Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

ilustrasi - milenial ramaikan tagar #KaburAjaDulu. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Di antara fresh graduate yang menghadiri Job Fair Kota Yogyakarta 2026, beberapa milenial tampak memadati booth yang menawarkan kerja di luar negeri (LN). Mereka mengklaim, kerja di luar negeri lebih worth it dibandingkan kerja di Indonesia.

***

Lagu Sarjana Muda karya Iwan Fals mengalun sendu di Auditorium Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Kampus Yogyakarta pada Rabu (16/7/2026) siang. Di tengah Job Fair Kota Yogyakarta 2026 tersebut, tak sedikit job seeker yang duduk di hadapan panggung untuk mengistirahatkan kaki sejenak. Salah satunya milenial bernama Della*. 

Alih-alih sedih dengan lirik “engkau sarjana muda, resah tak dapat kerja,”, Della hanya menatap kosong ke depan panggung untuk mengistirahatkan badannya yang lelah, setelah berpindah dari satu booth ke booth lainnya.

Perempuan berusia 32 tahun itu mengaku tidak terlalu relate dengan lirik tersebut, karena masa-masa sulit mencari kerja setelah lulus sarjana sudah pernah dilaluinya. Hanya saja, begitu lirik “empat tahun lamanya, bergelut dengan buku, ‘tuk jaminan masa depan’,” berbunyi, Della langsung termenung.

Nekat bolos kerja demi ke Job Fair Kota Yogyakarta

Sebagai guru kontrak di salah satu sekolah di Jogja, Della paham betul rasanya bekerja tapi tidak digaji layak. Tugas bejibun mengurus siswa dan tuntutan besar mencerdaskan anak bangsa, nyatanya tak sebanding dengan kesejahteraan yang dia terima.

Dengan gaji tak sampai UMR Jogja, Della harus menekan biaya hidupnya sehari-hari. Beruntung, dia masih tidak ada tanggungan untuk membiayai keluarga. Meski begitu, Della merasa tidak cukup. Saat gajinya pas-pasan, harga kebutuhan pokok justru semakin meningkat. Di titik itulah Della merasa lelah.

“Kemarin sepulang mengajar aku ke sini tapi terlambat. Ternyata acaranya sudah selesai. Makanya, hari ini aku nekat bolos kerja demi datang ke job fair,” kata Della saat ditanya Mojok, Rabu (16/7/2026).

Melirik peluang kerja di luar negeri 

Informasi soal Job Fair Kota Yogyakarta 2026 sebelumnya dia dapat dari media sosial. Dari 3 ribu lowongan kerja lebih yang tersedia, ada beberapa booth yang paling menarik minatnya karena menawarkan kerja di luar negeri. 

“Kalau kerja di sini, aku nggak yakin dengan gaji yang diberikan, karena berdasarkan pengalamanku, rasanya tabungan terus habis walaupun sudah kerja selama ini,” ujar Della.

Para job seeker. MOJOK.CO
Para pencari kerja mengerubungi booth BP3MI di Job Fair Kota Yogyakarta 2026. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Selain itu, banyak lowongan kerja di Indonesia yang membatasi usia maksimal 30 sampai 35 tahun. Jadi kayak menutup kesempatan kami,” lanjutnya.

Della pun cukup lama nangkring di booth Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) untuk bertanya banyak hal. Sebab selama ini, dia mengaku awam dan belum punya banyak pengalaman.

“Ini pengalaman pertamaku langsung ke job fair, sebelumnya nggak pernah. Jujur agak menyesal, kenapa nggak dari dulu,” ucapnya.

Selama ini, Della hanya berkutat mencari kerja di media sosial atau dari mulut ke mulut. Namun, ada banyak berita job scam yang membuatnya gusar. Apalagi, pekerjaan impiannya ada di luar negeri yang punya risiko lebih besar.

Oleh karena itu, Della tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya untuk langsung bertanya, mulai dari modal yang harus dikumpulkan untuk pelatihan, sekaligus perusahaan mana saja yang terpercaya dan sudah bekerja sama dengan BP3MI.

Wujudkan mimpi yang tertunda, kerja di luar negeri

Selain Della, Nur Cholis (37) tak kalah antusias saat berada di booth BP3MI dan LPK yang ada di Job Fair Kota Yogyakarta 2026. Senada dengan Della, Cholis, sapaan akrabnya mengaku termotivasi kerja di luar negeri agar bisa menabung.

“Saya tuh punya tetangga yang sudah kerja di luar negeri, lumayan sukseslah hidupnya. Dia sempat kerja di sini, tapi terus balik lagi ke luar negeri. Mungkin karena tabungannya sudah habis,” kata Cholis terkekeh.

Nur Cholis (37) di Job Fair Kota Yogyakarta 2026. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Semasa duduk di bangku SMK, Cholis sebenarnya pernah dua kali mendaftar untuk magang ke luar negeri tapi gagal. Dia pun belum punya cukup modal untuk mengikuti pelatihan mandiri yang biayanya terbilang mahal.

“Sekarang saya jadi ingin lagi kerja di luar negeri, karena rasanya kok sudah lama bekerja tapi ekonomi terus pas-pasan,” ucap milenial itu.

Selama ini, Cholis sudah mencoba banyak pekerjaan. Mulai dari pegawai di perusahaan garmen, otomotif, cuci motor, hingga sekarang freelance di service panggilan. Bahkan, 4 tahunnya pernah dia habiskan di Jakarta sebagai kota dengan Upah Minimum Provinsi (UMP) tertinggi di Indonesia. Meski begitu, gajinya selalu numpang lewat.

“Rasanya cuma buat hidup di hari ini dan hanya cukup untuk diri sendiri. Saya juga ingin sekali-kali bisa belikan hadiah untuk keponakan,” ujar Cholis.

Muak dengan gaji mungil Yogyakarta

Nur Cholis pun tak menampik, mencari kerja di Indonesia tidaklah mudah apalagi di usianya yang hampir menginjak kepala 4. Selain harus bersaing dengan fresh graduate, dia juga harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. 

“Pengalaman saya yang sudah bertahun-tahun kerja sepertinya tidak terlalu menarik HR. Walaupun peluangnya mungkin ada, tapi balik lagi, saya nggak bisa menabung,” kata Cholis.

Belakangan ini, jagat media sosial memang ramai dengan tagar #KaburAjaDulu. Tagar ini menjadi wadah bagi generasi muda termasuk milenial dan Gen Z untuk meluapkan keresahan mereka tentang susahnya bertahan hidup secara finansial di Indonesia.

Salah satu alasannya seperti yang dirasakan Nur Cholis dan Della: gaji selalu habis dan tidak bisa menabung, walaupun sudah bekerja mati-matian. Tak pelak, kedua milenial itu tergiur untuk kerja di luar negeri.

Namun, baik Nur Cholis maupun Della menegaskan, setelah diterima kerja di luar negeri dan berhasil mengumpulkan banyak uang, mereka bakal kembali ke Indonesia. Sebab bagaimanapun, keduanya tak bisa lama-lama jauh dari keluarga.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version