ADVERTISEMENT

Buka Bisnis Bersama Pasangan: Dianggap Mesra, tetapi Sebenarnya Merepotkan!

Buka Bisnis Bersama Pasangan, Dicap Mesra Namun Merepotkan! MOJOK.CO

Bagi sebagian pasangan, menjalankan bisnis bersama pasangan terdengar romantis. Bisa bertemu setiap hari, berbagi tugas, membangun usaha dari nol, sampai menikmati hasilnya bersama. Namun, ada satu risiko yang kerap luput dari bayangan: bagaimana jika hubungan asmara berakhir, sementara bisnis masih harus berjalan?

***

ADVERTISEMENT

Irsyad (26), nama samaran, pernah merasakan manis dan repotnya membangun bisnis bersama pasangan. Bersama Firda (26), keduanya merintis kedai kopi pinggir jalan sekaligus jasa nail art di kawasan Lapangan Denggung, Sleman, pada akhir 2024. Dua tahun kemudian, bisnis mereka ikut tamat setelah hubungan asmara mereka kandas.

Belum dapat kerja, akhirnya buka bisnis bersama pasangan

Irsyad dan Firda memulai usaha bukan karena sudah lama bercita-cita menjadi pengusaha. Saat itu, mereka belum mendapatkan pekerjaan. Daripada terus menunggu lowongan, keduanya memilih memanfaatkan tabungan selama kuliah untuk membuka usaha sendiri.

“Kalau dulu awalnya kan melihat mau ngapain nih kalau nyari kerja aja sulit kan, terus akhirnya memutuskan buka bisnis aja berdua. Buka kedai kopi kecil sama pacarku bikin jasa nail art,” ujar Irsyad kepada saya melalui WhatsApp, Rabu (21/10/2026).

Mereka menyewa emper sebuah ruko di kawasan Lapangan Denggung. Lokasi pinggir jalan memungkinkan mereka menggabungkan kedai kopi dan jasa kecantikan tanpa harus menyewa dua tempat berbeda.

Pembagian tugasnya cukup jelas. Irsyad mengurus kopi, sedangkan Firda menangani nail art. Keduanya punya pekerjaan masing-masing, tetapi tetap menjalankan bisnis dalam satu tempat. Bagi anak muda yang belum memperoleh pekerjaan tetap, bisnis berdua menjadi jalan untuk mendapatkan penghasilan sekaligus menguji kemampuan. Masalahnya, modal tabungan tidak otomatis membuat usaha langsung menghasilkan uang.

Dari cuan Rp1 juta menjadi Rp4 juta dalam sebulan

Tahun pertama menjadi masa paling berat bagi mereka. Pelanggan belum ramai, sedangkan mereka harus belajar mengelola usaha sekaligus mempertahankan penghasilan. Namun, tren nongkrong di pinggir jalan memberi peluang bagi kedai mereka. Anak muda bisa menikmati kopi tanpa harus masuk ke kafe mahal. Sementara itu, jasa nail art menawarkan pengalaman berbeda bagi pelanggan yang ingin mempercantik kuku.

Keduanya juga saling melengkapi. Pelanggan yang datang untuk nail art bisa membeli kopi, begitu pula pengunjung kedai yang akhirnya mengenal jasa kecantikan Firda. Pada tahun pertama, usaha mereka menghasilkan sekitar Rp1 juta sebulan. Memasuki tahun kedua, jumlah uang yang mereka peroleh dari kedua usaha itu meningkat menjadi sekitar Rp4 juta per bulan.

Angka tersebut memang belum bisa disamakan dengan keuntungan bersih tanpa perhitungan biaya operasional. Namun, pertumbuhannya menunjukkan bahwa usaha kecil mereka mulai menemukan pelanggan.

ADVERTISEMENT

Peluang kedua bidang itu juga bukan tanpa dasar. Survei pola konsumsi kopi Indonesia yang diterbitkan GoodStats pada 2024 menunjukkan besarnya perhatian terhadap kebiasaan minum kopi, terutama di kalangan responden muda. Sementara itu, laporan pasar nail salon Indonesia dari 6Wresearch menyoroti pengaruh media sosial dan tren perawatan diri terhadap permintaan nail art. Artinya, mereka tidak sekadar mengandalkan hubungan asmara. Mereka juga menggabungkan dua layanan yang punya pasar sendiri.

Bisnis gen z yang terlihat romantis dari luar

Bagi pelanggan, kedai kopi sekaligus tempat nail art milik sepasang kekasih itu terlihat menggemaskan. Mereka bisa bekerja berdampingan, saling membantu, dan membangun sesuatu bersama. Irsyad tidak menampik kesan tersebut.

“Memang lucu dan menggemaskan kok, Mas, buka bisnis berdua itu, menjalani bisnis bareng-bareng. Padahal tidak ada yang tahu bahwa ada saja hal yang merepotkan,” katanya.

Di mata pelanggan, bekerja bersama pasangan mungkin terlihat seperti kencan yang menghasilkan uang. Padahal, bisnis menuntut keduanya membicarakan hal-hal yang tidak selalu romantis: pembagian tugas, pengeluaran, pemasukan, dan keputusan usaha.

Riset Susanto dan Widiasih dalam Journal of Psychological Perspective pada 2024 membahas dinamika kewirausahaan Generasi Z, termasuk peran pengalaman, kepercayaan diri, teknologi, dan dukungan lingkungan. Kisah Irsyad dan Firda memperlihatkan satu sisi lain yang perlu diperhitungkan ketika bisnis gen Z melibatkan pasangan: hubungan pribadi juga ikut masuk ke ruang kerja.

Apalagi, batas antara pacar dan rekan bisnis bisa menjadi kabur. Ketika salah satu kesal sebagai pasangan, urusan pekerjaan berpotensi ikut terganggu. Sebaliknya, persoalan bisnis bisa terbawa sampai ke hubungan pribadi.

Putus cinta, bisnis bersama pasangan ikut gulung tikar

Setelah mendengar bisnis mereka berkembang, saya penasaran mengapa usaha tersebut tidak berlanjut. Bukankah kedai kopi masih bisa berjalan meski jasa nail art berhenti? Jawaban Irsyad justru mengakhiri dugaan saya.

“Kami putus, Mas, makanya kopian sama nail art ikut gulung tikar,” ujarnya.

Ternyata, hubungan asmara yang berakhir turut mematikan dua usaha yang mereka bangun bersama. Kedai kopi tidak otomatis bisa bertahan hanya karena masih memiliki pelanggan.

Saya sempat bertanya mengapa Irsyad tidak meneruskan kedai kopi seorang diri. Jawaban mereka hampir seragam: malas melakukan rebranding dan menghadapi pertanyaan pelanggan tentang perpisahan mereka.

Nama usaha itu telanjur melekat pada keduanya. Melanjutkan bisnis berarti menghadapi kemungkinan pelanggan bertanya mengapa Firda tidak lagi ada di sana. Mereka memilih berhenti daripada mengurus perubahan usaha sekaligus menjawab rasa ingin tahu orang lain.

Keputusan tersebut tentu bukan satu-satunya pilihan. Mereka sebenarnya bisa memisahkan kepemilikan, mempertahankan merek, atau mengubah konsep usaha. Namun, pilihan yang masuk akal di atas kertas belum tentu terasa ringan bagi orang yang sedang menghadapi putus cinta.

Usaha bersama perlu rencana jika hubungan berakhir

Pengalaman Irsyad dan Firda bukan berarti bisnis bersama pasangan pasti gagal. Justru, usaha mereka sempat tumbuh dan membuktikan bahwa dua orang dengan keterampilan berbeda bisa membangun sumber penghasilan bersama. Namun, ada pelajaran yang sering terlupakan ketika pasangan memulai bisnis: hubungan asmara dan keberlangsungan usaha tidak seharusnya bergantung sepenuhnya satu sama lain.

Sejak awal, pasangan perlu membicarakan pembagian modal, kepemilikan aset, pencatatan keuangan, hingga kemungkinan salah satu orang ingin keluar dari bisnis. Kesepakatan itu mungkin terasa terlalu serius bagi pasangan yang sedang kasmaran. Namun, bisnis membutuhkan rencana yang tetap masuk akal ketika keadaan berubah.

Irsyad dan Firda pernah menikmati masa ketika usaha mereka berkembang dan pelanggan menganggap kebersamaan mereka romantis. Sayangnya, mereka tidak melanjutkan cerita bisnis itu setelah hubungan berakhir.

Membuka bisnis berdua memang bisa menjadi cara untuk tumbuh bersama pasangan. Namun, kalau seluruh usaha ikut berhenti ketika hubungan kandas, mungkin ada satu hal yang luput mereka bangun sejak awal: bisnis yang mampu berdiri sendiri, bahkan ketika cinta tidak lagi menjadi alasan untuk bertahan.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Jualan di Sekitar Rumah Sakit Benar-benar Menguntungkan, Bisnis Kecil-kecilan tapi Cuan Perbulan Jauh Melampaui UMR Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.