Motor Honda Vario 125 yang dibeli kakak laki-laki Farel (16) awalnya ditujukan untuk mobilitasnya sekolah. Akan tetapi, motor tersebut terlalu menggoda untuk dibiarkan sebagaimana adanya—rasanya ada yang kurang kalau tidak jadi objek modifikasi.
Pada akhirnya begitu lah yang yang dilakukan Farel terhadap motor yang dibeli dari tabungan ibu dan kakaknya tersebut: dimodifikasi demi mengejar tren sinematik, dan justru berujung penyesalan mendalam.
Ibu dan kakak patungan untuk beli motor Honda Vario 125
Setiap ada keluhan soal motor—ganti oli kah, harus servis kah, atau lain-lain—kakak laki-laki Farel kini cenderung tidak peduli. Padahal dulu di masa-masa awal motor tersebut terbeli, kakak Farel pasti tanggap membawanya ke bengkel, dibereskan dengan uangnya sendiri.
Farel mengaku, suatu hari sang kakak sudah merasa jengah dengan ulahnya. Ibu Farel pun demikian. Pasalnya, kondisi motor yang semakin ke sini semakin mirip rongsokan sudah kepalang membuat keduanya kecewa.
“Motor Honda Vario 125 itu dibeli tahun 2022. Memang bekas, tapi masih bagus. Aku tahu, waktu itu ibu dan kakak patungan buat beli karena merasa kasihan karena di antara teman-teman sedesa dan sekolah, aku belum punya motor sendiri,” ujar siswa SMA asal Rembang, Jawa Tengah tersebut, Sabtu (6/6/2026).
Farel tahu persis kenapa sang ibu dan kakaknya harus patungan untuk membeli satu motor. Bapaknya sudah tidak ada. Alhasil, mau tidak mau butuh usaha dua orang untuk membeli sebuah motor, sekalipun sebuah motor bekas.
Godaan modifikasi motor Honda Vario 120 demi sinematik
Sebenarnya ibu dan kakak Farel sudah berpesan serius untuk merawat motor tersebut sebaik-baiknya, digunakan sebagaimana mestinya. Minimal tidak usah diotak-atik.
Kakak Farel sejak awal memang punya kekhawatiran tersebut. Sebab, di desa Farel sendiri memang banyak anak-anak SMA yang gemar modifikasi motor hingga nyaris kehilangan fungsi aslinya.
Hanya saja, untuk remaja labil seperti Farel (seperti yang ia akui sendiri), susah sekali untuk menghindari godaan tersebut. Apalagi, dalam sirkel pertemanannya, motor hasil modifikasi itu kemudian jadi semacam standar “kalcer”.
“Kebutuhannya ya buat konten sinematik,” kata Farel.
Satu persatu motor Honda Vario 125 Farel dimodifikasi. Awalnya sekadar mengganti lampu asli dengan lampu warna-warni. Kemudian beranjak ke spion, mengganti tulisan “Vario” timbul menjadi “Click” timbul, bodi dijadikan ceper sampai nyaris menyentuh tanah, knalpot brong, dan mengganti roda asli dengan roda kecil.
“Ada kepuasan. Motor jadi terlihat ganteng,” ujar Farel.
Jadi motor “sampah” dan jamet
Amarah dari sang kakak tidak terhindarkan. Sebenarnya sejak Farel mulai mengganti lampu asli dengan lampu warna-warni, kakak Farel sudah menunjukkan kesan geram.
Hanya saja, waktu itu sang kakak menoleransi: asal lampu saja, tidak merembet ke yang lain-lain. Tapi kenyataannya, modifikasi motor Honda Vario 125 tersebut sudah merembet ke mana-mana.
“Jawabanku pas dimarahi, ya namanya juga hobi,” ujar Farel. “Masa hobi dilarang-larang.”
Sudah. Di titik itu lah kakak Farel dan sang ibu sudah angkat tangan.
Awalnya, sikap “angkat tangan” keduanya dianggap Farel sebagai sebuah kesempatan, karena artinya sudah tidak ada lagi yang ngedumel-ngedumel tiap ia melakukan modifikasi-modifikasi baru.
Sampai akhirnya kini Farel menyadari, nafsu membongkar-bongkar motor tersebut ternyata berdampak fatal bagi kendaraannya tersebut.
“Ban kecil dan bodi ceper itu nggak cocok sama jalan desa yang nggak rata. Pasti gasruk. Akhirnya bagian bawah motorku pretel-pretel, lecet sana-sini,” jelas Farel.
Tidak hanya itu, menyusul kerusakan atau gangguan gangguan lain yang membuat motornya harus sering-sering masuk bengkel. Masalahnya, ia tidak bisa leluasa lagi minta uang ke kakak atau ibunya untuk membengkelkan si motor.
“Makan itu sinematik-sinematik. Motor baik-baik dijadikan sampah kok,” begitu gertak sang kakak.
“Kalau ke ibu aku masih bisa minta (uang) sebenarnya. Tapi ibu kan manut kakak,” ucap Farel.
Kini akhirnya tinggal sesal. Karena ketika melakukan PKL dan bergabung dengan sirkel lain, ternyata modifikasi motor menjadi sinematik tersebut diolok-olok “jamet”. Ah, sudah motor menjadi bobrok, dicap jamet pula. Sinematik ternyata hanya kepuasaan maya dan sesaat.
Penyesalan karena Honda Vario 125 seharusnya jadi motor andalan
Pernah terbersit keinginan untuk menjual motor yang sudah termodifikasi tersebut untuk kemudian membeli motor baru. Asumsi Farel harganya masih masuk akal.
Karena memang, salah satu alasan kenapa ia tergoda melakukan modifikasi adalah: katanya motor modifikasi itu punya daya tawar dan harga jual tinggi di kalangan pencinta motor modifikasi di Facebook.
“Bodoh sih itu. Yang mahal itu kalau modifikasi profesional. Kalau modifikasi kelas kampung, harganya malah ancur-ancuran di Facebook,” kata Farel.
Motor Honda Vario 125 benar-benar menjadi sampah. Dipakai sudah tidak enak sama sekali, harus sering-sering masuk bengkel, dijual pun seperti tidak ada harganya.
Kini hanya penyesalan yang tersisa. Sebab, Honda Vario pada dasarnya dikenal sebagai motor tangguh di jalan raya. Saudara-saudaranya kebanyakan menggunakan Honda Vario (baik 125 maupun 150).
Karena motor mereka masih sehat karena dirawat sedemikian rupa (tanpa modifikasi aneh-aneh nan ngawur), motor mereka masih bisa digunakan untuk mobilitas tinggi perjalanan lintas kota.
“Aku pernah sekali pakai motor modifku touring ke Pacitan. Benar-benar jadi motor payah. Nggak bisa kalau ketemu jalanan nggak datar, bobrok,” tutur Farel penuh sesal.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
