Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Lomba Agustusan di Desa Jadi Toxic dan “Merusak” Anak Muda karena Terpapar Konten Kreator, Tidak Seasyik Dulu

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
8 Agustus 2026
A A
Lomba Agustusan di desa jadi toxic dan merusak moral anak muda gara-gara paparan kreator konten di media sosial MOJOK.CO

Ilustrasi - Lomba Agustusan di desa jadi toxic dan merusak moral anak muda gara-gara paparan kreator konten di media sosial. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Momen lomba Agustusan di desa pada mulanya menjadi momen seru dan menyenangkan. Namun, paparan kreator konten dari media sosial membuat anak-anak muda desa membuat suasana Agustusan berubah menjadi toxic. Setidaknya begitu anggapan dari Hardi (27) dan Magfira (22), warga dari Jawa Timur yang pernah mengutarakan keresahan perihal karnaval sound horeg. 

Desa keduanya di Jawa Timur memang bukan ndeso-ndeso amat. Bisa mengakses modernitas lah. Namun, subkultur dalam budaya modern itulah yang dirasa menggeser suasana desa, termasuk suasana saat lomba Agustusan. 

Lomba Agustusan Mobile Legends (ML) bocil-bocil desa: dari seru berubah toxic

Modernitas dan laju digital membuat nyaris setiap bocil di desa Hardi sudah pegang hp sendiri. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya: kalau masih bocil, belum dibelikan hp oleh orang tua. 

Keperluan para bocil terhadap para bocil yang paling utama adalah untuk main bareng (mabar) Mobile Legends. Dari situ kemudian tercetus lomba Agustusan ML antarbocil dalam beberapa tahun terakhir. 

“Lomba ini awalnya seru. Tapi semakin ke sini, malah semakin toxic gara-gara paparan kreator konten di media sosial,” ungkap Hardi. 

Misalnya dalam lomba Agustusan di tahun lalu: lomba mabar ML yang diisi oleh bocil dan remaja dipenuhi oleh umpatan-umpatan khas influencer Jakarta-an. Kata anjing, bangsat, tolol, ngentod, dan sejenisnya meluncur enteng dari mulut-mulut bocil-bocil desa. 

Banyak orang menyebut, umpatan-umpatan tersebut bisa memberi sensasi keseruan tersendiri dalam mabar. Tetapi tidak bagi Hardi. Sebab, umpatan-umpatan tersebut kemudian justru memicu emosi antarbocil. Alhasil, lomba yang seharusnya berlangsung seru dan penuh canda, malah jadi pemantik permusuhan. 

“Secara moral, banyak orang tua di desa yang tidak siap dengan itu. Karena di desa umpatan-umpatan yang keluar dari mulut para bocil itu bukan sebuah kepantasan,” bebernya. 

Dugaan Hardi, referensi umpatan dari para bocil itu mereka dapat dari menonton live streaming influencer atau kreator konten Jakarta yang memang kerap main game sembari tidak henti-henti mengumpat. 

Billiard itu adu pintar, bukan jual tubuh perempuan

Belakangan trend olahraga billiard juga tengah menggeliat di desa Hardi. Anak-anak muda desa hingga kalangan bapak-bapak cukup intens memainkan, sampai akhirnya dimasukkan ke dalam lomba Agustusan tahun ini yang sudah dimulai awal Agustus 2026 ini. 

Trend billiard juga tidak lepas dari pengaruh konten-konten media sosial: banyak artis maupun kreator konten yang saat ini punya program khusus adu ketangkasan di meja billiard. 

Masalahnya, kata Hardi, konten-konten yang dipertontonkan para kreator konten tersebut kerap kali tidak hanya soal kecermatan dalam membidik bola billiard, tapi juga menampilkan tubuh lawan jenis dengan penampilan seronok. 

“Nah lomba billiard di desaku di desaku juga begitu. Kan antar-RT, mainnya di ada gudang desa gitu lah. Jadi selain menang-menangan di meja, yang dinilai juga seberapa riuh suporternya,” jelas Hardi. 

Suporter yang dimaksud adalah: perempuan-perempuan muda desa yang berdandan seronok seperti yang kerap tampil di kanal-kanal media sosial kreator konten Jakarta. Jadi misalnya perwakilan RT 1 berhasil memasukkan bola dengan cara gokil, maka suporter dari RT 1 akan bersorak memberi dukungan. 

Iklan

“Kalau menurutku, nggak apa-apa seru-seruan suporter. Tapi kan nggak perlu dandan seronok juga untuk unjuk suporter mana paling seru,” sambung Hardi. 

Lomba Agustusan joget TikTok di desa yang terkesan merendahkan perempuan

Kasus perempuan berdandan dan berpakaian seronok tidak hanya terjadi di desa Hardi. Di desa Magfira (22) pun sama halnya. 

Sebelumnya, Magfira bercerita bagaimana karnaval sound horeg membuat perempuan-perempuan di desanya tidak malu berdandan ketat dan seksi, berias menor, dan sambil joget pargoy untuk mengiringi arak-arakan karnaval sound horeg. 

Nah, sejak Agustusan tahun lalu dan masih diteruskan sampai sekarang, “joget-joget” ini dimasukkan ke dalam salah satu lomba Agustusan di desa. 

“Sebenarnya cowok-cewek ada. Jadi ada lomba battle joget kayak Gunawan Sadbor yang ngamen online itu. Terus ada juga ya lomba pokoknya nunjukin kekompakan tim untuk joget-joget ala TikTok yang lagi trend. Yang jadi panitia dan juri ya anak-anak muda desa sendiri,” beber Magfira. 

“Itu semua karena paparan TikTok. Kalau aku masih malu, kalau sekarang, aku melihatnya kayak derajat perempuan direndahkan di depan umum jadi hal wajar,” ungkapnya. 

Bagaimana tidak. Dalam joget-joget pargoy ala TikTok itu, ada mata-mata laki-laki yang mengawasi lekat-lekat, bahkan memvideo. Masalahnya, anak-anak muda desa itu nyatanya tidak merasa terganggu. Karena memang menjadi trend masa kini. 

Justru Magfira lah yang dianggap tidak gaul karena tidak seperti anak-anak muda kebanyakan yang selalu update dengan trend TikTok. “Padahal dulu itu ada yang lebih bermartabat: lomba nari. Itu lebih kalcer kalau menurutku,” kata Magfira. 

Mukbang toxic geser keasyikan lomba masak

Mukbang (makan besar) menjadi salah satu yang dilombakan dalam momen lomba Agustusan di desa Magfira. Peserta harus makan olahan mie porsi kulia super pedas dengan durasi secepat-cepatnya. Siapa cepat habis, dialah pemenangnya. 

Magfira berani memastikan, referensi mukbang tersebut jelas datang dari para kreator konten di media sosial. Lomba mukbang di desa Magfira menggeser lomba masak-masak kreatif dan enak yang sudah berjalan sebelum-sebelumnya. 

“Dulu kan memang sempat ada masanya hype banget Masterchef. Jadi lombanya masak. Terus sekarang berubah jadi mukbang,” beber Magfira. 

Lomba Mukbang tersebut terlalu toxic bagi Magfira karena sejumlah alasan: 

  1. Makan besar dan terburu-buru tidak sejalan dengan etika orang desa.
  2. Tidak menyajikan kreativitas sebagaimana lomba memasak yang sudah berjalan sebelumnya. Padahal lomba memasak punya dua dimensi sekaligus: kreativitas dan jelas memberi keseruan karena format ala Masterchef: masak enak dalam waktu cepat. 
  3. Mukbang makanan pedas dengan porsi besar pada akhirnya berujung toxic karena tidak setiap lidah dan lambung peserta tahan dengan makanan super pedas. 

“Jadi setelah lomba ya ada yang jadi diare lah, perut sakit lah, muntah lah. Kan jadinya toxic ya. Kalau lomba makan kan, setelah masak-memasak, terus dinilai juri, habis itu makan bersama. Justru lebih gayeng,” pungkas Magfira. 

Kreator konten, bagi Magfira, telah memberi paparan budaya baru bagi orang desa yang membuat suasana lomba Agustusan jadi tidak se-asyik sebelumnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Suasana KKN Tak Seindah Konten di TikTok: Banyak Drama Sesama Mahasiswa, hingga Tangis Palsu Saat Perpisahan dengan Warga Desa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan


Terakhir diperbarui pada 8 Agustus 2026 oleh

Tags: ide lomba agustusankonten kreatorlomba agustusan di desalomba mabar agustusanlomba masak agustusanpengaruh buruk konten kreator bagi anak desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO
Sehari-hari

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO
Sosok

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Tova Veno: Kreator Asal Gunungkidul yang Lahir dari Kegagalan dan Konsistensi
Video

Tova Veno: Kreator Asal Gunungkidul yang Lahir dari Kegagalan dan Konsistensi

13 Mei 2025
Bagus Tikus: Dari Anak Band, Belajar Jadi Videografer, Hingga Sutradara Video Klip Musik
Video

Bagus Tikus: Dari Anak Band, Belajar Jadi Videografer, Hingga Sutradara Video Klip Musik

4 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Putus pertemanan di lingkungan kantor yang toxic. MOJOK.CO

Putus Pertemanan dengan Rekan Kerja Toxic adalah Jalan Terakhir Saya Hidup Bahagia dari Drama Usia 30-an

5 Agustus 2026
Sri Sultan HB X dan Dubes Qatar siapkan kejutan program event di Yogyakarta dari kerja sama di bidang kesenian dan kebudayaan MOJOK.CO

Usai Temui Sri Sultan HB X, Dubes Qatar Siapkan Kejutan Program Event Kebudayaan di Yogyakarta

3 Agustus 2026
Kenapa aktivis yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis? MOJOK.CO

Kenapa aktivis harus miskin dan yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis?

4 Agustus 2026
Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Polemik IKAPI DIY dan toko buku Jogja perihal harga murah MOJOK.CO

Narasi “Harga Murah” Pameran Buku IKAPI DIY Singgung Toko Buku Jogja, Kalimat yang Tidak Seharusnya Keluar

5 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.