Menjalankan bisnis orang tua adalah mimpi banyak anak muda di ekonomi yang sekarang. Padahal meneruskan warisan orang tua itu tidak hanya melulu enaknya saja, ada sepaket beban kerja dan tumpukan hutang orang tua yang ikut diwariskan.
***
Menjadi anak pemilik bisnis besar merupakan jalan pintas menuju kehidupan yang mapan. Setelah lulus kuliah, tak perlu repot melamar kerja ke sana kemari. Tinggal pulang, duduk di kursi bos, lalu meneruskan usaha keluarga. Namun, anggapan itu tak sepenuhnya berlaku bagi Akmal (25), pemuda asal Jambi yang kini mengurus toko plastik milik orang tuanya.
Di Batang Hari, Jambi, toko keluarganya terkenal sebagai salah satu toko plastik besar yang menjadi jujukan pelanggan. Dari luar, Akmal terlihat beruntung karena bisa langsung mengembangkan bisnis keluarga selepas kuliah. Namun, ada persoalan yang tak terlihat oleh banyak orang: utang orang tuanya mencapai miliaran rupiah, sementara ia harus mengurus banyak pekerjaan dengan bantuan satu karyawan.
“Orang cuma bisa ngira, Mas, tapi nggak tahu kondisi internal di dalamnya. Bayangin, Mas, anak lanjutin bisnis ortu, tapi ortunya punya utang miliaran,” ujar Akmal kepada saya, Kamis (22/10/2026).
Bagi Akmal, meneruskan bisnis orang tua bukan sekadar menerima warisan usaha. Ia juga harus belajar mengelola toko, mencari pelanggan, mengerjakan pekerjaan operasional, dan memikirkan keberlangsungan bisnis yang sudah menghidupi keluarganya selama puluhan tahun.
Bisnis orang tua bukan tiket gratis menuju hidup enak
Akmal sebenarnya punya pilihan selepas lulus kuliah. Ibunya membebaskan dia mencari pekerjaan di tempat lain sebelum memutuskan masa depannya. Namun, ia memilih pulang ke Jambi dan membantu mengembangkan usaha keluarga.
Keputusan itu bukan semata-mata karena ia anak laki-laki satu-satunya. Ada perasaan berutang budi kepada orang tua yang selama ini membiayai hidup dan pendidikannya.
“Karena ada rasa utang budi aja, Mas. Toko plastik ini yang bikin saya bisa kuliah dan hidup sampai sekarang. Pas saya udah lulus, masa nggak mau ngelola toko ini,” katanya melalui WhatsApp.
Sebelum mengambil keputusan, Akmal meminta masukan dari abang sepupu, om, dan tantenya yang sudah puluhan tahun menjalankan bisnis sepatu. Mereka menyarankan Akmal meneruskan usaha keluarga sebagai bentuk bakti kepada orang tua.
Akmal akhirnya mengambil tanggung jawab itu. Ia tahu toko tersebut bukan usaha yang baru kemarin sore berdiri. Orang tuanya sudah merintis bisnis itu selama sekitar 20 tahun.
Masalahnya, meneruskan bisnis keluarga tak selalu berarti menerima perusahaan dalam keadaan sehat. Ada usaha yang sudah punya pelanggan, pemasok, dan nama besar, tetapi penerusnya juga harus menghadapi persoalan keuangan yang menumpuk.
Bagi Akmal, rasa terima kasih kepada orang tua menjadi salah satu alasan untuk bertahan. Namun, rasa terima kasih itu tak serta-merta menghilangkan beban yang harus ia hadapi setiap hari.
Dari anak kuliahan menjadi kasir, kuli angkut, sampai kurir
Ketika Akmal mulai terlibat dalam usaha keluarga, toko mereka sedang menghadapi perubahan lokasi dan kebiasaan pelanggan. Toko sebelumnya berada di kawasan pasar induk di Batang Hari. Namun, menurut pengamatannya, setelah 2023 kawasan tersebut semakin sepi karena banyak pelanggan memilih berbelanja di toko pinggir jalan.
Orang tua Akmal kemudian membuka toko di lokasi baru pada Februari 2024. Akmal ikut mengembangkan usaha tersebut dan melihat peluang dari perubahan kebiasaan belanja masyarakat.
Ia bahkan memanfaatkan kebiasaan sederhana ketika pergi ke kafe. Alih-alih sekadar memesan kopi dan mengobrol, Akmal memperhatikan barang-barang yang digunakan tempat tersebut. Ia mencari tahu produk apa yang bisa ia pasok dari tokonya. Upaya itu membuahkan hasil. Sejumlah kafe mulai menjadi pelanggan tetap untuk kebutuhan bahan baku, seperti sirup, bubuk minuman, dan susu UHT.
Akmal menawarkan kemudahan kepada pelanggan yang sebelumnya harus menempuh perjalanan sekitar satu jam menuju Kota Jambi untuk membeli barang serupa. Menurutnya, pelanggan bisa mendapatkan harga yang setara tanpa perlu menanggung tambahan waktu dan ongkos perjalanan.
Ia mengaku omzet toko terus meningkat sejak pembukaan lokasi baru. Namun, pertumbuhan bisnis itu juga menuntut keterlibatan langsung dirinya dalam pekerjaan sehari-hari.
“Capek, Mas. Karyawan kami baru satu, jadi kadang semua pekerjaan juga saya garap. Ya jadi kasir, bongkar muat barang di gudang, sampai nganter barang panas-panas juga saya lakukan,” ujarnya.
Di toko itu, Akmal tak hanya bertugas mengambil keputusan atau memeriksa penjualan. Ia juga turun langsung mengerjakan pekerjaan yang mungkin tak pernah dibayangkan orang ketika mendengar sebutan “anak bos”.
Utang miliaran rupiah yang tak terlihat oleh pelanggan
Ada alasan lain mengapa Akmal merasa kehidupan sebagai penerus bisnis keluarga tak sesederhana yang orang bayangkan. Orang-orang melihat toko besar, pelanggan yang datang, dan omzet yang berkembang. Mereka tak selalu tahu persoalan keuangan yang harus dihadapi keluarga di belakangnya.
Akmal menyebut orang tuanya memiliki utang hingga miliaran rupiah. Kondisi itu membuat keberlangsungan bisnis menjadi sumber pikiran tersendiri baginya.
“Rasanya seperti disuruh maju perang. Memang sih kita disediakan perbekalan dan materi, cuma kita yang tidak siap dengan perang seperti itu ya kewalahan juga. Apalagi di bisnis ortu ini mereka punya utang miliaran, apa nggak pusing pala ku ini, Mas,” katanya.
Perumpamaan perang itu menggambarkan posisi Akmal: ia memiliki modal awal berupa usaha yang sudah berjalan, tetapi harus menghadapi persoalan yang tak sepenuhnya ia bangun sendiri.
Meski begitu, perlu dibedakan antara mengelola usaha keluarga yang memiliki utang dan menjadi pihak yang secara hukum wajib membayar utang tersebut. Keduanya tidak otomatis sama. Dalam cerita Akmal, yang jelas ialah persoalan keuangan orang tuanya ikut menjadi beban pikiran ketika ia berusaha menjaga bisnis tetap berjalan.
Situasi semacam ini memperlihatkan sisi lain suksesi bisnis keluarga. Penerus tak hanya mempelajari cara mencari keuntungan, tetapi juga harus memahami kondisi keuangan, kewajiban usaha, dan keputusan yang menentukan masa depan perusahaan.
Gen Z meneruskan bisnis keluarga di tengah ekonomi yang tak pasti
Cerita Akmal bukan berarti semua anak yang meneruskan usaha orang tua mengalami kesulitan serupa. Namun, peralihan kepemimpinan dalam bisnis keluarga memang menyimpan tantangan tersendiri.
PwC Indonesia dalam 2025 Global Family Business Survey mencatat bahwa 63 persen bisnis keluarga di Indonesia menganggap volatilitas ekonomi sebagai persoalan mendesak. Survei tersebut juga menemukan bahwa 43 persen responden dari generasi penerus menghadapi resistensi dari pemimpin senior dalam proses transisi kepemimpinan.
Temuan itu menunjukkan bahwa meneruskan bisnis keluarga bukan perkara sederhana. Penerus perlu beradaptasi dengan perubahan pasar, memahami cara kerja generasi sebelumnya, sekaligus membangun kemampuan mengambil keputusan sendiri.
Akmal menjalani sebagian proses itu dengan mencari pelanggan baru dan mengamati kebutuhan usaha di sekitarnya. Ia tak sekadar mengandalkan nama besar toko keluarga, tetapi juga berusaha membuat pelanggan punya alasan untuk terus berbelanja di sana.
Meski begitu, pertumbuhan omzet belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh persoalan bisnis sudah beres. Usaha tetap harus menanggung biaya operasional, memenuhi kebutuhan stok, membayar tenaga kerja, dan mengelola kewajiban keuangan.
Di sinilah anggapan bahwa anak pemilik bisnis pasti hidup enak perlu diperiksa kembali. Punya akses terhadap usaha keluarga memang memberikan keuntungan yang tidak dimiliki semua anak muda. Namun, keuntungan itu tidak otomatis menjamin kebebasan finansial, apalagi ketika usaha menghadapi persoalan utang.
Bersyukur meneruskan warisan, tetapi tetap bisa mengeluh juga
Akmal tak menampik bahwa dirinya bersyukur bisa meneruskan bisnis orang tua. Ia memiliki kesempatan mengembangkan usaha yang telah dirintis selama puluhan tahun, sekaligus membalas dukungan keluarga yang membiayai pendidikannya.
Namun, rasa syukur tak membuat semua pekerjaan terasa ringan. Ia tetap harus mengurus pelanggan, mengangkat barang, mengantarkan pesanan, dan memikirkan persoalan keuangan keluarga.
Akmal juga memahami bahwa orang luar mungkin hanya melihat hasil akhirnya: seorang anak muda yang selepas kuliah langsung memegang toko besar. Padahal, di balik kesempatan itu ada tanggung jawab yang tidak sederhana.
“Ya, aku bersyukur sih, Mas, bisa melanjutkan bisnis ortu ini. Cuma in this economy, siapa pelaku usaha yang nggak mengeluh? Aku kira nggak ada, semua ngeluh sih,” tuturnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menggambarkan posisi Akmal saat ini. Ia tak sedang mengeluh karena harus bekerja, juga tak sedang menolak kesempatan yang diberikan orang tuanya. Ia hanya ingin orang lain memahami bahwa meneruskan bisnis keluarga bukan berarti hidup tanpa kesulitan.
Pada akhirnya, Akmal masih punya pekerjaan panjang untuk menjaga toko tetap berkembang. Ia harus mencari pelanggan, merawat kepercayaan pembeli, dan belajar menghadapi persoalan keuangan yang menyertai bisnis keluarganya.
Barangkali, menjadi penerus bisnis orang tua memang memberi seseorang bekal yang lebih banyak dibandingkan mereka yang memulai dari nol. Namun, bekal itu bukan jaminan perjalanan akan selalu mulus. Bagi Akmal, toko yang tampak menjanjikan dari luar tetap menyimpan pekerjaan berat dan persoalan yang tak bisa selesai hanya dengan menyandang status “anak bos”.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Buka Bisnis Bersama Pasangan: Dianggap Mesra, tetapi Sebenarnya Merepotkan! atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan