ADVERTISEMENT

Gosip Bapak-bapak di Desa Lebih Mengerikan dari Ibu-ibu, Bikin Risih dan Memancing Fitnah tapi Mereka Selalu Denial

Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong, gosip.MOJOK.CO

Selama ini, ada anggapan yang sudah sangat melekat di masyarakat bahwa ibu-ibu adalah biang gosip. Stigmanya, di mana ada sekumpulan perempuan berkumpul, di situ pasti ada orang lain yang sedang dibicarakan. 

Namun, ada realitas lain yang sering luput dari perhatian. Kalau kita perhatikan obrolan di tongkrongan bapak-bapak, mulut mereka sebenarnya tak kalah lamis. 

ADVERTISEMENT

Bahkan, kadang gosipnya lebih bikin risih dan memicu fitnah. Anehnya, bapak-bapak ini selalu mengelak kalau dibilang suka bergosip.

Mulut bapak-bapak nyatanya lebih lamis

Pengalaman ini, salah satunya, dirasakan oleh Daus (24). Sebagai mahasiswa, ia awalnya percaya saja dengan stigma bahwa kelompok perempuan adalah sumber utama gosip. 

Namun, pola pikirnya baru berubah saat ia menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa tahun lalu. Sebagai mahasiswa yang diwajibkan membaur dengan warga, kegiatannya cukup beragam. 

Ia ikut kumpul dengan ibu-ibu PKK, membantu rewang di dapur saat warga mengadakan hajatan, sampai rutin nongkrong bareng kelompok bapak-bapak.

“Jadinya, minimal dari pengalaman singkat itu, saya jadi paham lah gimana ibu-ibu kalau lagi ngumpul, gimana juga bapak-bapak kalau lagi nongkrong,” ujarnya, Kamis (22/10/2026).

Dari interaksi keseharian itulah Daus menyadari sesuatu. Saat berkumpul dengan ibu-ibu, obrolan mereka ternyata masih dalam batas kewajaran. Mentok-mentok mereka membicarakan pusingnya urusan dapur.

Ketika ia memastikan hal ini kepada teman-teman KKN perempuannya, mereka juga sepakat bahwa dinamika mengobrol kelompok ibu-ibu aman-aman saja. Sebaliknya, saat Daus mulai rutin nimbrung di tongkrongan bapak-bapak, ia justru menemukan suasana yang sangat berbeda.

Gosip vulgar yang dinormalisasi, bahkan ngomongin orang terdekat

Sepengalaman Daus, gosip bapak-bapak cenderung vulgar. Di tongkrongan yang isinya laki-laki semua dan merasa sudah satu frekuensi, mereka dengan mudah melempar candaan atau desas-desus yang berkaitan dengan selangkangan. 

ADVERTISEMENT

Bahan obrolannya pun acak. Mulai dari sesama warga desa, tetangga dekat, sampai mahasiswa KKN sendiri tak luput jadi bahan omongan.

Karena berada di lingkungan yang menormalisasi obrolan semacam itu, satu celetukan bisa langsung disahut dengan celetukan lain. 

Dari yang awalnya cuma candaan tongkrongan belaka, lama-lama cerita itu terus ditanggapi sampai seolah-olah mereka mengamini kebenarannya. Padahal, cerita itu murni cuma ada di kepala mereka saja.

Gosip murahan yang memicu fitnah

Obrolan semacam ini nyatanya bukan cuma bikin risih, tapi pernah berujung pada fitnah yang serius. Kejadian ini dialami oleh Airin (bukan nama sebenarnya) saat ia juga sedang menjalani KKN. 

Dampak dari masalah ini bahkan lumayan panjang, sampai-sampai desa tempatnya mengabdi di-blacklist oleh pihak kampusnya.

“Kayaknya tahun ini nggak ada mahasiswa dari kampusku yang KKN ke sana lagi, ya gara-gara masalah yang aku laporin itu,” katanya, Kamis (22/10/2026).

Ceritanya bermula dari tongkrongan bapak-bapak yang melempar isu bahwa Airin menawarkan jasa open BO. Usut punya usut, gosip itu muncul hanya karena ada yang menebar candaan seksis mengenai gaya dandanan Airin yang kebetulan dinilai menor. 

Candaan itu kemudian ditimpali terus-menerus oleh bapak-bapak lain, lalu menyebar dari mulut ke mulut seolah menjadi sebuah fakta.

Puncaknya, Airin kaget bukan main lantaran ada beberapa pemuda desa, bahkan sampai tingkat pejabat RT, yang terang-terangan menghubunginya untuk menanyakan jasa “fiktif” tersebut. 

Karena merasa sangat risih dan terganggu, ia akhirnya meminta pihak kampus untuk turun tangan menelusuri dari mana akar fitnah dan gosip ini bermula.

“Waktu itu dikasuskan karena udah masuk ke ranah kekerasan seksual,” tegasnya.

Tapi bapak-bapak selalu denial

Sebagai orang yang lahir dan besar di desa, saya secara pribadi sangat mengamini cerita Daus dan pengalaman Airin. 

Saya cukup paham bagaimana cara komunikasi bapak-bapak di perdesaan. Apalagi kalau isinya pria-pria yang usianya menginjak 40 hingga 50-an tahun. Menjelang tengah malam, arah obrolannya kerap kali bikin tidak nyaman dan rawan mengundang fitnah karena gosip-gosip murahan.

Sialnya, kalau ada satu orang yang mencoba mengingatkan bahwa obrolan mereka sudah kelewat batas, mereka akan langsung membela diri. Mereka selalu denial dengan berlindung di balik tameng kata-kata seperti, “cuma semisal,” atau “namanya juga cuma bercanda, nggak usah dibesar-besarkan.” 

Kalimat andalan itu rutin dipakai untuk menutupi kenyataan bahwa mulut mereka nyatanya tak kalah lamis, dan dampak obrolannya bisa merusak hidup orang lain.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 Oktober 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.