Bulan Ramadan baru saja menyapa. Namun, bagi Danang (38), datangnya bulan puasa bukan sekadar urusan ibadah, tetapi juga persiapan mudik yang harus direncanakan secara matang.
Bagi kepala rumah tangga asal Sidoarjo ini, salah perhitungan berarti tidak bisa pulang di hari raya sekaligus kehilangan momentum fitri bersama keluarga besar.
“Kalau nggak disiapin jauh-jauh hari, bisa gagal mudik. Palingan pulang H+7 kayak tahun 2018 lalu, vibes-nya udah ilang,” kata lelaki yang bekerja di Jakarta ini, Minggu (15/2/2026).
Tahun ini, suasana terasa sedikit lebih menantang. Sebagai kepala keluarga dengan dua anak yang kini sudah duduk di bangku SMP dan SMA, Danang sadar bahwa keputusan memilih moda transportasi bukan lagi perkara mana yang paling cepat. Tetapi soal mana yang paling seimbang antara anggaran, kenyamanan, dan kebutuhan mobilitas di kampung halaman.
“15 tahun mudik, kami telah mencicipi semua cara buat mudik. Kereta, pesawat, sampai sekarang mutusin punya mobil.”
Pesawat menang soal kecepatan, tapi kalah telak di anggaran
Pikiran Danang melayang pada opsi pertama: pesawat terbang. Sepuluh tahun lalu, saat anak-anaknya masih kecil, pesawat adalah penyelamat mereka.
Hanya butuh waktu sekitar sembilan puluh menit dari Bandara Soekarno-Hatta untuk mendarat di Juanda. Tidak ada drama anak rewel karena kelelahan, dan mereka bisa sampai di rumah orang tua dalam kondisi masih segar bugar.
Namun, saat ia mengecek harga tiket untuk musim mudik akhir Februari 2026 ini, dahinya berkerut. Danang melihat angka-angka yang tidak masuk akal di aplikasi pemesanan.
Harga tiket maskapai layanan penuh (full service) rute Jakarta-Surabaya sudah menyentuh angka Rp2.350.000 per orang untuk keberangkatan mendekati hari raya. Bahkan maskapai bertarif rendah (LCC) pun tidak lagi bisa disebut murah, bertengger di kisaran Rp1.250.000 hingga Rp1.800.000.
“Empat orang, pulang-pergi, artinya minimal Rp14,8 juta,” kata dia. Angka itu setara dengan biaya pendidikan satu semester anak sulungnya di sekolah swasta ternama.
Belum lagi, ia teringat kerepotan tahun-tahun sebelumnya. Meskipun terbangnya singkat, total waktu “pintu ke pintu” tetap memakan waktu sekitar 5 hingga 6 jam, mulai dari perjalanan ke bandara dua jam sebelum berangkat, antrean bagasi, hingga perjalanan dari Juanda menuju rumahnya di daerah perbatasan Sidoarjo-Pasuruan yang kerap macet. Bagi Danang, pesawat memang tetap menang di kecepatan, tapi kalah telak di sisi anggaran.
Kereta api paling ideal, tapi tiket sudah ludes karena war
Pilihan cara mudik kedua jatuh pada kereta api. Ada semacam kerinduan emosional setiap kali Danang membayangkan perjalanan di atas rel. Anak-anaknya pun paling menyukai opsi ini karena mereka bisa bebas di gerbong.
Secara biaya, kereta api di tahun 2026 ini berada di titik tengah yang sangat menggoda. Harga tiket kelas ekonomi masih berada di angka Rp200 ribuan, sementara yang eksekutif berada di kisaran Rp600-800 ribuan. Artinya, budget Rp5 juta sudah cukup untuk tiket pulang pergi dia bersama keluarganya.
Namun, Danang tahu betul tantangannya. Memasuki pertengahan Februari ini, ia harus bersiap menghadapi war ticket. Tiket kereta api untuk tanggal favorit H-3 Lebaran biasanya ludes dalam hitungan detik setelah penjualan dibuka pukul 00.00 WIB melalui aplikasi KAI Access. Ada rasa cemas yang menghantui; jika ia gagal memenangkan tiket tersebut dalam hitungan detik, seluruh skenario mudiknya bisa berantakan.
“Kemarin ngecek ternyata tiket di hari yang kita rencanakan mudik sudah ludes des!,” kata dia. “Pakai kereta paling enak, tapi ya opsi ini udah nggak tersedia lagi.”
Mobil pribadi pilihan terbaik buat mudik membelah Jawa
Opsi terakhir adalah yang paling sering Danang ambil dalam lima tahun terakhir: membawa mobil sendiri melintasi Tol Trans Jawa. Bagi Danang, jalan tol yang kini sudah tersambung rapi sejauh 780 kilometer dari Jakarta hingga gerbang tol Sidoarjo adalah anugerah, sekaligus ujian kesabaran.
Ia mulai merinci data realitas tahun 2026 di bukunya. Mobil MPV keluarga miliknya rata-rata memiliki konsumsi bahan bakar 1 banding 12 kilometer saat dipacu di jalan tol dengan muatan penuh.
Artinya, untuk jarak tempuh pulang-pergi Jakarta-Sidoarjo sekitar 1.560 kilometer, Danang membutuhkan setidaknya 130 liter bensin. Dengan harga BBM non-subsidi di Februari 2026 yang berada di kisaran Rp14.200 per liter, ia harus menyiapkan dana bensin sebesar Rp1.846.000.
Variabel kedua yang ia tulis adalah tarif tol, yang ternyata mengalami penyesuaian di awal tahun 2026. Berdasarkan tabel tarif terbaru, akumulasi tarif tol dari Jakarta (GT Jakarta-Cikampek) hingga keluar di gerbang tol Sidoarjo mencapai sekitar Rp915.000 untuk sekali jalan. Artinya, saldo kartu elektronik yang harus disiapkan untuk pulang-pergi adalah Rp1.830.000.
“Bensin dan tol totalnya Rp3,7 juta,” kata dia. Jika ditambah biaya servis besar pra-mudik, ganti oli, dan pengecekan rem sebesar Rp1,2 juta, maka total biaya operasional mobil pribadinya hanya berkisar di angka Rp4,9 juta hingga Rp5 juta.
Selisih biaya yang mencapai hampir Rp10 juta dibandingkan jika naik pesawat menjadi alasan kuat mengapa opsi ini selalu ia ambil.
Keuntungan lainnya tentu saja fleksibilitas. Sesampainya di Sidoarjo, mobil itu akan siap sedia di depan rumah untuk mengantar mereka berkeliling ke rumah kerabat tanpa perlu pusing memikirkan tarif taksi daring yang biasanya melonjak drastis saat hari raya.
Tips mudik aman dan nyaman menggunakan mobil
Namun, Danang tidak menutup mata pada risikonya. Sebagai sopir tunggal, ia harus menyiapkan fisik untuk duduk di belakang kemudi selama 10 hingga 14 jam, tergantung kepadatan arus.
Ia harus jeli memilih rest area untuk beristirahat, mengingat di musim mudik 2026 nanti, manajemen waktu di rest area akan sangat ketat untuk menghindari penumpukan kendaraan di bahu jalan tol.
Buat kalian yang sama seperti Danang, berikut ini tips mudik aman dan nyaman dengan mobil pribadi. Sebagaimana Mojok kutip dari berbagai sumber:
- Cek kondisi kendaraan secara menyeluruh
- Pastikan dokumen kendaraan lengkap
- Rencanakan rute dan waktu keberangkatan
- Siapkan kondisi fisik bagi pengemudi
- Bawa perlengkapan darurat seperti dongkrak, segitiga pengaman, dan senter, yang wajib tersedia di dalam mobil.
- Atur barang dan penumpang dengan aman
- Siapkan anggaran dan saldo elektronik
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Mudik Lebaran 2025 Terasa Aneh dan Berbeda: Penumpang Bus Sepi Hingga Pedagang Asongan Menghilang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














