Sampai akhirnya, hari keberangkatan ke Jerman itu tiba. Untuk biaya transportasi menggunakan pesawat, Ufi tak terlalu pening karena majikannya di Jerman bersedia membiayai keberangkatannya.
“Aku ingat banget, cuma punya pegangan uang Rp750 ribu,” ujar Ufi.
Begitu tiba di rumah majikannya yang di Jerman, Ufi secara blak-blakan mengutarakan mimpinya untuk kuliah S2 kepada majikannya. Mendengar hal itu, majikannya kaget karena biasanya pendaftar Au Pair akan langsung balik ke negaranya masing-masing setelah selesai mengikuti program.
“Dia merasa ditipu, tapi aku bilang, di motivation letter sudah aku jelaskan kalau aku mau kuliah S2 di Jerman. Barulah dia cek tulisanku. Katanya, seandainya dia baca motivation letter ku sebelum aku berangkat, dia nggak mungkin pilih aku sebagai kandidat Au Pair tapi mungkin ya itu rezekiku sampai kontrak kami berjalan selama 1 tahun,” tutur Ufi.
Ingin lanjut kuliah S2 di Jerman meski visa bermasalah
Setelah menjalani kehidupan di Jerman selama satu tahun lewat program Au Pair, Ufi lanjut belajar bahasa untuk mendaftar kuliah S2. Siapa sangka, dalam perjalanannya itu, Ufi bertemu dengan orang Indonesia yang turut membantunya meraih kampus impian.
Dari temannya itulah Ufi mengetahui soal program Brückensemester, sehingga ia bisa tinggal di Jerman sebagai seorang pelajar. Sementara, kata Ufi, kalau memperpanjang masa tinggal di Jerman lewat Au Pair, prosesnya terbilang ribet.
“Aku juga dapat bantuan jaminan dari majikannya temanku dan ditawarin untuk tinggal di rumah mereka,” kata Ufi.
Namun, kebaikan itu tak berlangsung lama sampai Ufi diusir dari rumah mereka karena sebuah konflik. Tanpa mau memperpanjang masalah, Ufi akhirnya keluar dari rumah itu dan galau bagaimana caranya memperpanjang visa.
Kebaikan hati sesama pekerja asing
Seolah menjawab keresahan Ufi, Tuhan mempertemukan Ufi pada kenalannya orang Taiwan yang pernah ia jumpai saat kerja di Jerman. Melihat dari raut wajah Ufi yang biasanya ceria kini berubah murung, ia jadi khawatir. Rupanya, masa tinggal Ufi di Jerman kurang 3 hari lagi sementara dia masih ingin melanjutkan kuliah S2.
“Aku cerita semua masalahku dan tiba-tiba dia kirim uang ke aku sebesar 7000 EUR,” kata Ufi.
Lewat kebaikan hati dari temannya itu, Ufi mampu bertahan di Jerman sambil melakukan kerja sampingan untuk memperpanjang visanya. Singkat cerita, Ufi bisa mendaftar kuliah S2 dan berhasil menyelesaikan tesisnya selama 2 tahun.
Setelah kuliah S2, dia mendapat kesempatan kerja sebagai manajer di Jerman. Beberapa hari berikutnya, barulah dia tahu kalau temannya yang orang Taiwan tadi harus balik ke negaranya karena tak mampu bertahan.
“Meskipun sedih karena dia pulang, aku memantapkan diri untuk bertahan di Jerman. Bahkan sekarang, dengan menjadi ibu rumah tangga di Jerman, aku masih bisa bantu-bantu finansial keluargaku yang dulunya susah.” Ujar Ufi.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













