Saat banyak orang terus upgrade kendaraan (upgrade dari motor lama ke motor mahal keluaran terbaru), Honda Supra X 125 masih menjadi kendaraan utama hingga usia kepala tiga.
Ternyata di situlah letak masalahnya: umur sudah 30-an tahun tapi kendaraan kok masih gitu-gitu saja. “Anak gagal” kemudian menjadi cemooh yang diam-diam didesiskan oleh tetangga bahkan saudara. Begitu yang dialami Rifat (37) dan Bebed (25), dua laki-laki asal kabupaten di pesisir utara, Jawa Tengah.
Kerja bertahun-tahun dianggap tidak ada hasilnya karena cuma punya motor Honda Supra X 125 murahan
Di desa asal Rifat di Jawa Tengah, ia dikenal termasuk salah satu pemuda yang pernah bertahun-tahun merantau ke Malaysia. Namun, ia memutuskan berhenti setelah menikah pada 2016 silam.
Ia memilih bekerja di daerah asal istri, Ngawi, Jawa Timur, di bidang kerajinan kayu. Karena ia merasa, rasanya berat baginya kalau harus menjalani long distance marriage.
Persis setelah menikah itu pula, Rifat membeli motor untuk membantu mobilitasnya dan istri. Saat itu ia membeli motor Honda Supra X 125 tahun 2014 bekas. Ia masih dapat di harga Rp6 jutaan dengan kondisi barang masih bagus.
Motor tersebut masih ia gunakan hingga sekarang. Termasuk untuk pulang ke desanya di Jawa Tengah.
“Habis pandemi lah. Cuma punya motor Supra X 125 itu kok seolah-olah tertinggal di mata tetangga dan saudara di desa saya. Ya karena memang makin banyak motor keluaran baru yang mahal-mahal itu,” ujar Rifat, Selasa (7/4/2026).
Bahkan, Rifat kerap mendengar orang—baik secara eksplisit maupun implisit—mempertanyakan: kok tidak kepikiran beli motor baru? Menimbang kondisi Rifat yang sudah berkeluarga, punya dua anak.
“Mesti kalau nyindirnya ya gini, ‘Emang sudah seharusnya roda empat’. Minimal-minimalnya motor yang lebih gede biar perjalanan lebih nyaman,” kata Rifat.
Satu-satunya motor keluarga yang dihina, dianggap biang nggak ada satu cewek pun yang nyantol
Serupa, Bebed yang sehari-hari menjadi pekerja pabrik juga kerap digojlok perkara motornya. Karena motor Honda Supra X 125 miliknya sudah ia pakai sejak SMA, dan masih ia pakai hingga sekarang di saat banyak teman SMA-nya sudah beralih ke motor-motor besar dan mahal.
“Apalagi motorku sudah gredek, endhas geter (kepala geter). Karena memang sudah beberapa kali kubuat jatuh di aspal. Kalau naik motor itu pokoknya sampai bunyi ‘gredak-gradek’ lah,” kata Bebed.
Akan tetapi motor tersebut punya nilai sentimentil bagi Bebed. Sebab, Honda Supra X 125 itu menjadi motor satu-satunya di keluarga Bebed. Dibeli bapaknya memang untuk kebutuhan sekolah SMA Bebed pada waktu itu.
Sementara sang bapak sehari-hari memilih jalan kaki kalau untuk mobilitas di desa sendiri dan naik angkutan umum kalau sedang keluar.
“Kadang kalau nongkrong, ya teman-teman ada yang terang-terangan bilang, ‘Sudah mau 30 tahun, masa motor nggak ganti-ganti. Hasil kerja ke mana aja?’,” ungkap Bebed.
Bahkan, ada pula yang gojlok: Kalau motor masih Supra kepala geter, ya tidak akan ada cewek yang nyantol. Itu alasan kenapa Bebed masih menjomblo sampai sekarang. Masa sepanjang SMA sudah jomblo, sekarang masih tetap tidak ada satu cewek pun yang nyantol?
Kalau mau cewek nyantol, kata teman Bebed, minimal Aerox atau PCX lah, Bos, senggol dong!.
Bahagia nyatanya tidak perlu barang baru dan mahal
Atas cemooh-cemooh yang didapat, Rifat tidak mau ambil pusing. Sebab, baginya, bahagia toh tidak perlu menunggu ganti motor baru dan mahal. Karena nyatanya ia dan keluarga tidak masalah dengan Honda Supra X 125.
“Seperti yang dibilang Gus Baha. Kalau bahagia nunggu punya Alphard, misalnya, ya nggak akan bahagia-bahagia. Masa bahagia tergantung pada pihak lain, bukan dari diri sendiri,” kata Rifat. “Ya kalau suatu saat anak butuh motor untuk sekolah misalnya, itu urusan lain. Sebagai bapak saya akan perjuangkan.”
Apalagi Rifat memang merawat betul motor tersebut. Sehingga meski sudah sangat lama, tapi performa mesinnya masih terasa oke. Masih tangguh untuk perjalanan jauh, termasuk perjalanan dari Ngawi ke Jawa Tengah untuk keperluan menjenguk orang tua.
Dan itulah nilai pentingnya. Rifat memang hanya punya motor Honda Supra X 125 di usia kepala tiga. Akan tetapi, ia memberi bakti penuh pada orang tuanya. Sesederhana menggunakan motor tersebut untuk sering-sering pulang ke rumah menjenguk orang tua.
Berbeda dengan kebanyakan laki-laki di desanya. Memang punya motor mahal dan bagus. Memang hidup dengan ekonomi lebih baik. Tapi dinikmati sendiri. Orang tua tidak ketiban enaknya.
Sekadar menjalin hubungan hangat dengan orang saja tidak, padahal masih satu desa. Sehingga orang tua merasa tidak merasakan bakti dari anak yang sudah dibesarkan dengan penuh pengorbanan.
“Ibu saya sering cerita, ada ibu-ibu yang mengaku iri. Karena walaupun saya jauh, kelihatan nggak kaya-kaya amat, tapi masih sering menjenguk ibu saya, masih bisa ngasih-ngasih sesuatu,” ucap Rifat.
Motor Honda Supra X 125 jadi saksi bakti ke ortu, tak seperti teman-teman dengan motor baru dan mahal yang malah jadi beban
Sementara Bebed kerap menyimpan tawa dalam batin sendiri ketika sedang di-gojlok teman-temannya karena motor Honda Supra X 125 kepala geter.
Pasalnya, Bebed tahu persis, motor baru dan mahal milik temannya bukan berasal dari jerih payah sendiri. Tapi dari hasil merengek-rengek, ngambek, sampai murka ke orang tua biar dibelikan.
“Mereka memang ada yang sudah kerja. Tapi tetep saja, kalau begitu-begitu minta orang tua,” kata Bebed.
“Ada juga yang demi gengsi motor baru, pilih utang bank. Tapi yang bayarin tetap orang tua,” sambungnya.
Di titik itu Bebed merasa bangga dengan dirinya sendiri meski di umur menjelang 30-an tahun motornya masih Honda Supra X 125 kepala geter. Sebab, motor satu-satunya di keluarganya tersebut menjadi saksi perjuangan seorang anak pertama untuk membahagiakan orang tua.
Kalau mau, Bebed seharusnya bisa membeli motor baru dari hasil mengumpulkan uang hasil kerjanya. Namun, ia lebih memilih mengalokasikan uangnya untuk membantu meringankan beban bapak: turut menopang ekonomi keluarga. Terutama untuk kebutuhan sang adik yang saat ini tengah menempuh pendidikan di pesantren.
Alih-alih menjadi beban keluarga, dengan motor Honda Supra X 125 kepala geter itu Bebed justru menjadi salah satu alasan adiknya tetap bisa menempuh pendidikan. Dan itu membanggakan bagi Bebed, ternyata juga membanggakan pula bagi orang tua Bebed.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
