ADVERTISEMENT

Crab Mentality Orang Desa Bikin Menderita Pemudanya, Kesuksesan di Perantauan Dibalas Fitnah dan Nyinyir di Kampung Halaman

slow living di desa.MOJOK.CO

Sudah hampir tiga tahun belakangan, Teguh (31) memutuskan untuk cut off secara total dengan orang-orang di desa asalnya. Menurutnya, keputusan ini diambil tak sesederhana karena ia sudah merasa telah menjadi elitis di kota.

“Orang bilang ‘dih udah jadi elitis, nggak mau bergaul sama orang desa’. Padahal mereka aku cut off karena trauma aja berhubungan dengan orang di desaku,” jelasnya, Rabu (5/11/2026).

ADVERTISEMENT

Terlebih, setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, ia merasa tak ada lagi alasan untuk mempertahankan hubungan dengan ekosistem sosial di desanya yang amat toksik.

Menurut Teguh, sebelum hubungan itu retak, ia menjalani kehidupan layaknya pemuda desa pada umumnya. Sebagai orang yang lahir dan besar dalam budaya komunal yang kental, ia selalu menyempatkan diri untuk srawung, berbaur dengan warga. 

Jika ada tetangga yang menggelar hajatan, ia rutin ikut nyinom dan rewang. Ketika ada warga yang jatuh sakit, ia turut serta dalam rombongan tilik. Menghabiskan waktu nongkrong di pos ronda bersama pemuda karang taruna juga menjadi rutinitasnya. 

“Umumnya orang desa lah. Aku dulu juga srawung.”

Crab mentality sama anak yang bisa kuliah

Masalah mulai muncul ketika Teguh melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di Yogyakarta. Jarak tempuh antara kampus dan rumahnya memakan waktu empat jam perjalanan bus. 

Rutinitas perkuliahan yang padat dan pertimbangan ongkos membuat Teguh terpaksa memangkas frekuensi pulangnya menjadi sebulan sekali. 

“Waktu itu kepikiran, kalau maksa pulang seminggu sekali, cuma dapat capek dan duit habis di ongkos,” jelasnya.

Orang tuanya sangat memahami situasi ini. Namun, tidak dengan para tetangganya. Ketidakhadiran Teguh di desa mulai memicu desas-desus.

ADVERTISEMENT

Misalnya, Teguh dituduh layaknya “kacang lupa kulit” yang tak lagi mau membaur dengan masyarakat. Setiap kali ia memiliki kesempatan pulang dan mencoba kembali berinteraksi, ia justru merasakan bahwa warga sendirilah yang sengaja menciptakan jarak. 

“Nggak ada yang mau ngajak ngobrol,” kata dia.

Puncaknya, Teguh mendengar langsung cemoohan dari lingkaran pemuda desa. Keputusannya berkuliah direndahkan dan dianggap hanya buang-buang uang serta menyengsarakan orang tua. 

Ia juga dicap tidak akan memiliki masa depan yang cerah, dengan asumsi bahwa kariernya nanti tak akan jauh berbeda dengan lulusan SMA. Lebih jauh, pergaulannya di kota dituduh hanya akan merusak moral.

Sukses di pekerjaan malah difitnah makan uang haram

Sakit hati akibat cemoohan tersebut terus ia pendam sendirian. Sayangnya, cemooh sinis tidak berhenti sampai di situ. 

Setelah lulus kuliah, misalnya, Teguh berhasil membuktikan kemampuannya dengan diterima bekerja di CSR sebuah perusahaan besar. Gajinya, sudah tentu, berada jauh di atas rata-rata pekerja seusianya. 

Secara perlahan, ia mampu mengangkat derajat ekonomi keluarganya, salah satunya dengan merenovasi rumah orang tuanya di desa.

Dalam standard umum, pencapaian Teguh adalah bentuk kesuksesan seorang perantau. Namun, di mata warga desanya, kesuksesan tersebut kembali dibayar dengan fitnah. 

Seperti, pencapaian kariernya direduksi sebatas hasil memanfaatkan “jalur orang dalam”. Ia dituduh menggunakan cara-cara kotor untuk naik jabatan. Parahnya, warga sampai menyebarkan gosip bahwa ia menilep uang perusahaan. 

“Narasi yang berkembang di desa itu nggak pernah masuk akal. Kayak ‘mana mungkin orang yang baru sebentar bekerja bisa merenovasi rumah?’, ‘kalau cuma dari gajinya ya nggak mungkin cukup’. Seolah pengen ngomong kalau aku itu korup.”

Rentetan fitnah inilah yang membuat Teguh muak dan malas berurusan lagi dengan masyarakat desa.

“Di desa, kalau kamu membeli kulkas baru, justru tetanggamu akan merasa kepanasan”

Sejak saat itu, Teguh membatasi kepulangannya hanya pada momen Lebaran, atau ketika ada urusan yang sangat mendesak. Interaksi dengan warga pun ditekan seminimal mungkin. 

Setelah ayahnya berpulang saat pandemi Covid-19, disusul oleh ibunya yang meninggal dunia dua tahun lalu, Teguh hidup sebatang kara. Hilangnya sosok orang tua sekaligus menghilangkan satu-satunya alasan yang selama ini memaksanya menoleransi perlakuan buruk lingkungan desanya. 

Ia tidak mau lagi menginjakkan kaki di sana.

Pengalaman traumatis menghadapi crab mentality di desa ternyata bukan hanya dirasakan Teguh. Wuri, seorang pekerja perantau asal Kabupaten Sleman, membagikan kisah serupa. 

Sebagai individu yang juga lahir dan besar di desa, Wuri merasakan sendiri bagaimana pencapaiannya di kota selalu diiringi komentar miring dari tetangga di kampung.

Berdasarkan pengalamannya, Wuri menyimpulkan bahwa crab mentality di desa sering kali jauh lebih parah dibandingkan di perkotaan. Di kota, masyarakat cenderung bersikap individualis dan cuek terhadap urusan orang lain. 

Kata dia, orang kota memegang prinsip bahwa urusan pribadi adalah tanggung jawab masing-masing, sehingga nyaris tidak ada ruang untuk merasa iri terhadap periuk nasi tetangganya. Sebaliknya, kedekatan sosial di desa seringkali disalahgunakan untuk mengawasi, menghakimi, dan menarik jatuh mereka yang sedang berusaha naik kelas.

“Di kota, priuk nasimu yang priuk nasimu sendiri, kita nggak mau tahu. Nah, di desa, orang selalu pengen tahu isi priuk nasimu.”

Realitas ini juga diamini secara luas oleh warganet di platform media sosial, seperti Threads. Banyak perantau yang memvalidasi bahwa kedekatan emosional di perdesaan sering kali berubah menjadi kompetisi diam-diam yang memuakkan. 

Bahkan, ada yang melempar satu analogi buat akurat memotret fenomena crab mentality ini: “Di desa, kalau kamu membeli kulkas baru, justru tetanggamu akan merasa kepanasan.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kehidupan Desa Tak Serukun Bayangan Orang Kota, Sekali Konflik Bisa Sangat Keterlaluan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 November 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.