Di sebuah kedai kopi di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Akramul Faroghy Sadin sanggup menghabiskan waktu dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam duduk menghadap laptopnya. Ia sedang serius menuntaskan menulis sebuah esai.
Esai itulah yang kemudian terpilih untuk dipresentasikan dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 di Badung, Bali, pada Kamis (25/6/2026) sore, bersama esai-esai lain yang ditulis oleh mahasiswa dari berbagai daerah.
Menulis esai awalnya kurang menarik dan terkesan remeh
Oghy adalah mahasiswa semester 6 Fakultas Kedokteran Universitas Mataram (Unram).
Oghy mengaku sejak SMA ia sebenarnya kurang tertarik dengan dunia tulis-menulis. Tidak terkecuali menulis esai. Ia lebih suka berbicara di depan kamera. Kecenderungan tersebut bertahan hingga masa-masa awal kuliah.
“Waktu itu juga belum tahu, memang apa sih kegunaan skill menulis ini? Sementara kan aku nggak sedang meniti jalan menjadi penulis,” ungkap Oghy saat saya ajak berbincang selepas presentasi.
Lingkungan pertemanan Oghy pun sama halnya. Menulis esai awalnya dianggap kurang begitu bergengsi. Pertanyaan mereka: Memang apa yang bisa dihasilkan dari menulis? Memangnya masih ada orang baca di tengah gempuran konten-konten audio-visual?

Saat pikiran dan kepekaan terbuka
“Tapi ternyata kekuatan tulisan itu luar biasa,” ujar Oghy dengan tatapan berbinar. Kesadaran itu ia dapat setelah kemudian mengikuti pelatihan argumentative writing—dan segala rentetannya.
Mulanya begini: Pada semester 5 Oghy diterima sebagai penerima program Djarum Beasiswa Plus (disebut Beswan Djarum). Nah, setiap tahun para Beswan Djarum ditantang adu gagasan melalui kompetisi esai argumentatif (Essay Contest).
Sebelum itu, para Beswan Djarum memang akan mendapat pelatihan Leadership Development terlebih dulu. Di dalamnya meliputi, “Gritty Leadership”, penulisan esai “Argumentative Writing”, dan public speaking “Speak to Convince”.
“Di situ saya sadar, menulis esai itu ternyata melibatkan proses berpikir kritis (critical thinking), kepekaan terhadap sekitar, dan harus punya argumen yang terstruktur dan solid,” kata Oghy.
Membaca sinyal buruk limbah bubble wrap dan warisan gagasan
Kepekaan Oghy terhadap sekitar pun tumbuh. Pikiran kritisnya tidak mau ketinggalan bekerja.
Suatu kali, di sebuah kamar kosnya di Kota Mataram, Oghy menatap penuh kesangsian sebuah paket yang baru saja ia terima dari seorang kurir. Ia merasa ada yang janggal dari penggunaan bubble wrap sebagai pembungkus tersebut.
Oghy lalu menemukan masalah: lonjakan belanja daring yang memicu masifnya penggunaan bubble wrap ternyata bisa memperparah krisis pengelolaan sampah plastik.
“Bubble wrap berlapis, plastik pembungkus, dan selotip yang melingkar (dalam paket) akan berakhir di tempat pembuangan sampah hanya dalam hitungan detik setelah kemasan dibuka. Tapi pengelolaanya nggak efektif,” beber Oghy.
Dalam artikel ilmiah berjudul The Environmental Impacts of Packaging and E-commerce (2017) yang ditulis oleh Roland Geyer dan kolega, para peneliti menjelaskan bahwa kemasan plastik sekali pakai menjadi salah satu sumber limbah yang paling sulit ditangani karena memiliki umur penggunaan yang sangat singkat namun waktu degradasi yang sangat panjang.
Dari situ, berhari-hari Oghy bergelut dengan berbagai sumber data dan literatur. Pikirannya mencoba mengurai masalah, lalu berpikir keras untuk menemukan solusi efektif atas persoalan sampah plastik.
Setelah seminggu, jadilah esai berjudul Di Balik Setiap Lapisan Paket: Ancaman Masif Limbah Plastik Bubble Wrap di Era Belanja Daring. Esai yang pada akhirnya mengantarkan Oghy menjadi 1 dari 16 finalis Essay Contest Beswan Djarum 2026 usai menyisihkan 517 peserta lain dari 103 perguruan tinggi di 38 provinsi.
“Aku mulai sadar, menulis esai itu selain memantik kepekaan, critical thinking, dan kemampuan mengurai masalah serta mencari solusi, juga jadi warisan gagasan. Kalau aku punya gagasan, tapi nggak ditulis, maka orang lain nggak akan pernah tahu gagasanku seperti apa,” ungkap Oghy.
Perkara menulis esai ternyata beri soft skills penunjang karier
Keterampilan menulis esai memang tidak sepatutnya dipandang sebelah mata. Begitu kata Abraham D. Oktaviari, Program Manager Bakti Pendidikan Djarum Foundation.
Ditemui di sela acara, Abraham menyebut bahwa keterampilan menulis esai ini nantinya bisa menunjang karier anak-anak muda setelah lulus kuliah dan berpenghasilan layak. Sebab, proses menulis sejatinya tidak hanya perkara mengolah kata. Tapi ada ragam soft skills yang turut terasah di dalamnya.
“Sebenarnya karya esai ini kan sangat dekat dengan soft skill yang sebenarnya sangat relevan dengan dunia kerja. Industri mencari orang-orang dengan analisis kuat dan tajam, gagasan segar, serta punya kemampuan memecahkan masalah,” papar Abraham.
“Oleh karena itu, orisinalitas jadi salah satu nilai utama dalam kompetisi ini, untuk mengukur seberapa jauh para finalis bisa memunculkan kebaruan,” sambungnya.
Kemampuan-kemampuan tersebut, jelas Abraham, bisa semakin terasah melalui proses menulis esai karena telah mencakup: critical thinking (berpikir kritis), creative thinking (berpikir kreatif), dan computational thinking (kemampuan memecahkan masalah).
Jika merujuk laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) berjudul Skills Outlook, disebutkan bahwa ekonomi abad ke-21 semakin bergantung pada kemampuan kognitif tingkat tinggi dibandingkan pekerjaan yang bersifat rutin.
Dalam konteks tersebut, menulis argumentatif menjadi sarana latihan yang efektif karena menggabungkan kemampuan analisis, sintesis informasi, kreativitas, dan komunikasi.
Selain itu, penelitian David Deming dalam artikel The Growing Importance of Social Skills in the Labor Market yang terbit di Quarterly Journal of Economics (2017) bahkan menunjukkan bahwa pekerjaan yang membutuhkan kemampuan berpikir kompleks dan komunikasi mengalami pertumbuhan lebih cepat dibanding pekerjaan yang mengandalkan keterampilan teknis rutin.
Dengan demikian, kemampuan menulis bukan lagi sekadar keterampilan akademik, melainkan modal profesional yang bernilai ekonomi di masa mendatang.
Dulu dipertanyakan “buat apa?” kini jadi incaran
Oghy akhirnya menikmati proses menulis esai. Karena di sanalah ia bisa mengurai masalah menjadi sebuah solusi berdampak.
Tidak hanya berhenti di Oghy, melihat betapa keterampilan menulis esai ternyata masih punya ruang besar di era gempuran video pendek media sosia, teman-temannya yang dulu tidak tertarik pun akhirnya justru punya ketertarikan serius.
“Dulu aku berjam-jam di depan laptop buat nulis esai jadi pertanyaan, buat apa sih? Sekarang mereka ingin dapat beasiswa juga untuk mengakses pelatihannya,” tutur Oghy.
Orang tua Oghy di Lombok pun, kata Oghy, tidak punya alasan untuk tidak mendukung. Sebab, menulis esai tidak hanya sekadar menjadi keterampilan baru bagi putra mereka. Tetapi juga menjadi jalan untuk membuka peluang-peluang yang lebih besar.
“Aku sih berharap bisa ngasah soft skills tersebut terus. Dengan begitu aku dilihat sebagai orang yang punya integritas, itu bakal memudahkan dalam dunia kerja, selain jejaring,” pungkas Oghy.***(Adv)
BACA JUGA: Menulis di Media adalah Cara Termudah Menjadi Terkenal dan Meninggalkan “Warisan” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan