Siapa yang tak lebih sakit hatinya saat menonton konten endorse milik akun Instagram @violettaxandrea, jika bukan teman-teman difabel itu sendiri. Kreator konten yang akrab dipanggil Xander itu akhirnya meminta maaf setelah menerima kecaman dari masyarakat karena kontennya memuat ableisme yang merendahkan teman difabel.
“Aku meminta maaf atas sikap aku yang tidak bijak dalam pembuatan konten. Konten yang aku buat menyinggung penyandang disabilitas dan anak berkebutuhan khusus,” kata Xander, Jumat (5/6/2026).
Dalam video klarifikasi tersebut, Xander turut menyesali perbuatannya, karena telah banyak mempromosikan produk kecantikan dengan meniru kondisi kelompok difabel untuk menarik perhatian penonton.
Di salah satu konten misalnya, dia mencoba memiringkan mulut dengan bola mata menghadap ke atas seperti kondisi difabel yang mengalami gangguan saraf. Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah biasa saja tanpa kesakitan.
Selanjutnya, dia menggunakan lipstik milik brand ternama sembari menikmati musik dan sesekali ikut bernyanyi. Karena kritik dari masyarakat, Xander pun berjanji tidak akan mengulanginya.

“(tapi) mohon maaf kalau ada beberapa video yang tidak bisa dihapus karena masih ada kontrak kerja sama dengan brand yang tidak bisa aku hapus secara sepihak,” tuturnya.
“…izinkan aku untuk berbenah diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Sekali lagi, aku meminta maaf atas apa yang aku lakukan. Terima kasih,” tutupnya.
Ableisme menganggu masalah kesehatan mental
Resah melihat video Xander yang masih beredar, dokter umum lulusan Universitas Indonesia, Adam Prabata akhirnya angkat suara di akun Threads pribadinya. Dia menilai bahwa apa yang dilakukan Xandrea tergolong ableisme, yakni tindakan diskriminasi, prasangka, atau stereotip yang merendahkan teman difabel.
“Hal-hal kaya begini, yang dinormalisasi, apalagi dijadikan konten hiburan, hitungannya NGGAK LUCU!” serunya, dikutip Kamis (18/6/2026).
Adam mengungkapkan bahwa kelompok difabel yang menonton video Xandrea dapat mengalami masalah kesehatan mental, termasuk rasa malu yang memicu gejala depresi dan kecemasan.
Melansir jurnal berjudul “Humor that Hurts: An Exploration of Jokes about Black Women with Disabilities on TikTok in South Africa”, humor semacam itu justru memperkuat stereotip negatif pada kelompok difabel, karena menurunnya rasa empati di masyarakat.
“Korban jadi sering mengalami ejekan, cyberbullying, dan self-censorship karena takut diejek lebih lanjut, sehingga bisa menyebabkan distress emosional bagi penyandang disabilitas meskipun pembuat konten mengklaim ‘hanya bercanda’,” jelas Adam.
Mengingat dampaknya yang kian nyata, pelaku ableisme seharusnya dapat dipidanakan jika tindakan tersebut mengarah pada perundungan, pencemaran nama baik, atau penghalangan hak. Hal itu diatur secara khusus dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), serta UU ITE.
Ableisme dilihat dari aktor dan konteksnya
Sebagai penyandang tunanetra, Alfian Andhika berujar, adanya ableisme bukan berarti kelompok difabel anti terhadap humor. Namun, memang harus dilihat dulu siapa yang menyampaikan dan apa konteksnya.
“Kalau yang dilakukan oleh konten kreator di atas sebagai nondisabilitas, itu termasuk menghina kami. Bahkan, aku saja yang tunanetra lalu meniru teman-teman tunarungu, itu sudah melanggar norma,” jelas Alfian kepada Mojok, Rabu (17/6/2026).
Hal itu berbeda dengan konsep stand up yang pemainnya adalah penyandang disabilitas. Menurut Alfian, mereka masih bisa menerima humor tersebut karena tujuan pemain jelas, yakni menghibur penonton dari pengalaman atau keresahan pribadi komunikator.
“Walaupun ada yang merasa sedih, tapi saya mengartikan bahwa mereka sudah berdamai dengan dirinya,” tutur alumnus S2 Universitas Airlangga (Unair) tersebut.
Teman difabel hanya ingin dihargai
Bentuk ableisme lain juga bisa terjadi ketika ada seseorang yang menanyakan kondisi seorang difabel ke orang lain. Jika penasaran, orang tersebut seharusnya dapat langsung bertanya ke teman difabel.
“Nggak perlu bisik-bisik ke orang tua, saudara, atau pendamping yang ada di sana. Itu sangat aneh dan terkesan tidak menghargai. Jadi sebaiknya, tanyakan langsung ke orangnya, dia disabilitas karena apa,” jelas pemuda asal Surabaya itu.
Alih-alih menyoroti kondisi fisik mereka, Alfian mengungkap ada isu besar yang seharusnya diperjuangkan bersama untuk teman-teman difabel. Yakni masalah seperti kuota dan syarat pekerjaan, bahkan akses pendidikan inklusif yang belum merata di Indonesia.
“Tidak semua teman disabilitas diterima di sekolah negeri atau kampus hanya karena institusi tidak siap. Saya masih banyak menjumpai fenomena itu,” ujar Alfian.
Dari kejadian ableisme di atas, Alfian berharap masyarakat tidak berpikir bahwa penyandang disabilitas terlalu gila hormat atau baperan. Mereka hanya ingin diperlakukan sebagaimana manusia yang berhak untuk hidup.
“Perlakukanlah kami sebagaimana teman-teman memperlakukan diri sendiri,” ucapnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Memanusiakan Difabel bersama Relawan PRYAKKUM dengan Mewujudkan Lingkungan yang Inklusif atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan