Denting logam terus beradu saat palu memukul besi hingga berwarna merah menyala karena panas. Suara-suara itu terasa familier bagi warga Koripan di Klaten yang mayoritas berprofesi sebagai pandai besi.
Generasi keempat pandai besi di Koripan, Klaten
Selama ratusan tahun, warga di Desa Koripan, Klaten masih mempertahankan pekerjaannya sebagai pandai besi. Hanif Joko Prasetyo adalah salah satunya. Dia merupakan generasi keempat yang sudah mengkreasikan besi menjadi alat pertanian sejak tahun 2015.
Hanif, sapaan akrabnya, mengaku tak perlu waktu lama untuk belajar karena sejak kecil sudah terbiasa berada di lingkungan perajin besi. Secara otomatis, nalurinya untuk mengkreasikan besi jadi terasah.
“Karena berada di lingkungan mayoritas perajin besi, jadi banyak yang ngajarin termasuk bapak, tetangga, dan teman-teman. Untuk belajar pun tidak sulit,” kata Hanif saat ditemui Mojok di Museum Besalen Koripan, Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten pada Kamis (20/8/2026).
Hanif menjelaskan, biasanya butuh waktu sekitar 1 sampai 2 minggu bagi pemula untuk belajar teknik dasar, sedangkan untuk menjadi pande besi profesional dibutuhkan waktu yang panjang.
“Setiap orang beda-beda, ada yang 2 minggu belajar bisa menghasilkan pisau dapur dan spatula,” jelasnya.

Selain peralatan dapur, para perajin besi di Desa Koripan, Klaten juga memproduksi alat pertanian seperti sabit, cangkul, sorok, dan sebagainya. Barang yang sudah jadi selanjutnya dikirim ke konsumen.
“Setiap perajin memiliki pasar sendiri-sendiri dan setiap pasar itu tidak mau sembarangan dimasuki produk. Ada yang dari luar Jawa dan yang paling jauh ada di Papua,” ucap Hanif.
Melepas kerja di perusahaan sebagai pandai besi
Selama 10 tahun menggeluti industri pandai besi, Hanif mengaku dapat keuntungan yang lumayan. Setidaknya, penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dia beserta keluarga.
“Kalau saya sendiri, yang pasti (gajinya) di atas UMR Klaten (Rp2,5 juta lebih di tahun 2026). Bahkan, gaji dari suatu perusahaan rasanya masih kalah jika dibandingkan dengan penghasilan perajin besi,” ucap Hanif.
“Faktanya, beberapa orang yang sudah berusia 40 tahun ke atas dengan kebutuhan ekonomi yang agak tinggi, dia melepaskan pekerjaan di PT untuk bekerja sebagai pandai besi,” lanjutnya.
Selain untung secara materi, Hanif berujar ada banyak nilai-nilai kehidupan yang dia dapatkan sebagai perajin besi. Bagi Hanif, menjadi pande besi harus memiliki kesabaran ekstra terutama saat penyepuhan, yakni proses memanaskan logam hingga merah, lalu dicelupkan ke air dingin secara cepat agar hasilnya keras dan kuat.

“Proses itu membutuhkan insting yang tajam. Jika suhu besi yang dicelupkan ke dalam air tidak pas, besi tersebut bisa pecah, sedangkan kalau suhunya kurang, besi yang dihasilkan pun jadi tidak keras,” jelasnya.
Lebih dari itu, sabar, kata Hanif, juga bisa dimaknai secara luas. Dalam kehidupan misalnya, sabar mengajarkan manusia agar tidak terburu-buru mendapatkan hasil yang instan. Begitu pula kesabaran dalam mempelajari sesuatu.
Para pandai besi yang merawat sejarah besalen di Koripan
Guna melestarikan nilai-nilai di atas, Hanif bersama Tim Kelompok Studi dan Penelitian (KSP) Principium Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) mendirikan Museum Besalen Koripan pada 7 September 2025.
“Museum Besalen Koripan ini dibuat agar generasi setelah kami juga tahu, oh seperti ini bentuk atau display dari besalen pada masa lalu,” jelas Hanif.
‘Besalen’ sendiri merupakan istilah bengkel atau tempat mengkreasikan logam, sementara ‘Koripan’ berasal dari kata Kahuripan yang dikenal sebagai sentra pandai besi dan merujuk pada tiga desa, yakni Desa Kranggan, Desa Segaran, dan Desa Keprabon.

Seiring berjalannya waktu, tradisi pembuatan senjata seperti keris dan pedang mulai berkurang, sehingga para perajin besi beralih ke alat rumah tangga, pertukangan, dan pertanian. Namun, beberapa barang bersejarah seperti keris di era Kesultanan Mataram pada 1613 hingga 1645 masih tersimpan di Museum Besalen Koripan.
“Sekarang sudah banyak besalen yang dimodernisasi. Jadi kami ingin tunjukkan barang-barang yang kami tampilkan di museum benar-benar yang konvensional,” kata Hanif.
Generasi muda harus mampu melihat peluang
Hanif tak memungut sepeser pun uang dari wisatawan yang ingin berkunjung ke Museum Besalen Koripan. Pengunjung hanya perlu melakukan konfirmasi lewat WhatsApp di nomor berikut: 085729099975.
“Konfirmasi saja, yang penting tidak dadakan, maksimal H-2, dan mau seperti apa kunjungannya, sehingga kami bisa rencanakan agendanya,” ujar Hanif.
Selain berkunjung ke Museum Besalen Koripan, Hanif juga menawarkan paket lain, seperti kunjungan ke rumah-rumah warga untuk makan opor bebek khas Polanharjo atau ke para perajin untuk membeli buah tangan.
Semua itu dilakukan Hanif sebagai upaya merawat ingatan sejarah besalen di Koripan, Klaten. Meski tak sendirian, Hanif mengaku masih sedikit generasi muda yang mau belajar dan menjaga warisan budayanya.
“Tidak semua orang bisa membaca peluang tersebut dan tidak semua orang bisa mengolah peluang itu,” ujar Hanif mengingat manfaat yang dihasilkan sebagai pandai besi.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Para Pelukis Payung di Klaten, Hasilkan Jutaan Rupiah dari Desa Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan