerja, pengantin tak perlu bayar. Sementara, jika akad dilaksanakan di luar KUA atau di luar jam kerja (hari libur/akhir pekan), dikenakan biaya Rp600 ribu yang dibayar langsung ke kas negara.
“Terus dia lanjut bilang, ‘yang penting nabung dari sekarang ya, Nak’. Dan aku hanya diam,” kata Eki.
Eki bukannya benci pesta besar tapi melihat kondisi finansialnya, dia jadi sadar diri. Dengan gajinya yang hanya Rp3 juta, ia menghitung-hitung lagi pengeluarannya. Mulai dari cicilan yang belum lunas, uang makan, transfer bulanan ke rumah, dan tabungan yang masih nol. Bagaimana mau mengadakan acara besar?
“Aku mencoba berhitung. Artinya, aku harus menabung setidaknya 2 tahun lebih. Nah, itu kalau aku rutin menabung full Rp3 juta per bulan sedangkan aku masih harus bayar kos, kuota, dan kasih kiriman ke orang rumah. Terus budaya kita bilang, ‘yang penting niat, pasti ada jalan’. Nah, jalannya lewat mana? Kalkulatorku nggak nemu,” keluh Eki.
Dilarang nikah di KUA hanya karena gengsi
Namun, masalah yang bikin Eki gusar sebenarnya bukan karena protes dari keluarganya, melainkan dirinya sendiri yang mulai memikirkan saran-saran tersebut. Apakah dengan menikah di KUA bikin niatnya tampak tidak serius?
“Di kepalaku cuma ada satu pertanyaan: ini soal pernikahan atau harus memenuhi gengsi siapa?,” kata Eki.
Beruntung, Eki berujung pada pemikiran bahwa dia bukannya tidak serius dalam hubungan. Dan acara sakral mestinya tidak dinilai dari berapa total pengeluaran dan jumlah tamu yang diundang.
“Aku cuma nggak mau memulai pernikahan dengan utang yang dibungkus bunga karangan,” tegas Eki.
Eki tak sendiri, survei dari Jakpat menunjukkan sebanyak 64 persen dari 907 responden anak muda yang masih lajang mengaku urusan keuangan menjadi tantangan utama dalam mempersiapkan pernikahan.
Kesiapan yang dibutuhkan selain materi
Guru Besar sekaligus dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Halim Purnomo menjelaskan generasi muda saat ini cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, termasuk mengakhiri masa lajang.
Selain karena aspek ekonomi dan karier, Halim menegaskan faktor psikologis juga memengaruhi alasan generasi muda menunda pernikahan. Laki-laki misalnya, harus siap dengan tekanan sosial karena perannya sebagai pencari nafkah utama nantinya.
Kekhawatiran tersebut, kata Halim, tak selalu buruk. Itu artinya, generasi muda ingin meminimalkan potensi masalah setelah menikah, seperti memastikan kebutuhan dasar mulai dari sandang, pangan, papan, hingga pendidikan anak di masa depan. Namun, Halim mengingatkan bahwa kesiapan tidak harus sempurna.
“Generasi muda perlu banyak berkonsultasi dengan orang yang lebih berpengalaman. Belajar tidak hanya dari bangku kuliah, tetapi juga dari pengalaman orang lain. Dengan berdiskusi dan memperoleh perspektif yang lebih luas, seseorang akan lebih mantap dalam mengambil keputusan,” ujar Halim.
“Menikah adalah ibadah sepanjang hayat yang melibatkan banyak pihak, sehingga keputusan itu harus diambil dengan kesiapan, bukan dengan ketakutan,” tegasnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
