Gencarnya pemerintah dan lembaga kemanusiaan seperti Wahana Visi Indonesia (WVI) dalam mengatasi masalah stunting di Indonesia bukan tanpa alasan. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting secara nasional telah mencapai 19,8 persen. Artinya, satu dari lima bayi yang lahir di Indonesia mengalami stunting.
Para ahli kesehatan sepakat, stunting bukan sekadar masalah tinggi badan, tetapi berdampak langsung pada perkembangan otak, kesehatan anak, hingga produktivitas ekonomi masyarakat di masa depan.
Oleh karena itu, Wahana Visi Indonesia (WVI) memiliki program PASTI atau Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia. Program Director WVI, Eben Ezer Sembiring menjelaskan anak-anak adalah masa depan bangsa.
Oleh karena itu, setiap keluarga, desa, dan pemangku kepentingan memiliki peran penting dalam memastikan hak dan kebutuhan makanan bergizi anak, serta memutus akar persoalan stunting.
“Melalui pendampingan Program PASTI bersama dengan pemerintah daerah dan masyarakat, kami membuktikan bahwa perubahan perilaku dan sistem dapat berjalan beriringan dan menghasilkan dampak besar,” ujarnya.

Lalu, mengapa kasus stunting masih terjadi? Apa langkah konkret yang bisa dilakukan orang tua guna mencegah stunting pada anak? Berikut lima fakta yang perlu diketahui soal stunting:
#1 Stunting mengancam di 1.000 hari pertama kehidupan
Periode emas dari kehamilan hingga usia dua tahun menentukan masa depan anak. Untuk itu, penting bagi orang tua memerhatikan kecukupan gizi ibu dan bayi di bawah dua tahun (baduta), karena kegagalan memenuhi kecukupan gizi kronis di fase ini dapat memicu gagal tumbuh dan menghambat perkembangan otak.
Guna menjawab tantangan tersebut, WVI bakal memberikan bantuan nutrisi untuk 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), menjangkau lebih dari 1.276 baduta dan ribuan keluarga berisiko lewat program PASTI.
#2 Gizi bayi yang tidak seimbang
Kurangnya nutrisi dan gizi penting seperti protein, vitamin, dan mineral membuat anak rentan terdampak stunting. Oleh karena itu, orang tua harus mendapatkan informasi yang memadai soal pola makan yang baik dan cukup agar anak mendapatkan nutrisi yang optimal.
Informasi itu bisa didapatkan melalui 127 Pos Gizi DASHAT (PGD) aktif. PASTI memastikan keluarga mendapatkan edukasi dan akses pangan bergizi di tingkat desa.
#3 Edukasi gizi masih rendah
Selain belum mendapat informasi yang cukup soal gizi, sebagian keluarga juga belum memahami pentingnya ASI eksklusif dan MPASI bergizi. Oleh karena itu, penting untuk menghadirkan edukasi berkelanjutan kepada orang tua.
Selain orang tua, anak usia remaja juga aspek penting yang perlu mendapatkan informasi yang tepat untuk mendorong perubahan persepsi dan perilaku orang tua dalam memberikan gizi yang cukup.
Para orang tua maupun anak usia remaja dapat mengikuti program pelatihan dari PASTI, di mana mereka memiliki 363 Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan menggerakkan 178 remaja sebagai agen perubahan untuk Kampanye Perubahan Perilaku (KPP).
Para remaja tersebut kini juga berhasil menjangkau 2.178 remaja usia 15-19 tahun guna membantu dan memfasilitasi warga.
#4 Sanitasi buruk memicu infeksi
Lingkungan yang tidak bersih meningkatkan risiko diare dan infeksi serta menghambat penyerapan gizi. Oleh karena itu, akses air bersih dan jamban sehat adalah kebutuhan yang sangat mendesak.
Program PASTI juga turut mendukung pembangunan jamban sehat di desa dampingan, sekaligus mengedukasi masyarakat tentang kebiasaan hidup bersih.
#5 Stunting tak bisa selesai jika sendiri
Menurut WVI, stunting bukanlah sebuah masalah yang dapat diselesaikan oleh satu pihak. Pemerintah, masyarakat, dan mitra harus turut berkolaborasi dan bekerja sama untuk mengatasi isu ini, serta memastikan semua anak di Indonesia mendapatkan hak mendasar mereka akan makanan yang baik dan layak.
WVI sendiri telah membangun kerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Tanoto Foundation, PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara, dan PT BCA Tbk guna melaksanakan program PASTI.
Saat ini, WVI berhasil mengimplementasikan program tersebut di Kalimantan Barat dan Jawa Timur. Hingga Desember 2025, program ini menjangkau 6.808 orang dewasa, memperkuat 402 anggota TPPS, dan mendorong terbentuknya 26 Desa Model agar praktik baik berkelanjutan.
Atas kontribusi ini, PASTI meraih empat penghargaan nasional dari BKKBN dalam kategori Mitra Pentahelix Program GENTING atau Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting. Dengan kata lain, program PASTI telah dipercaya kontribusinya untuk menurunkan stunting di Indonesia.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Rahasia Sukses Semarang untuk Menggenjot Masalah Stunting hingga Jadi Peringkat ke-2 Terendah di Jawa Tengah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













