Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Isi bensin di pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Sejak harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi naik, akhirnya susah mencari SPBU yang antreannya lega. Di Jogja dan Surabaya ada titik-titik SPBU yang antreannya benar-benar tidak bisa ditunggu kalau tidak ingin membuang waktu. 

Situasi itu pun membuat perubahan konsumsi, terutama di kalangan pengendara motor. Misalnya Tajul (25), pekerja swasta di Surabaya, dan Yogi (22), seorang mahasiswa di sebuah PTN di Jogja.

Untuk urusan isi bensin, selama ini keduanya selalu mengandalkan SPBU Pertamina. Mereka juga mengaku kerap menghindari pom mini warung madura. Alasannya, takaran di pom mini madura menurut mereka cenderung lebih sedikit, sehingga rasanya baru beli bisa ujug-ujug habis. 

Strategi isi bensin di SPBU agak malam tidak efektif lagi, pagi-pagi pun kalah duluan

Ketika harga BBM non subsidi naik, antrean di bagian BBM subsidi terus membludak hingga hari ini. Khususnya di titik-titik yang dekat kos Tajul di Ngagel. 

Wong ketika harga masih normal saja antrean sudah sering mengular kok. Apalagi sekarang, banyak pengguna BBM non subsidi yang beralih ke subsidi,” katanya, Jumat (17/6/2026). 

Tajul pada mulanya mencoba tabah mengikuti antrean. Toh selama ini memang begitu yang ia lakukan. Namun, antrean yang lebih panjang dari biasanya membuat hari itu Tajul harus dibuat agak panik diburu waktu—mepet dengan jam masuk kerja. 

Bagi pekerja seperti Tajul, antrean bukan sekadar perkara bosan menunggu. Sedikit saja terlambat berangkat, risikonya bisa berujung telat absen kerja. Sementara “terlambat” bisa memicu rentetan hal buruk bagi Tajul: misalnya potong gaji atau sanksi-sanksi lain. 

Sebelum ini, Tajul sebenarnya punya strategi isi bensin di SPBU agar tidak antre-antre amat. Biasanya menjelang tengah malam, sepulang dari warung kopi atau memang sengaja berangkat dari kosan untuk mengisi bensin. 

“Dulu itu jadi strategi. Kalau ngisi pas jam pulang kerja, pasti berjubel juga. Sementara kalau misalnya nunggu besok paginya, pasti juga rebutan antrean dengan orang-orang berangkat kerja,” beber Tajul. 

Akan tetapi, belakangan ini, bahkan hingga menjelang tengah malam pun antrean di SPBU dekat kosannya masih terbilang padat. 

Mikir-mikir untuk “nyelonong” di BBM non subsidi

Di Jogja pun sama halnya. Di sepanjang Jalan Kaliurang, nyaris setiap saat terjadi antrean panjang di SPBU. Terutama di bagian BBM non subsidi. 

Bedanya, sebelum ini, jika memang tidak tahan menghadapi antrean panjang, Yogi bisa “nyelonong” ke antrean BBM non subsidi yang memang jauh lebih lega. Toh harganya waktu itu tidak terpaut jauh dari BBM subsidi. 

“Ya sesekali “manjain” motor pakai BBM non subsidi lah,” tutur mahasiswa di Jogja tersebut.

Dulu, selisih harga yang tidak terlalu jauh membuat BBM non subsidi menjadi semacam “jalur cepat”. Ketika antrean Pertalite mengular, cukup menambah beberapa ribu rupiah, urusan selesai dalam hitungan menit. 

Kini logika itu berubah. Kenaikan harga membuat opsi tersebut terasa terlalu mahal untuk dipilih sesering dulu. Jalur cepat itu masih ada, tetapi ongkosnya sudah tidak lagi sebanding bagi kantong mahasiswa maupun pekerja dengan penghasilan pas-pasan. 

“Jadi aku mikir-mikir lah. Harga non subsidi sudah segitu. Hampir Rp17 ribu, Pak. Jadi aku nggak bisa lagi memposisikannya sebagai alternatif jalur cepat seperti dulu,” kata Yogi. 

Isi bensin di pom mini warung madura jadi pilihan yang tersisa

Dari akhir Juni 2026 lalu, baik Tajul maupun Yogi mulai lebih sering isi bensin di pom mini warung madura—pom bensin yang sebelumnya selalu mereka hindari. 

Alasan Tajul lebih karena kepraktisan. Tanpa antre panjang, tanpa buang-buang waktu. “Sekarang ini ya jadi langganan karena pom mini warung madura jadi solusi lah buat orang yang sering terburu-buru dan kesabarannya setipis tisu sepertiku,” kata Tajul. 

Sementara Yogi lebih karena terpaksa. Ia ogah mengantre dengan puluhan orang di SPBU hanya untuk satu liter bensin. Sementara ia juga ogah kalau harus mengisi di BBM non subsidi. 

Maka dari itu, ketika hendak berangkat atau saat pulang dari kampus/aktivitas luar kos, pom mini warung madura menjadi tempat yang ia tuju saat indikator bensin di motornya sudah berkedip—tanda akan habis. 

“Aku cari pom mini yang jualnya Pertalite. Kupikir tengah-tengah lah. Selisih harga maupun takaran dari SPBU nggak jauh-jauh banget,” kata Yogi. 

Isi bensin di pom mini warung madura “tanpa logika takaran”, keberadaannya sudah bikin lega

Pom mini warung Madura kini tidak lagi diposisikan sebagai alternatif darurat. Keberadaannya perlahan menjadi bagian dari strategi sehari-hari in this economy. 

Memang masih ada keraguan soal takaran maupun kualitas pelayanan pom mini di warung madura dibanding SPBU resmi. Akan tetapi, beberapa pekan terakhir pom mini warung Madura justru menjadi tempat yang lebih ramai disinggahi pengendara motor. 

Lama-lama, untuk urusan isi bensin, pom mini warung madura sudah menjadi sangat melekat di kepala Tajul dan Yogi.

“Jadi kayak terdoktrin sama warung madura. Sekarang kalau bensin motor mau habis, nggak lagi kepikiran eh di depan sana ada SPBU nggak ya? Tapi langsung kepikiran, ‘Wah perlu mampir ke warung madura ini’,” ujar Yogi.

Begitu pun dengan Tajul. Keperluan isi bensin di pom mini madura kini bukan lagi ia hitung dengan logika takaran maupun kualitas. Karena baginya, keberadaan warung madura yang tersebar di banyak titik, sudah membuatnya lega. 

“Di pinggir jalan raya setiap jarak sekian meter pasti ada. Di tengah kampung, ada. Warung madura ini kan seperti di mana-mana ada, seperti koperasi merah putih itu. Tapi memang warung madura bikin lega lah karena punya solusi nyata,” tutup Tajul. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Latihan Ala Penjaga Warung Madura Operasikan Toko 24 Jam: Memang Tak Seperti Latsarmil Koperasi Desa tapi Teruji atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Exit mobile version