Bagi sebagian keluarga di desa, memiliki kebun rumah dan pekarangan rumah yang ditanami berbagai sayuran bisa menjadi penyelamat ketika tanggal tua tiba, sekaligus cara sederhana untuk tetap menyajikan makanan yang bervariasi tanpa terus menambah pengeluaran bulanan.
***
Tidak semua urusan dapur harus berakhir dengan pergi ke pasar dan membuka dompet, apalagi ketika tanggal tua datang dan harga kebutuhan pokok belum menunjukkan tanda-tanda bersahabat. Bagi sebagian keluarga di desa, kebun rumah dan pekarangan yang ditanami sayuran menjadi siasat sederhana untuk tetap menyajikan makanan bervariasi tanpa harus selalu berbelanja.
Mereka tidak sedang bercita-cita menjadi petani atau menghasilkan panen untuk dijual, melainkan sekadar memastikan ada cabai, terong, tomat, hingga sayuran lain yang bisa dipetik kapan saja. Sebab, di tengah ekonomi yang tidak baik-baik saja, terkadang cara paling sederhana untuk berhemat adalah memanfaatkan apa yang tumbuh beberapa langkah dari pintu rumah.
Kebun rumah yang menyelamatkan dapur ketika tanggal tua
Memiliki kebun rumah sendiri barangkali menjadi salah satu keuntungan tinggal di desa yang tidak selalu disadari. Tidak perlu memiliki sawah atau ladang luas, sebab pekarangan rumah yang selama ini mungkin hanya menjadi halaman kosong bisa dimanfaatkan untuk menanam berbagai kebutuhan dapur.
Hal itu dirasakan Lida (32), salah seorang warga Gamping yang memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk berkebun. Lahan yang dimilikinya memang tidak terlalu luas. Namun, sejumlah tanaman sayuran tumbuh di sana dan bisa dipetik ketika keluarga membutuhkan bahan makanan tambahan.
“Memang tidak luas, Mas. Namun, bisa bermanfaat ketika tanggal tua seperti ini dan butuh variasi menu lain di meja makan. Karena saya menanam terong, tomat, pare, cabai, bahkan kemarin karena musim kemarau coba nanam singkong dan tumbuh malah bisa jadi menu sarapan,” ujar Lida kepada saya, Minggu (1/11/2026).
Bagi Lida, keberadaan kebun rumah bukan berarti keluarganya tidak perlu lagi berbelanja ke pasar. Ia tetap membeli kebutuhan dapur lainnya. Hanya saja, beberapa bahan makanan sudah tersedia di pekarangan sehingga tidak harus selalu dibeli.
Ada kepuasan tersendiri ketika ingin memasak sayur, tetapi tidak perlu repot pergi ke warung karena bahan yang dibutuhkan sudah tumbuh di halaman sendiri. Apalagi ketika tanggal tua, kebiasaan tersebut terasa semakin bermanfaat.
Kebiasaan menanam sayuran yang diwariskan orang tua
Jika Lida memanfaatkan kebun rumah sebagai salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan dapur, Yani (58) justru sudah terbiasa melakukannya sejak kecil.
Kebiasaan berkebun yang dimilikinya bukan sesuatu yang muncul belakangan karena kondisi ekonomi. Ia tumbuh dengan melihat kedua orang tuanya menanam berbagai sayuran di pekarangan rumah. Kebiasaan tersebut kemudian terus dilakukannya hingga sekarang.
Tanaman yang tumbuh di kebun rumah Yani juga cukup beragam. Ada cabai, terong, kangkung, bayam, daun bawang, hingga pohon salam. Berbagai tanaman tersebut bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ketika keluarganya ingin memasak sayuran atau dalam istilah Jawa disebut kelan.
“Saya dari dulu kecil melihat bapak ibu saya menanam sayuran di kebun rumah, Mas. Jadi terbiasa sampai sekarang. Kalau yang saya tanam ada banyak, cabai, terong, kangkung, bayam, daun bawang, sama itu ada pohon salam. Pokoknya komplit kalau mau kelan,” cerita Yani kepada saya.
Menariknya, manfaat kebun rumah milik Yani ternyata tidak berhenti untuk kebutuhan keluarganya sendiri. Tetangga sekitar juga sering memanfaatkan keberadaan tanaman tersebut. Terutama cabai. Ketika persediaan cabai di rumah habis dan tetangga sedang malas pergi ke warung atau pasar, mereka terkadang meminta beberapa buah cabai dari kebun Yani.
Kebiasaan tersebut sudah dianggap biasa. Yani tidak keberatan berbagi hasil kebunnya dengan tetangga. Sebab, baginya, kebun rumah juga bisa menjadi sarana untuk menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitar tempat tinggalnya.
Dari sini, pekarangan rumah ternyata tidak hanya memiliki fungsi ekonomi. Ada pula fungsi sosial yang tumbuh melalui kebiasaan berbagi hasil tanaman. Sesuatu yang mungkin terlihat sepele, tetapi bisa membuat hubungan antar tetangga tetap terjalin.
Tidak membuat kaya, tetapi lumayan menghemat belanja bulanan
Pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam sayuran sebenarnya bukan kebiasaan yang hanya dilakukan oleh Lida dan Yani. Praktik tersebut juga telah lama menjadi perhatian dalam kajian ketahanan pangan rumah tangga.
Penelitian Ashari, Saptana, dan Tri Bastuti Purwantini yang diterbitkan dalam jurnal Forum Penelitian Agro Ekonomi berjudul Potensi dan Prospek Pemanfaatan Lahan Pekarangan untuk Mendukung Ketahanan Pangan (2012) menjelaskan bahwa lahan pekarangan memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, terutama sayuran, mengurangi pengeluaran pangan rumah tangga, serta menambah pendapatan apabila dikelola dengan baik.
Sementara itu, penelitian Dwiratna, Widyasanti, dan Rahmah mengenai pemanfaatan lahan pekarangan dengan konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari juga mencatat bahwa masyarakat di Desa Rawa dan Desa Lumbungsari, Kabupaten Ciamis, telah menerapkan pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga.
Artinya, kebiasaan menanam sayuran di sekitar rumah bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang. Ada potensi ketahanan pangan rumah tangga yang bisa dibangun dari lahan yang tersedia.
Hal serupa dirasakan Lida dan Yani. Keduanya mengaku tidak sampai menghitung penghematan secara terperinci, tetapi memperkirakan kebiasaan berkebun bisa mengurangi pengeluaran belanja sayuran.
“Ya setidaknya tidak menambah beban pengeluaran bulanan untuk beli sayur. Lumayan irit Rp200 sampai Rp500 ribu dalam sebulan, bisa dialihkan untuk kebutuhan lainnya,” ujar keduanya senada.
Tentu saja, angka tersebut merupakan perkiraan penghematan berdasarkan pengalaman mereka, bukan hasil audit pengeluaran rumah tangga. Ada pula biaya bibit, pupuk, air, dan perawatan yang perlu diperhitungkan. Namun, ketika sebagian kebutuhan dapur sudah tersedia di pekarangan, setidaknya ada pengeluaran yang bisa dialihkan untuk kebutuhan lain.
Kebun rumah, kandang ayam, dan sedikit kemandirian pangan
Kebun rumah milik Yani bahkan memiliki manfaat tambahan. Di area pekarangannya terdapat kandang ayam dan bebek yang masih produktif menghasilkan telur. Selain dipelihara sebagai hewan ternak, ayam dan bebek tersebut juga menjadi sumber bahan makanan bagi keluarganya. Ketika ingin memasak telur, Yani tidak selalu harus pergi ke warung untuk membelinya.
“Ayam dan bebek itu selain sebagai ternak saja, telurnya juga bisa dimanfaatkan, Mas. Jadi kadang bisa menekan biaya lagi kalau mau makan telur tinggal panen saja,” ujar Yani.
Kebiasaan semacam ini sejalan dengan konsep pemanfaatan pekarangan yang selama ini dikembangkan Kementerian Pertanian melalui program Kawasan Rumah Pangan Lestari. Program tersebut mendorong masyarakat memanfaatkan lahan sekitar rumah untuk menanam sayuran, buah, tanaman pangan, hingga memelihara ternak dan ikan demi memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Memang, tidak semua keluarga memiliki pekarangan yang cukup luas untuk menanam berbagai jenis tanaman sekaligus memelihara ternak. Namun, pemanfaatan lahan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Dalam panduan pemanfaatan pekarangan yang diterbitkan Kementerian Pertanian, lahan sempit pun tetap bisa dimanfaatkan melalui pot, polybag, maupun teknik vertikultur. Artinya, keterbatasan lahan bukan selalu menjadi alasan untuk membiarkan halaman rumah tidak produktif.
Bagi Lida dan Yani, mengurus kebun juga bukan pekerjaan yang terlalu menyita waktu. Mereka cukup menyirami tanaman sekali sehari dan menyiangi rumput kira-kira tiga hari sekali. Aktivitas tersebut masih bisa dilakukan di sela kesibukan mereka sebagai ibu rumah tangga.
Tidak ada target panen besar atau keinginan menjadikan kebun sebagai sumber penghasilan utama. Selama tanaman tumbuh dan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur, mereka merasa sudah cukup.
Pada akhirnya, kebun rumah memang tidak serta-merta membuat seseorang terbebas dari persoalan ekonomi. Beras, minyak goreng, lauk-pauk, dan berbagai kebutuhan lainnya tetap harus dibeli. Namun, memiliki pekarangan rumah yang produktif setidaknya memberikan sedikit keleluasaan dalam mengatur pengeluaran.
Lida dan Yani punya prinsip sederhana yang hampir sama ketika ditanya mengenai manfaat terbesar dari kebun rumah mereka.
“Kalau pengen masak tinggal petik,” ujar keduanya sambil tertawa.
Barangkali, di tengah ekonomi yang tidak baik-baik saja ini, salah satu bentuk kemandirian memang bisa dimulai dari halaman sendiri. Tidak harus menjadi petani, tidak perlu punya ladang luas, dan tidak perlu menunggu punya banyak uang. Sebab, terkadang, beberapa batang cabai dan sayuran yang tumbuh di pekarangan rumah sudah cukup membantu menyelamatkan isi dompet ketika tanggal tua.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Alumnus UNJ Jurusan Pendidikan Bahasa Perancis, Pilih Berkebun di Bogor sekaligus Ajak Warga Keluar dari Jurang Kemiskinan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan