ADVERTISEMENT

Konflik dengan Tetangga di Desa Bisa Sangat Keterlaluan dan Mengerikan, Tak Serukun Bayangan Orang Kota

Konflik atau permusuhan antara tetangga di desa bisa sangat mengerikan dan keterlaluan MOJOK.CO

Konflik atau pertengkaran dengan tetangga di desa bisa sangat mengerikan dan keterlaluan. Tidak hanya berlarut-larut, tapi juga menghancurkan citra seseorang dari gosip yang hasil karangan. 

***

ADVERTISEMENT

Setiap kali muncul narasi guyub rukun hingga ketenteraman yang menyertai konten slow living di desa, Nurin (26), pemuda asal Rembang, Jawa Tengah, hanya bisa tersenyum sinis. “Orang kota belum tahu saja, konflik di desa bahkan bisa sangat mengerikan,” begitu gumam Nurin dalam hati. 

Setidaknya di desa Nurin, jika sudah terjadi konflik dengan tetangga, maka urusannya bisa sangat panjang. Adu mulut, adu pukul, hingga ancaman pembunuhan pun dipertontonkan dengan sangat telanjang kalau emosi sudah tersulut. 

Satu hal yang pasti merusak hubungan antara warga desa

Di antara banyak contoh pemicu konflik di desa Nurin, ada satu hal yang sudah bertahun-tahun sudah pasti merusak hubungan antarwarga, yakni tiap momen pemilihan kepala desa (Pilkades). Dan sepertinya juga menjadi rahasia umum di berbagai desa lain. 

Saking ngerinya eskalasi konflik yang dipicu Pilkades, sampai muncul narasi yang banyak diamini: Pemilihan umum presiden (Pilpres) tidak ada-apanya ketimbang Pilkades. 

“Karena kalau sudah ngomongin Pilkades, nggak cukup saling merebut suara atau hina-hinaan antarpendukung calon kades. Tapi benar-benar bisa saling mengusik kehidupan pribadi hingga mengusik nyawa,” beber Nurin bercerita. 

Sejak remaja Nurin sudah kenyang dengan konflik-konflik akibat Pilkades. Ia ingat, ada momen di mana seorang tokoh desa mengisi pengajian Jumat di masjid, listrik masjid sengaja diputus oleh seorang warga hanya karena beda pilihan calon kades. Pernah juga, rumah pakde Nurin dilempari batu di jam-jam tengah malam. Perkaranya ya karena beda dukungan saja. 

“Kalau sudah perhitungan suara, jangan salah, jauh lebih runyam karena bisa sampai pukul-pukulan. Ucapan ‘Tak pateni kowe! (Kubunuh kamu!)’ terlontar sana-sini,” ujar Nurin. 

Setelah Pilkades berakhir, setelah kades terpilih, situasinya tidak lantas mereda. Sebab, selama si kades pemenang masih memimpin desa, selama itu pula pendukung calon kades yang kalah akan terus tidak terima. 

ADVERTISEMENT

Jika saling papasan di jalan tidak akan saling menyapa—bahkan bisa saling mengkonfrontasi. Sementara di belakang, cerita-cerita perihal kebusukan kades terpilih akan terus berkemnang biak di tengah warga. 

Adu mulut di tempat umum hingga tidak segan labrak di rumah

Tidak hanya di kalangan laki-laki, di kalangan perempuan—terutama emak-emak—pun bisa sangat keterlaluan. Setidaknya begitu yang diakui oleh Diah (24), perempuan yang juga asal Rembang, Jawa Tengah. 

Diah mengaku bukan sekali-dua kali menyaksikan secara langsung pertengkaran antara tetangga di desa. Bahkan ibunya sendiri pernah terlibat cekcok dengan tetangga. 

Diah mengaku pernah menyaksikan pertengkaran antara dua orang tetangga di depan umum. Kedua tetangga—yang sama-sama emak-emak—adu mulut dengan suara keras di jalanan desa yang memisahkan rumah mereka (rumah mereka berseberangan). 

Satu sama lain saling melempar sumpah serapah, caci maki, hingga kalimat-kalimat tidak pantas. Karena di jalan dan dengan suara keras, tidak pelak memancing orang-orang sekitar berdatangan. Beberapa hanya sekadar menonton, beberapa yang lain mencoba memisahkan. 

Memang tidak sampai kontak fisik. Tidak sampai jambak-jambakan. Namun, adu mulut itu sampai membuat salah satunya menangis. Sehingga perlu dipisahkan agar tidak semakin berlarut-larut, apalagi sudah ditonton banyak orang. 

“Kalau dalam kasus ibuku, aku lupa masalahnya apa waktu itu, tapi ada tetangga yang sampai ngelabrak ke rumah. Benar-benar ngelabrak, lalu marah-marah ke ibu. Lucu sih, jadi ibu dan tetanggaku itu sama-sama duduk di ruang tamu, tapi saling padu (saling marah),” ungkap Diah. 

“Lucunya lagi, ibuku sebagai pemilik rumah karena nggak nyaman akhirnya mengusir tetanggaku itu, tapi si tetanggaku nggak mau, masih memuntahkan cercaan-cercaan,” sambungnya. 

Pertengkaran itu ditutup dengan si tetangga meninggalkan rumah dengan terus mengulang kalimat “Awas ya kamu, awas kamu”. Terdengar pula ia meninggalkan rumah dengan ngedumel sampai membuat tetangga yang dengar bertanya-tanya, “Ada apa e? Ada apa e?”. 

Sisi mengerikan konflik dengan tetangga di desa: menyebar gosip hasil karangan

Namun, bagi Diah, labrakan tetangga tersebut masih belum seberapa. Yang lebih mengerikan adalah setelahnya: si tetangga bisa dengan tega menyebar gosip aneh-aneh ke Ibu Diah.

Bagaimana tidak. Tetangga Diah kemudian menggalang dukungan dari tetangga atau warga desa lain. Tiap belanja, srawung di rumah seorang tetangga, atau momen yang memungkinkan emak-emak kumpul, dimanfaatkan si tetangga untuk menyebar gosip-gosip keterlaluan. Gosip yang berasal dari hasil ngarang alias fitnah. 

“Ibuku pernah difitnah selingkuh sama guru ngaji yang duda. Hanya karena sering saling menyapa di jalan. Maksudku, kalau di desa, saling nyapa kan biasa,” ungkap Diah dengan nada kesal. 

“Pernah juga aku yang kena, dibuat-buat cerita kalau aku di sekolah (waktu itu masih SMA) hobiku pacaran. Suka digondol laki-laki ke sana-kemari, disebut sudah berbuat yang tidak-tidak,” sambungnya. 

Di titik itu, Bapak Diah sebenarnya panas dan tidak terima. Namun, Ibu Diah mencoba menahan. Karena Ibu Diah percaya, setiap perbuatan pasti ada karmanya. 

Pola-pola semacam itu mudah sekali Diah temukan di lingkungannya. Pokoknya jika terjadi konflik antara tetangga, yang terjadi pasti selalu begitu. Selain fitnah, kondisi personal pasti dikulik habis. Perkara hidung pesek hingga ukuran dada pun jadi topik gosip. Semengerikan itu. 

“Saking jijiknya, Ibuku sampai pesen, kalau aku punya cowok, kalau kelak aku mau nikah, kalau bisa jangan yang dari desa kami. Ibuku nggak mau urusan sama sesama warga desa yang ketahuan kelakuannya seperti itu. Karena ya, konflik antarbesan di desaku juga bisa keterlaluan,” beber Diah. Tujuan utamanya adalah menghancurkan citra seseorang dan membuatnya dijauhi. Dikucilkan lah. 

Mewariskan dendam permusuhan ke anak-anak hingga kiamat

Sekali konflik atau terjadi pertengkaran dengan tetangga di desa, memang bisa berlarut-larut. Nurin dan Diah tidak menampik, tetap ada yang pada akhirnya akur kembali, meski membutuhkan waktu sekian lama. Namun, ada pula yang bisa tetap saling benci, tidak saling menyapa lagi, bahkan sampai bertahun-tahun. 

Seturut persinggungan keduanya di lingkungan desa masing-masing, sekaligus berdasarkan apa yang mereka alami sendiri, orang tua akan mewariskan dendam permusuhan tersebut ke anak-anak. 

“Sesederhana, misalnya aku tadi nggak boleh nikah sama orang sesama desa. Ada juga yang melarang anaknya bermain dengan anak tetangga yang sedang dimusuhi. Sampai segitunya lah,” jelas Diah. 

“Lebaran pun, ketika semua orang saling maaf-maafan, tapi kalau dua orang tetangga sudah saling bermusuhan, ada loh yang nggak sudi buat menginjakkan kaki ke rumah tetangga yang dimusuhi untuk sekadar bilang minal aizin wal faizin,” sambungnya. 

“Kalau dalam konteksku, yang jelas, kalau sudah saling benci, pasti saling blacklist. Misalnya, Si A musuhan sama Si B. Nah, Si A nggak akan mengundang Si B buat tahlilan. Terdengar sepele, tapi itu terjadi,” pungkas Nurin. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Punya Rumah yang Jadi Tongkrongan Pemuda di Desa: Dikira Tak Nyaman karena Berisik, padahal Menikmati Banyak Manfaat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 23 Oktober 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.