Momen lomba Agustusan di desa pada mulanya menjadi momen seru dan menyenangkan. Namun, paparan kreator konten dari media sosial membuat anak-anak muda desa membuat suasana Agustusan berubah menjadi toxic. Setidaknya begitu anggapan dari Hardi (27) dan Magfira (22), warga dari Jawa Timur yang pernah mengutarakan keresahan perihal karnaval sound horeg.
Desa keduanya di Jawa Timur memang bukan ndeso-ndeso amat. Bisa mengakses modernitas lah. Namun, subkultur dalam budaya modern itulah yang dirasa menggeser suasana desa, termasuk suasana saat lomba Agustusan.
Lomba Agustusan Mobile Legends (ML) bocil-bocil desa: dari seru berubah toxic
Modernitas dan laju digital membuat nyaris setiap bocil di desa Hardi sudah pegang hp sendiri. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya: kalau masih bocil, belum dibelikan hp oleh orang tua.
Keperluan para bocil terhadap para bocil yang paling utama adalah untuk main bareng (mabar) Mobile Legends. Dari situ kemudian tercetus lomba Agustusan ML antarbocil dalam beberapa tahun terakhir.
“Lomba ini awalnya seru. Tapi semakin ke sini, malah semakin toxic gara-gara paparan kreator konten di media sosial,” ungkap Hardi.
Misalnya dalam lomba Agustusan di tahun lalu: lomba mabar ML yang diisi oleh bocil dan remaja dipenuhi oleh umpatan-umpatan khas influencer Jakarta-an. Kata anjing, bangsat, tolol, ngentod, dan sejenisnya meluncur enteng dari mulut-mulut bocil-bocil desa.
Banyak orang menyebut, umpatan-umpatan tersebut bisa memberi sensasi keseruan tersendiri dalam mabar. Tetapi tidak bagi Hardi. Sebab, umpatan-umpatan tersebut kemudian justru memicu emosi antarbocil. Alhasil, lomba yang seharusnya berlangsung seru dan penuh canda, malah jadi pemantik permusuhan.
“Secara moral, banyak orang tua di desa yang tidak siap dengan itu. Karena di desa umpatan-umpatan yang keluar dari mulut para bocil itu bukan sebuah kepantasan,” bebernya.
Dugaan Hardi, referensi umpatan dari para bocil itu mereka dapat dari menonton live streaming influencer atau kreator konten Jakarta yang memang kerap main game sembari tidak henti-henti mengumpat.
Billiard itu adu pintar, bukan jual tubuh perempuan
Belakangan trend olahraga billiard juga tengah menggeliat di desa Hardi. Anak-anak muda desa hingga kalangan bapak-bapak cukup intens memainkan, sampai akhirnya dimasukkan ke dalam lomba Agustusan tahun ini yang sudah dimulai awal Agustus 2026 ini.
Trend billiard juga tidak lepas dari pengaruh konten-konten media sosial: banyak artis maupun kreator konten yang saat ini punya program khusus adu ketangkasan di meja billiard.
Masalahnya, kata Hardi, konten-konten yang dipertontonkan para kreator konten tersebut kerap kali tidak hanya soal kecermatan dalam membidik bola billiard, tapi juga menampilkan tubuh lawan jenis dengan penampilan seronok.
“Nah lomba billiard di desaku di desaku juga begitu. Kan antar-RT, mainnya di ada gudang desa gitu lah. Jadi selain menang-menangan di meja, yang dinilai juga seberapa riuh suporternya,” jelas Hardi.
Suporter yang dimaksud adalah: perempuan-perempuan muda desa yang berdandan seronok seperti yang kerap tampil di kanal-kanal media sosial kreator konten Jakarta. Jadi misalnya perwakilan RT 1 berhasil memasukkan bola dengan cara gokil, maka suporter dari RT 1 akan bersorak memberi dukungan.
“Kalau menurutku, nggak apa-apa seru-seruan suporter. Tapi kan nggak perlu dandan seronok juga untuk unjuk suporter mana paling seru,” sambung Hardi.
Lomba Agustusan joget TikTok di desa yang terkesan merendahkan perempuan
Kasus perempuan berdandan dan berpakaian seronok tidak hanya terjadi di desa Hardi. Di desa Magfira (22) pun sama halnya.
Sebelumnya, Magfira bercerita bagaimana karnaval sound horeg membuat perempuan-perempuan di desanya tidak malu berdandan ketat dan seksi, berias menor, dan sambil joget pargoy untuk mengiringi arak-arakan karnaval sound horeg.
Nah, sejak Agustusan tahun lalu dan masih diteruskan sampai sekarang, “joget-joget” ini dimasukkan ke dalam salah satu lomba Agustusan di desa.
“Sebenarnya cowok-cewek ada. Jadi ada lomba battle joget kayak Gunawan Sadbor yang ngamen online itu. Terus ada juga ya lomba pokoknya nunjukin kekompakan tim untuk joget-joget ala TikTok yang lagi trend. Yang jadi panitia dan juri ya anak-anak muda desa sendiri,” beber Magfira.
“Itu semua karena paparan TikTok. Kalau aku masih malu, kalau sekarang, aku melihatnya kayak derajat perempuan direndahkan di depan umum jadi hal wajar,” ungkapnya.
Bagaimana tidak. Dalam joget-joget pargoy ala TikTok itu, ada mata-mata laki-laki yang mengawasi lekat-lekat, bahkan memvideo. Masalahnya, anak-anak muda desa itu nyatanya tidak merasa terganggu. Karena memang menjadi trend masa kini.
Justru Magfira lah yang dianggap tidak gaul karena tidak seperti anak-anak muda kebanyakan yang selalu update dengan trend TikTok. “Padahal dulu itu ada yang lebih bermartabat: lomba nari. Itu lebih kalcer kalau menurutku,” kata Magfira.
Mukbang toxic geser keasyikan lomba masak
Mukbang (makan besar) menjadi salah satu yang dilombakan dalam momen lomba Agustusan di desa Magfira. Peserta harus makan olahan mie porsi kulia super pedas dengan durasi secepat-cepatnya. Siapa cepat habis, dialah pemenangnya.
Magfira berani memastikan, referensi mukbang tersebut jelas datang dari para kreator konten di media sosial. Lomba mukbang di desa Magfira menggeser lomba masak-masak kreatif dan enak yang sudah berjalan sebelum-sebelumnya.
“Dulu kan memang sempat ada masanya hype banget Masterchef. Jadi lombanya masak. Terus sekarang berubah jadi mukbang,” beber Magfira.
Lomba Mukbang tersebut terlalu toxic bagi Magfira karena sejumlah alasan:
- Makan besar dan terburu-buru tidak sejalan dengan etika orang desa.
- Tidak menyajikan kreativitas sebagaimana lomba memasak yang sudah berjalan sebelumnya. Padahal lomba memasak punya dua dimensi sekaligus: kreativitas dan jelas memberi keseruan karena format ala Masterchef: masak enak dalam waktu cepat.
- Mukbang makanan pedas dengan porsi besar pada akhirnya berujung toxic karena tidak setiap lidah dan lambung peserta tahan dengan makanan super pedas.
“Jadi setelah lomba ya ada yang jadi diare lah, perut sakit lah, muntah lah. Kan jadinya toxic ya. Kalau lomba makan kan, setelah masak-memasak, terus dinilai juri, habis itu makan bersama. Justru lebih gayeng,” pungkas Magfira.
Kreator konten, bagi Magfira, telah memberi paparan budaya baru bagi orang desa yang membuat suasana lomba Agustusan jadi tidak se-asyik sebelumnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Suasana KKN Tak Seindah Konten di TikTok: Banyak Drama Sesama Mahasiswa, hingga Tangis Palsu Saat Perpisahan dengan Warga Desa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
