Kuliah S2 dan kerja di Jerman bagaikan keajaiban bagi Ufi. Dulu, membayangkannya saja terasa tak mungkin sebab keluarga Ufi tergolong miskin. Untuk bayar uang kuliah S1 sebesar Rp600 ribu per semester saja, orang tuanya harus mengkis-mengkis. Sampai ia menemukan program Au Pair.
“Kami bahkan jarang makan daging, lebih sering sayur kalau nggak ikan tapi aku punya tante yang usaha catering. Biasanya dia kirim daging sisa dari makanan pesta ke rumah. Jadi kami bisa makan daging,” ujar Ufi menjelaskan kondisi keluarganya kepada Mojok, Selasa (3/2/2026).
Meski begitu, Ufi tak pernah mematahkan mimpinya untuk kuliah S2. Ia menemukan secercah harapan saat perjalanan pulang dari mengumpulkan data penelitian skripsi. Saat itu, Ufi melihat sebuah banner dengan tulisan “Homestay in Germany”, sebuah program tinggal bersama keluarga lokal Jerman untuk merasakan kehidupan sehari-hari, budaya, dan mempraktikkan bahasa Jerman secara intensif.
“Waktu kuliah S1 aku nggak punya laptop, jadi hampir tiap hari ke rental buka Yahoo buat riset soal program Au Pair ini,” ujar Ufi.
Setelah menelisik lebih lanjut, barulah Ufi tahu kalau program tersebut merupakan bagian dari program Au Pair Jerman. Kurang lebih, penjelasannya sama dengan program homestay. Lebih detailnya, program ini ditujukan bagi muda-mudi berusia 18–26 tahun.
Lewat program itu, pendaftar diizinkan tinggal bersama keluarga asli Jerman selama 6–12 bulan untuk membantu keluarga tersebut. Baik menjaga anak maupun meringankan pekerjaan rumah.
Setelah mengikuti program Au Pair, barulah pendaftar bisa mengikuti program dari pemerintah yakni Freiwilliges Soziales Jahr (FSJ) alias sukarelawan atau kerja sosial selama 6–18 bulan. Atau, melanjutkan studinya di Jerman. Opsi terakhir ini, kata Ufi, biasanya jarang dipilih.
Kursus bahasa Jerman agar lolos Au Pair
Tertarik dengan program Au Pair, Ufi akhirnya mantap menabung untuk mengikuti kursus bahasa Jerman sembari menggarap skripsinya. Sebab, salah satu syarat mengikuti program Au Pair adalah harus bisa bahasa Jerman minimal level A1.
Hari-harinya pun disibukkan dengan mengerjakan skripsi, kerja sampingan sebagai penari, hingga mengikuti kursus bahasa Jerman selama 6 bulan. Sampai akhirnya ia lolos ujian sertifikasi bahasa Jerman level A1.
“Aku sempat utang karena masih nggak punya biaya kursus sebesar Rp150 ribu per bulan,” kata Ufi yang berhasil melewati tantangan tersebut.
Ufi mengaku keberhasilannya lolos program Au Pair di Jerman tak terlepas dari doa-doa yang ia panjatkan di sepertiga malam sekaligus doa dari keluarganya. Awalnya, saat Ufi mengutarakan keinginannya untuk kuliah S2 di Jerman, banyak dari sepupunya yang kebingungan bahkan orang tuanya pun ragu.
“Apalagi Bapakku sebetulnya punya banyak utang untuk bayar pendidikanku, mulai dari SMP sampai kuliah. Lah, ini tiba-tiba aku mau lanjut kuliah S2 sampai ke Jerman? Gimana cara biayainya? Begitu pula ibuku, orang kami makan untuk kebutuhan sehari-hari saja susah katanya,” ujar Ufi.
Syukurnya, Ufi berhasil membuktikan ke keluarganya dengan status penerima program Au Pair dan lulus sertifikasi bahasa Jerman. Namun sesuai ketentuan Au Pair, Ufi di sana tak bisa langsung kuliah S2 tapi kerja sebagai baby sitter dan bersih-bersih rumah untuk keluarga angkatnya.
Sang majikan merasa ditipu karena keinginan kuliah S2
Meski ragu dengan impian sang anak, kedua orang tua Ufi tetap mendukung dengan cara berdoa dan membantu kebutuhan Ufi. Ibunya bahkan sering mengantar Ufi bolak-balik ke kantor imigrasi untuk mengurus visa dan paspor.
Sampai akhirnya, hari keberangkatan ke Jerman itu tiba. Untuk biaya transportasi menggunakan pesawat, Ufi tak terlalu pening karena majikannya di Jerman bersedia membiayai keberangkatannya.
“Aku ingat banget, cuma punya pegangan uang Rp750 ribu,” ujar Ufi.
Begitu tiba di rumah majikannya yang di Jerman, Ufi secara blak-blakan mengutarakan mimpinya untuk kuliah S2 kepada majikannya. Mendengar hal itu, majikannya kaget karena biasanya pendaftar Au Pair akan langsung balik ke negaranya masing-masing setelah selesai mengikuti program.
“Dia merasa ditipu, tapi aku bilang, di motivation letter sudah aku jelaskan kalau aku mau kuliah S2 di Jerman. Barulah dia cek tulisanku. Katanya, seandainya dia baca motivation letter ku sebelum aku berangkat, dia nggak mungkin pilih aku sebagai kandidat Au Pair tapi mungkin ya itu rezekiku sampai kontrak kami berjalan selama 1 tahun,” tutur Ufi.
Ingin lanjut kuliah S2 di Jerman meski visa bermasalah
Setelah menjalani kehidupan di Jerman selama satu tahun lewat program Au Pair, Ufi lanjut belajar bahasa untuk mendaftar kuliah S2. Siapa sangka, dalam perjalanannya itu, Ufi bertemu dengan orang Indonesia yang turut membantunya meraih kampus impian.
Dari temannya itulah Ufi mengetahui soal program Brückensemester, sehingga ia bisa tinggal di Jerman sebagai seorang pelajar. Sementara, kata Ufi, kalau memperpanjang masa tinggal di Jerman lewat Au Pair, prosesnya terbilang ribet.
“Aku juga dapat bantuan jaminan dari majikannya temanku dan ditawarin untuk tinggal di rumah mereka,” kata Ufi.
Namun, kebaikan itu tak berlangsung lama sampai Ufi diusir dari rumah mereka karena sebuah konflik. Tanpa mau memperpanjang masalah, Ufi akhirnya keluar dari rumah itu dan galau bagaimana caranya memperpanjang visa.
Kebaikan hati sesama pekerja asing
Seolah menjawab keresahan Ufi, Tuhan mempertemukan Ufi pada kenalannya orang Taiwan yang pernah ia jumpai saat kerja di Jerman. Melihat dari raut wajah Ufi yang biasanya ceria kini berubah murung, ia jadi khawatir. Rupanya, masa tinggal Ufi di Jerman kurang 3 hari lagi sementara dia masih ingin melanjutkan kuliah S2.
“Aku cerita semua masalahku dan tiba-tiba dia kirim uang ke aku sebesar 7000 EUR,” kata Ufi.
Lewat kebaikan hati dari temannya itu, Ufi mampu bertahan di Jerman sambil melakukan kerja sampingan untuk memperpanjang visanya. Singkat cerita, Ufi bisa mendaftar kuliah S2 dan berhasil menyelesaikan tesisnya selama 2 tahun.
Setelah kuliah S2, dia mendapat kesempatan kerja sebagai manajer di Jerman. Beberapa hari berikutnya, barulah dia tahu kalau temannya yang orang Taiwan tadi harus balik ke negaranya karena tak mampu bertahan.
“Meskipun sedih karena dia pulang, aku memantapkan diri untuk bertahan di Jerman. Bahkan sekarang, dengan menjadi ibu rumah tangga di Jerman, aku masih bisa bantu-bantu finansial keluargaku yang dulunya susah.” Ujar Ufi.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














