Dewasa ini, sebagian orang memilih untuk memutus hubungannya dengan orang lain alias cut off. Meski terkesan jahat, psikolog justru menyarankan hal tersebut untuk melindungi kesehatan mental manusia dari hubungan yang tidak sehat (toxic).
Kejadian menyakitkan yang terus menumpuk
“Jujur dulu aku naif banget, menganggap semua orang itu baik. Hingga ada satu kejadian yang mengubah pandanganku, aku akan cut off orang lain yang menyakitiku atau berpotensi bikin aku sakit hati sebagai wujud untuk melindungi diriku sendiri,” kata Solicha (25) saat dihubungi Mojok, Senin (4/5/2026).
Solicha punya sahabat yang sudah ia kenal sejak SMA. Setiap tahun, ia pasti tak lupa merayakan momen ulang tahun untuk sahabatnya itu. Bahkan bisa dibilang, ia sangat berupaya untuk merayakan ulang tahun tersebut supaya sahabatnya senang.
“Aku beli kue untuk dia dengan uang tabunganku, juga kado seperti baju, buku, dan lain-lain,” kata Solicha.
Namun, di hari ulang tahunnya sendiri, Solicha mengaku tak pernah mendapatkan balasan yang setimpal, bahkan untuk sekedar menerima ucapan “selamat panjang umur”. Meski sempat kecewa sebentar, Solicha tak pernah menyalahkan sahabatnya tersebut, apalagi mengklaimnya sebagai teman toxic sampai melakukan cut off.
Menurut Solicha, kesalahan bahwa sahabatnya lupa dengan hari ulang tahunnya adalah masalah kecil yang masih bisa ia toleransi. Tanpa ia sadari, kejadian menyakitkan itu rupanya menumpuk dalam hubungan persahabatan mereka, terutama setelah keduanya dewasa.
Cut off bukan untuk menyakiti orang lain
Solicha dan sahabatnya itu akhirnya harus menjalani Long Distance Relationship (LDR), karena Solicha mendapat tawaran kerja di Jakarta sedangkan sahabatnya masih ada di Malang, menganggur.
Komunikasi mereka pun semakin jarang, karena kesibukan Solicha. Perlahan-lahan, hubungan persahabatan mereka pun semakin renggang. Solicha jadi selalu sulit dihubungi, tapi tak pernah lupa membalas pesan meski lebih dari 24 jam.
Ketika Solicha curhat tentang masalahnya di Jakarta, sahabatnya itu justru balik menyerang dengan kata-kata kasar, yang semakin membuat Solicha jadi rendah diri. Alih-alih menyemangati Solicha, sahabatnya malah adu nasib dan jadi toxic.
“Pada akhirnya aku sadar, sepertinya dia justru menganggap aku adalah saingan,” kata Solicha.
Merasa tidak nyaman dengan hubungan tersebut, Solicha akhirnya memilih menjauh agar tidak semakin toxic. Bahkan terapis Licensed Mental Health Counselor (LMHC), Sherese Ezelle menyarankan pilihan lebih ekstrem, yakni kamu bisa cut off hubungan tersebut.
“Jika temanmu tidak lagi mendukungmu seperti dulu atau jika mereka justru menjatuhkanmu, jangan ragu untuk mengirim pesan seperti ini: ‘sulit untuk mengatakan ini tapi saya harus jujur dan memprioritaskan diri sendiri dengan tidak melanjutkan persahabatan ini’,” kata Ezelle dilansir dari Bustle, Rabu (6/5/2026).
Ezelle berujar orang yang melakukan cut off dalam sebuah hubungan tidak perlu merasa bersalah karena sebenarnya ia tidak bermaksud jahat. Cut off, kata dia, sejatinya adalah pilihan terakhir untuk melindungi diri sendiri setelah kita merasa dikhianati atau terjadi pertengkaran hebat dan sudah berupaya memperbaikinya.
Cut off vs orang yang harus dipertahankan
Sementara itu, melansir dari Konselor Psikologi, Dimas Alwin di media sosial resminya, ada 5 tipe orang yang sebaiknya di-cut off. Pertama, orang yang sering berperilaku kasar baik dari segi fisik maupun verbal. Kedua, playing victim yakni orang yang tidak mau disalahkan atau minta maaf tapi justru menyalahkan balik orang lain.
Ketiga, orang yang suka memanipulasi dan mendominasi hubungan. Intinya, kamu harus selalu menuruti keinginan orang tersebut. Orang tipe ini juga sering memanfaatkan kebaikan demi kepentingannya pribadi. Suka bicara manis tapi sikapnya bertolak belakang.
Keempat, orang yang selalu mengeluh tanpa berusaha melakukan yang terbaik. Atau mereka yang selalu minta saran tapi tidak pernah dilakukan. Kelima, narsistik yang merasa dirinya adalah pusat semesta. Orang dengan 5 tipe tersebut, sebaiknya cut off.
Di sisi lain, Dimas menyarankan bahwa manusia setidaknya harus memiliki teman yang bisa membantah. Dalam artian, orang yang memberitahu di mana letak kekurangan dan kesalahanmu secara apa adanya.
Kedua, orang yang bisa jadi “rest area”. Ia bisa menjadi pendengar dari segala cerita dan keluh kesahmu tanpa menilai atau menudingmu dengan asal-asalan. Ketiga, orang yang membimbingmu soal karier.
“Biar kamu punya mentor, bisa meningkatkan kemampuanmu, serta dapat banyak info dari dia,” kata Dimas.
Keempat, orang yang dapat membimbingmu baik tentang perkara hidup, rumah tangga, atau dunia percintaan. Barangkali, orang dengan masalah serupa dapat memberikanmu pelajaran berharga.
Kelima, orang yang dapat membuatmu tertawa. Diajak serius ayok, diajak bercanda juga gas!
“Karena hidup nggak selalu serius mulu, biar kamu bisa sedikit santai di tengah huru-hara hidup dan nggak tegang-tegang amat,” kata Dimas.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Memahami Alasan Orang Memutus (Cut off) Hubungan Persahabatan agar Hidupnya Bahagia tau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.
