Bertahun-tahun menjadi user motor matic, “pejuang jalanan” asal Gunungkidul akhirnya memilih tobat dan beralih ke Honda Revo. Meski secara tampilan nggak good looking, nyatanya motor ini berhasil menyelamatkan dompet dan nyawa pengendaranya.
***
Bagi sebagian orang, perjalanan berangkat dan pulang kerja mungkin hanya sekadar rutinitas biasa. Namun, bagi Bayu (32), seorang karyawan swasta yang tinggal di Sambipitu, Gunungkidul, perjalanannya adalah ujian harian.
Setiap pagi, bapak beranak satu ini harus memacu motornya menuju tempat kerjanya di pusat Kota Jogja. Jarak dari rumah ke kantornya sekitar 35 kilometer. Artinya, dalam sehari ia harus menempuh jarak 70 kilometer pulang-pergi.
Sementara waktu tempuhnya bisa 45 menit kalau jalanan sedang sepi. Namun, seringkali molor hingga lebih dari satu jam kalau sudah terjebak macet parah di kawasan Piyungan atau Jalan Wonosari.
Selama bertahun-tahun, Bayu mengandalkan motor matic keluaran 2018 untuk menemani rutinitasnya. Alasannya sederhana: matic itu praktis, tinggal putar gas dan tarik rem. Tidak perlu repot oper gigi saat jalanan macet.
Namun, realitas hidup berkeluarga dan kerasnya rute Gunungkidul-Jogja perlahan mengubah pandangannya. Kepraktisan motor matic ternyata harus dibayar mahal dengan biaya perawatan dan uang bensin yang terus membengkak.
Beralih ke Honda Revo yang nggak good looking, dan sempat dipertanyakan istri
Hingga akhirnya, tahun lalu, Bayu mengambil keputusan yang cukup berani. Ia menjual motor matic kesayangannya dan menggantinya dengan Honda Revo.
Keputusan ini awalnya sempat bikin istrinya geleng-geleng. Wajar saja, di mata banyak orang, Honda Revo punya stigma atau cap yang agak “unik”. Kalau bicara soal “tampang”, motor ini jelas sering dibilang kurang good looking atau ketinggalan zaman dibandingkan motor-motor matic kekinian yang desainnya keren dan modern.
“Istri kan lihatnya modelnya. Udah telanjur suka sama motor yang lama, jadinya agak gimana-gimana waktu jualnya,” ungkapnya, Senin (23/2/2026).
Bahkan, julukan untuk Revo di jalanan cukup banyak yang bernada miring. Ada yang menyebutnya “motor bapak-bapak”, “motor koperasi”, sampai “motor debt collector” karena saking seringnya dipakai oleh petugas penagih cicilan keliling atau bank plecit. Urusan gengsi di tongkrongan, pakai motor ini jelas kalah jauh.
Namun, di balik ledekan dan cap sebagai motor bank plecit itu, Bayu sebenarnya sudah mengantongi banyak testimoni dari teman-temannya sesama pejuang jalanan. Di balik bodinya yang kurang good looking itu, mereka semua sepakat kalau Revo itu “motor badak”.
Mesinnya terkenal sangat bandel, jarang rewel, dan bensinnya super irit seolah-olah “cuma dicium” saja sudah bisa jalan jauh. Informasi dari mulut ke mulut inilah yang membulatkan tekad Bayu.
Pakai Honda Revo nyatanya lebih nyaman di dompet
Keputusan “tobat” dari matic yang ia lakukan 2025 lalu ini nyatanya masuk akal, terutama kalau untuk urusan menekan pengeluaran harian. Pasalnya, jarak tempuh 70 kilometer sehari benar-benar menyedot isi bensin motor matic lamanya.
“Waktu masih pakai matic, saya tiap kali berangkat kerja atau mau pulang sudah pasti mampir pom bensin. Sehari pasti habis sekitar 20 atau 25 ribu lah kalikan dua karena PP, cuma buat bensin lho,” cerita Bayu.
Motor matic memang cenderung lebih boros, apalagi kalau sering dipakai di jalanan menanjak dan macet, karena tenaga mesinnya banyak yang terbuang di sistem penggeraknya (CVT).
Begitu pindah ke Honda Revo, perbedaannya langsung terasa. Motor bebek dengan gigi manual ini menyalurkan tenaga langsung ke roda melalui rantai, sehingga jauh lebih hemat.
“Sekarang, isi bensin 25 ribu itu bisa buat dipakai seharian penuh, kadang malah masih sisa buat besok paginya. Selisih uang bensinnya lumayan banget, bisa buat jajan anak atau disisihkan,” tambahnya.
Tak ada lagi bunyi “gredek” dan servis bulanan yang mahal
Pengguna matic pasti tahu betul rasa tidak nyamannya saat tarikan awal motor terasa bergetar parah atau biasa disebut gredek. Penyakit ini sering banget muncul kalau motor matic dipakai jarak jauh atau sering melewati jalan menanjak.
Bayu mengaku sangat lelah dengan urusan bengkel ini.
“Dulu pakai matic, tiap bulan jadwalnya pasti bersihin CVT biar nggak gredek. Belum lagi kalau mekaniknya bilang harus ganti v-belt, roller, atau kampas ganda. Sekali servis bisa habis ratusan ribu. Bikin pusing kepala,” keluhnya.
Di Honda Revo, sistemnya jauh lebih sederhana. Tidak ada yang namanya…
Baca halaman selanjutnya…
Nyawa lebih aman mengjadapi turunan tajam di Bukit Bintang.
Di Honda Revo, sistemnya jauh lebih sederhana. Tidak ada yang namanya CVT. Mesin penggeraknya cuma pakai rantai dan gir biasa.
“Perawatan Revo itu murah meriah. Paling cuma rutin ganti oli mesin. Kalau rantainya kendor, ya tinggal minta disetel ke bengkel, bayarnya cuma beberapa ribu rupiah. Rantai juga umurnya panjang, bisa tahunan baru ganti,” jelas Bayu.
Nyawa lebih aman di turunan tajam Bukit Bintang
Rute perjalanan Bayu melewati kawasan Bukit Bintang yang punya turunan sangat panjang dan tajam. Di sinilah letak kelemahan terbesar motor matic jika dipakai harian. Saat jalan menurun, motor matic rasanya nyelonong begitu saja ke bawah, dan pengendara hanya bisa mengandalkan tarikan rem tangan.
Sebenarnya, bawa motor matic di turunan tajam bisa saja aman asalkan pengendara benar-benar fokus dan pintar mengatur tuas rem supaya kampasnya tidak cepat panas. Tapi, mari bicara jujur soal kondisi fisik para penglaju seperti Bayu.
“Saya berangkat dari rumah itu kadang jam setengah enam pagi. Mata masih sepet, nyawa kadang belum kumpul seratus persen,” kata Bayu. Di kondisi yang masih agak ngantuk seperti itu, menahan tuas rem terus-menerus di turunan panjang sangat menyiksa jari tangan dan butuh konsentrasi tinggi.
Belum lagi saat perjalanan pulang di malam hari. Badan sudah sangat kelelahan setelah delapan jam bekerja di kantor, fokus berkendara pasti menurun drastis.
“Bagi saya, bawa matic di Bukit Bintang pas badan lagi capek-capeknya itu bahaya. Lengah sedikit, motor bisa meluncur tak terkendali. Pernah kejadian rem matic saya ngepos (hilang tekanan), untung masih bisa pelan-pelan minggir,” kenang Bayu.
Nah, rasa was-was ini sirna sejak ia beralih ke Honda Revo. Motor bebek punya penolong alami yang namanya engine brake (pengereman dari mesin).
“Kalau pas jalan menurun tajam, saya tinggal masukin gigi dua atau gigi satu. Nggak capek-capek nekan tuas rem. Bisa lebih nyantai kan jadinya,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
