Akibat penutupan Selat Hormuz di Iran, harga minyak global berpotensi mengalami kenaikan. Di Indonesia, stok cadangan bahan bakar minyak (BBM) dikonfirmasi Kementerian ESDM tinggal untuk dua puluh hari. Namun saya kira, menuju dua puluh hari itu yang akan terjadi bukanlah muda-mudi berbondong-bondong antre untuk membeli. Justru bisa jadi, mereka lebih memilih tidak lagi mengendarai motor. Sama halnya dengan alasan mereka memilih Pertalite atau Pertamax berdasarkan panjangnya antrean di SPBU.
Kualitas Pertalite dan Pertamax beda tipis
Di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) akan ditemui dua jenis BBM paling umum, yaitu Pertalite dan Pertamax. Punya nama yang berbeda, kedua BBM ini jelas tidak sama.
Pertalite (RON 90) lebih cocok untuk kendaraan dengan rasio kompresi rendah-menengah. Pembakarannya cukup baik, tapi tidak cukup bersih. Umumnya, BBM jenis ini dipakai motor harian seperti skutik 110-125 cc.
Keunggulan Pertalite, harga per liternya adalah Rp10 ribu sampai dengan hari ini.
Harga ini lebih murah dibandingkan seliter Pertamax yang dihargai Rp12,5 ribu. Namun, ada harga ada kualitas. Pertamax (RON 92) unggul dalam efisiensi dan pembakaran yang lebih bersih. BBM jenis ini juga lebih sesuai untuk kendaraan dengan rasio kompresi lebih tinggi.
Konon, apabila menggunakan Pertamax, mesin kendaraan akan lebih halus. Itu sebabnya bisa disimpulkan bahwa perbedaan utama Pertalite dan Pertamax terletak pada kualitas pembakaran dan dampaknya pada mesin kendaraan.
Pertamax jadi pilihan karena minim antrean, meski sedikit lebih mahal
Namun demikian, kualitas yang lebih mengunggulkan Pertamax itu tak terasa jauh berbeda bagi Fajar (24). Menurutnya, selisih harga yang tak seberapa dari Pertalite dan Pertamax juga mencerminkan kualitasnya yang tidak beda-beda amat.
“Kalau perbedaan enggak signifikan banget sih menurutku,” katanya membandingkan kedua BBM tersebut, Rabu (4/3/2026).
Jawaban Fajar diamini oleh Pulung (20) yang juga mengatakan Pertamax dan Pertalite hampir sama. Kedua bahan bakar ini bahkan tidak terlalu terasa perbedaannya bagi mesin kendaraan.
“Pertamax mulus dikit lah, bedanya nggak kerasa,” kata Pulung.
Dengan harganya yang juga tidak jauh berbeda itu, Pulung menyebut, dirinya tidak terlalu pilih-pilih dengan BBM yang sesuai untuk kendaraannya, Honda BeAT. Ia justru menyesuaikan mood saat sedang melakukan pengisian bensin.
“Aku Pertamax Pertalite, kalau lagi bisa antre Pertalite, ya Pertalite,” katanya.
“Tapi kalau lagi pengin cepet, Pertamax,” tambah Pulung mengakui.
Sudah lelah, antre BBM yang kualitasnya tidak beda jauh itu percuma
Pertimbangan Pulung dalam mengisi BBM motornya sama dengan Fajar. Ia tidak terlalu ambil pusing soal kualitas bahan bakar yang diperdebatkan antara Pertalite dan Pertamax. Baginya, antrean lebih memusingkan.
Melihat antrean Pertalite di SPBU yang sering mengular, Fajar langsung mengurungkan niatnya dan berbelok ke Pertamax yang sebanyak-banyaknya penggunanya, sepanjang-panjangnya antreannya, hanya berjumlah tiga motor.
“Menurutku, antrean Pertalite kadang nggak ngotak. Jadi, dengan beli Pertamax bisa lebih cepet,” kata Fajar.
Demi kecepatan ini juga, Fajar tidak mempersoalkan biaya ekstra yang harus dikeluarkan jika memilih untuk mengisi bahan bakar motor Honda BeAT miliknya menggunakan Pertamax. Toh, selisih biayanya tidak besar baginya.
Selain itu, saat mengetahui antrean yang sama panjangnya di SPBU, Fajar lebih mudah menemukan Pertamax sebagai bahan bakar yang dijual eceran di pinggir jalan. Alhasil, Pertamax kembali menjadi pilihannya.
“Lebih gampang dapat [Pertamax] daripada Pertalite yang harus ke SPBU gede,” akunya.
***
Soal kualitas Pertamax yang memengaruhi Honda BeAT miliknya, Fajar malah tidak terlalu memahami. Ia memang mengakui, bagaimanapun pengalaman berkendaranya terasa lebih baik dengan bahan bakar Pertamax.
Akan tetapi, bagian “lebih baik” itu secara spesifik juga tidak bisa Fajar mengerti.
Ia hanya merujuk pada penjelasan ayahnya yang mengatakan bahwa mengisi BBM dengan Pertamax membuat mesin kendaraan lebih halus. Bagian yang halus itu sendiri, Fajar hanya tahu kalau Honda BeAT miliknya yang sudah ringan terasa semakin enteng.
“Jadi suara mesinnya lebih halus, terus sebilang bapakku sih mesinnya jadi lebih enak. Tapi, saya nggak bisa merasakan, paling dari motor kerasa lebih enteng aja, enggak tahu faktor lain,” jelasnya.
Ketidakpahaman Fajar yang berujung pada keputusan memilih BBM sesuai antrean di SPBU ini juga didukung oleh kondisinya yang selalu terburu-buru saat mengisi BBM.
Seringnya, terjadi peak hours saat pengisian BBM ketika orang-orang berangkat (07.00-08.00 pagi) dan pulang sekolah atau bekerja. Saat itu juga, Fajar melakukan pengisian bahan bakar motornya.
“Kalau aku sih karena biasanya isi pagi-pagi jadi pengin cepat kan,” katanya.
Padahal, saat pagi itu, bukan hanya semua orang ingin mengisi bensin di SPBU. Semua orang sedang keluar dari rumah dan buru-buru menuju suatu tempat. Semua orang juga ingin memastikan kendaraannya sampai tujuan tanpa kehabisan bahan bakar.
Jadi, jelas, pilihan waktu Fajar kurang bijak.
“Pun, kalau sore jam balik kantor tuh kadang juga antreannya sampai panjang banget,” tambahnya, sama tidak sesuai dengan aturan menghindari jam padat pembeli BBM di SPBU.
Daripada menghadapi antrean pembeli yang sama-sama ingin mendapatkan BBM sesegera mungkin, pembeli yang satu ini memilih menghindarinya terlebih dahulu.
Bukan karena memang berlebih dalam membayar harga BBM, tetapi karena melihat bahwa waktunya akan habis lebih lama apabila harus menunggu demi Pertalite yang lebih murah. Intinya, ia tidak sabar dan tidak mau menunggu.
“Terus, antreannya Pertamax kadang kosong atau paling setengahnya dari Pertalite. Jadi, lebih cepat aja,” tutupnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Sebagai Pekerja Jakarta yang Terbiasa Kerja Sat Set, Saya Nggak Nyaman dengan Etos Orang Jogja yang Terlalu Santai atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














