Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

“Dosa Kecil” Pemicu Masalah Keuangan tapi Kerap Dilakukan, Bikin Uang atau Gaji Berapa pun Terasa Kurang

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
10 Maret 2026
A A
Dosa-dosa kecil yang kerap dilakukan hingga memicu masalah keuangan: uang atau gaji berapa pun terasa kurang MOJOK.CO

Ilustrasi - Dosa-dosa kecil yang kerap dilakukan hingga memicu masalah keuangan: uang atau gaji berapa pun terasa kurang. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa orang percaya, masalah keuangan yang terasa kurang terus-menerus tidak hanya sekadar salah kelola. Tapi ada juga kaitannya dengan persoalan spiritual. 

Keuangan bisa terasa seret bahkan ketika gaji sudah lebih dari cukup. Itu bisa disebabkan dari “dosa-dosa kecil” yang sudah terlanjur menjadi kebiasaan, sehingga membuat uang atau gaji berapa pun yang masuk terasa tetap kurang. 

Catatan: Teman-teman pembaca tidak harus percaya sepenuhnya. Tapi tulisan ini berdasarkan pengalaman empiris yang barangkali bisa diambil pelajarannya. 

Masalah keuangan bisa jadi karena suka bohongi orang 

Ada masanya ketika kuliah dulu, Hikam (28) kerap berbohong kepada orang tuanya. Misalnya, ia minta dikirim uang bulanan untuk bayar kos atau lain-lain. Namun, nyatanya uang itu tidak ia gunakan secara semestinya. 

Alhasil, uang sudah ludes sebelum tanggal kiriman. Jika sudah begitu, ia akan bohong lagi ke orang tua: minta kiriman lagi dengan alasan buat bayar keperluan kuliah atau organisasi. 

“Tapi aku merasakan dampakanya. Kehidupanku kayak jadi serba seret. Uang berapa pun kiriman orang tua, bisa langsung ludes,” ungkap pemuda asal Jawa Tengah itu, Senin (9/3/2026). 

Tak hanya itu, akibat Hikam yang sering berbohong dan menyalahgunakan uang kiriman orang tua, ternyata berimbas juga ke kondisi finansial orang tua: mengalami masalah keuangan yang berlarut-larut. 

“Aku pernah ditegur temanku. Jangan suka bohongi orang tua. Apalagi soal uang. Karena pengaruhnya nanti ke rezeki orang tua juga,” jelas Hikam. 

Pada akhirnya Hikam membuktikan nasihat dari temannya tersebut. Sejak hati-hati betul dalam menggunakan uang kiriman orang tua, keluarganya tidak lagi mengalami masalah keuangan. Memang tidak lantas punya uang melimpah. Tapi setidaknya dicukupkan oleh Tuhan. 

Perhitungan sama orang tua sendiri

Masalah keuangan yang Hikam alami memang tidak jauh-jauh dari relasinya dengan orang tuanya. Termasuk ketika ia sudah lulus kuliah dan bekerja. 

Awalnya Hikam terbilang sangat perhitungan kalau soal berbagi. Bahkan ke orang tua dan adik sendiri pun bisa dibilang “pelit”. 

“Alasanku, ya karena gajiku kan nggak besar. Buat hidupku sendiri saja masih kurang, ya masa aku bagi ke orang tua. Walaupun merasa bersalah juga, karena kalau orang tua lagi susah, aku nggak bisa bantu,” ucap Hikam. 

Namun, potongan ceramah KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha) yang lewat di beranda YouTube menghentak kesadaran Hikam. Dalam potongan ceramah tersebut, Gus Baha cerita: pernah ada satu momen ketika uangnya tinggal sedikit, dan itu dihabiskan untuk merawat ibunda yang sakit. 

Alih-alih menyesal karena uangnya ludes, Gus Baha justru merasa bangga. Sebab, ibu (dan orang kedua orang tua) telah mengorbankan banyak hal dalam hidupnya untuk menghidupi anak-anak. Masa anak mau perhitungan hanya untuk biaya pengobatan ibu yang tidak seberapa itu (misalnya). 

Iklan

Ceramah Gus Baha itu menampar Hikam. Membuat Hikam, meski sedikit, kemudian lebih sering menyisihkan uang ke orang tua. “Percaya nggak percaya, meski aku tahu gajiku pas-pasan, tapi entah kenapa selalu cukup buat hidup sebulan. Bahkan aku bisa nabung juga,” pungkas Hikam. 

Masalah keuangan berangkat dari keluhan atas pemberian Tuhan

Sementara Hanifa (27) ada di tahap yang lebih transendental. Sebagai lulusan pesantren di Jawa Timur, Hanifa memegang teguh apa yang diajarkan kiainya perihal syukur dan berserah diri kepada Tuhan. 

Hanifa percaya betul konsep dalam Q.S. Ibrahim: 7: 

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ۝٧

Artinya: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku (Allah) akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.

“Kalau aku syukur, aku percaya, entah ditambah nominal rezekinya, atau ditambah rasa cukupnya sehingga uang berapa pun terasa cukup,” kata Hanifa. 

Dalam hidup, memang ada banyak hal yang di luar harapan dan ekspektasi. Misalnya, kerja ngoyo harapannya jelas gaji tinggi. Tapi nyatanya dapat gaji imut. 

Situasi tersebut sering membuat orang—terutama di sekitar Hanifa—kemudian mempertanyakan takdir Tuhan. Karena kurangnya rasa syukur itulah yang kemudian membuat setiap rezeki selalu terasa kurang. 

Berat buat berbagi (sedekah)

Hanifa menganut betul konsep “Berbagi (sedekah) jangan nunggu kaya” yang ia dapat dari pesantrennya dulu. Karena kalau tolok ukur berbagi harus kaya (berduit banyak), sedekah tidak akan pernah terjadi. Dan itu, secara spiritual, ternyata bisa menjadi biang masalah keuangan. 

Hanifa mengutip Q.S Saba’: 39: 

وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ ۚوَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

Artinya: Dan apa saja yang kamu infakkan (bagikan), Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.

“Aku sendiri kan, alhamdulillah, kalau lihat orang kesusahan begitu, aku punya apa kubagi. Walaupun nggak banyak. Dan hidupku terasa cukup-cukup saja walaupun uang di dompetku nggak seberapa,” pengakuan Hanifa.  

“Selain itu, kalau punya uang, kalau dibelanjakan untuk sesuatu yang halal dan bermanfaat. Karena kalau tidak, seperti curhatan teman-temanku, yang terjadi ya uang rasanya cepat habis terus,” pungkasnya. 

FOMO dan tidak tahu skala prioritas

Selain persoalan spiritual di atas, “dosa kecil” lain yang, terutama terjadi di kalangan anak muda, adalah FOMO dan tidak tahu skala prioritas. Punya kecenderungan mengalokasikan uang (belanja) sesuatu berdasarkan gengsi dan sekadar tren. 

Karena sifat gengsi dan tren yang terus berubah, alhasil uang berapa pun terasa tidak cukup. Begitu pengakuan sejumlah teman saat saya tanya: apa yang membuat uang di dompet/rekening mereka kerap terasa tidak cukup? 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Punya Tabungan Likuid untuk Jaga-jaga PHK Memang Penting, Tapi Banyak Pekerja RI Tak Sanggup karena Realitas Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 Maret 2026 oleh

Tags: dalil sedekah memperlancar rezekigaki terasa tidak cukupmasalah keuanganSedekahtips kelola keuangan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

bca.MOJOK.CO
Ekonomi

Kolaborasi BCA, Lazismu dan BAZNAS: Bikin Zakat, Infak, Sedekah Makin Mudah, Begini Caranya!

30 Maret 2025
Warung Sedekah Kudus Jadi Jalan Spiritual Bagi Bosnia Sasmito. MOJOK.CO
Sosok

Warung Sedekah Kudus Jadi Jalan Spiritual Bagi Bosnia Sasmito

23 April 2023
Khotbah

Tak Rela Terima Sedekah karena Tak Mau Lihat Orang Lain Lebih Mulia

17 Desember 2021
Kok Ada Ayat Jangan Mati kecuali dalam Keadaan Muslim? Lah Kan Mati Bukan Kita yang Ngatur?
Khotbah

Kok Ada Ayat Jangan Mati kecuali dalam Keadaan Muslim? Lah Kan Mati Bukan Kita yang Ngatur?

5 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android

Pakai iPhone Dianggap Keren, Rela Sewa Harian sampai Rp120 Ribu demi Gengsi dan Memberi “Makan Konten” Media Sosial

3 Maret 2026
Iran, Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia

Bukan Nuklir, Air Adalah “Senjata Pemusnah” Paling Mematikan di Perang AS-Iran

4 Maret 2026
Ilustrasi Honda Vario Sumber Derita dan Bikin Gila di Jalanan Surabaya (Wikimedia Commons)

Honda Vario Adalah Motor yang Paling Menderita di Surabaya: Mesin Loyo Itu Sengsara Dihajar Jalan Rusak

6 Maret 2026
Mendambakan seperti suami Sheila Dara, Vidi Aldiano. Cara hidup dan perginya bikin iri banyak orang MOJOK.CO

Mendambakan Menjadi Seperti Vidi Aldiano, Cara Hidup dan Pergi bikin “Iri” Banyak Orang

9 Maret 2026
Karjimut di Jogja yang merantau pilih tidak mudik Lebaran. MOJOK.CO

“Bohong” ke Keluarga Saat Mudik Lebaran: Rela Habiskan Uang Berjuta-juta agar Dicap Sukses padahal Cuma Karjimut di Jogja

9 Maret 2026
Orang Surabaya hina Malang. MOJOK.CO

Malang Dihina “Desa”, padahal Tempat Pelarian Terbaik bagi Orang Kota Surabaya yang Stres meski Punya Mal Mewah

5 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.