Konon, punya rumah yang menjadi tongkrongan pemuda di desa itu tak nyaman. Orang kota melihatnya sebagai gangguan, isinya cuma berisik. Padahal, bagi tuan rumah, mereka menikmati banyak manfaat yang susah dipahami orang kota.
***
Belum lama ini, seorang kawan mengeluh panjang lebar. Ia baru saja pulang setelah menginap di rumah kawan kami yang lain, namanya Paskal.
Penyebabnya adalah sebuah brak, semacam pos ronda kecil, yang berada tepat di depan toko kelontong milik keluarga Paskal. Setiap malam, tempat itu berubah menjadi tempat berkumpul anak muda desa.
Ada yang main gitar, nyanyi, atau sekadar mengobrol santai. Kalau kebetulan malam Minggu, suara tawa dan obrolan mereka bisa bertahan sampai azan subuh.
“Berisik banget. Aku sampai nggak bisa tidur,” keluh kawan saya tersebut.
Kawan saya ini memang terbiasa hidup di kota. Ia merasa kenyamanannya dirampas. Namun, bagi Paskal yang memang besar di desa, keluhan yang juga ia dengarkan malam itu, justru terdengar lucu.
Rumah orang jadi tongkrongan pemuda di desa memang lazim
Di desa, sudah menjadi hal lazim jika ada satu atau dua rumah yang dijadikan tempat nongkrong. Biasanya, rumah yang terpilih punya teras yang luas, atau letaknya di depan warung seperti rumah Paskal.
Saya sendiri, yang lahir dan besar di Wonogiri, pernah merasakan bagaimana hidup di rumah yang seolah tak pernah hening. Momen itu terjadi sekitar pertengahan tahun 2006. Saat itu, demam tontonan Piala Dunia kebetulan bersamaan dengan suasana duka. Kakek buyut saya baru saja meninggal dunia.
Setiap malam, bapak-bapak dan pemuda desa datang ke rumah untuk ikut tahlilan. Uniknya, setelah selesai, mereka tidak langsung pulang. Mereka bertahan di teras hingga dini hari untuk menonton siaran sepak bola.
Kebiasaan itu ternyata bablas. Setelah Piala Dunia selesai dan masa tahlilan lewat, warga tetap datang. Mereka berlanjut menonton siaran Liga Inggris setiap malam Minggu.
Sejak saat itu, rumah saya hampir tak pernah sepi. Riuhnya orang menonton bola menjadi menu wajib, sebelum akhirnya pandemi Covid-19 datang dan membubarkan segalanya.
Malah bikin rumah jadi aman
Bagi orang kota, suara berisik dari pemuda yang nongkrong tadi adalah sebuah gangguan. Namun, bagi pemilik rumah di desa, keramaian itu adalah nyatanya punya manfaat.
Saat rumah saya sedang ramai-ramainya dijadikan tempat berkumpul, desa kami sedang dilanda musim maling. Berita rumah tetangga dibobol pencuri terdengar di mana-mana.
Anehnya, keluarga saya justru bisa tidur sangat nyenyak tiap malam. Sebanya, ya, maling mana yang berani masuk ke rumah yang di terasnya penuh dengan belasan pemuda melek sampai pagi?
Manfaat rasa aman ini juga ikut dirasakan oleh Paskal. Beberapa orang sering bertanya kepadanya: Apakah ia tidak takut barang di tokonya dicuri karena selalu dikelilingi anak muda yang nongkrong tiap malam?
Mendengar itu, Paskal hanya tertawa. Ia kenal betul siapa saja yang duduk di depan tokonya. Bahkan, orang tua Paskal sering dengan senang hati menyeduhkan kopi sachet gratis untuk menemani anak-anak itu begadang.
“Justru malam yang ramai itu yang menyelamatkan tokoku. Kita buka sampai jam dua belas malam. Mana ada maling yang berani mampir kalau di depan toko banyak anak yang masih melek?” kata Paskal, seraya tertawa.
Tongkrongan pemuda desa bikin tuan rumah nggak kesepian
Seiring waktu, hubungan antara pemilik rumah dan pemuda yang nongkrong ini punya makna yang lebih dalam.
Saya harus jujur, saya pernah berada di fase merasa terganggu. Pada tahun 2017, saat baru awal kuliah, saya selalu pulang kampung di weekend untuk mencari ketenangan dari penatnya Jogja.
Namun, sesampainya di rumah, saya malah disambut suara berisik anak-anak muda yang main gitar di teras sampai pagi. Waktu itu, saya sempat jengkel.
Namun, pandangan saya perlahan berubah setelah saya mulai bekerja dan jarang pulang kampung. Dua simbah (kakek dan nenek) saya tinggal berdua saja di rumah. Kehadiran para pemuda di teras perlahan tidak lagi saya anggap sebagai suara berisik. Mereka adalah penolong dari rasa sepi.
Dua tahun lalu, saya memutuskan untuk memasang WiFi di rumah desa. Rumah saya pun kembali ramai. Anak-anak kecil datang menumpang internet untuk menonton YouTube. Remaja desa berkumpul untuk main game bersama.
Ajaibnya, simbah saya tidak pernah mengeluh. Mereka justru mengaku sangat senang dengan kehadiran anak-anak itu. Suara berisik mereka memecah keheningan dan menemani masa tua simbah yang jauh dari cucu-cucunya.
Manfaat yang tak bisa dipahami orang kota
Bagi Paskal, perbedaan pandangan soal “berisik” dan “ramai” ini sebenarnya sangat wajar.
Orang kota terbiasa hidup dengan ritme yang cepat dan individualis. Bagi mereka, rumah adalah ruang pribadi yang tertutup rapat. Segala suara dari luar dianggap sebagai ancaman bagi ketenangan.
Sementara di desa, batas antara ruang pribadi dan ruang bersama itu sangat tipis.
Bagi kawan Paskal yang menginap malam itu, suara gitar di depan toko barangkali adalah hal yang bikin emosi. Namun, bagi orang tua Paskal, atau bagi kedua simbah saya, suara “berisik” tadi terasa seperti hiburan.
“Orang kota itu mikirnya memang terlalu individualis. Apa yang menurut mereka berisik dan ganggu, padahal buat kita di desa keramaian bikin kita nggak kesepian, dan ngerasa kalau rumah itu beneran hidup,” pungkas Paskal.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Orang Kota Ngebet Punya Rumah di Desa padahal Tak Cocok, Tampak Asri tapi di Baliknya Bikin Risi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan