ADVERTISEMENT

Seporsi Soto Garing Delanggu: Cara Sudiman Merawat Cinta untuk Sang Istri hingga Sukses Menguliahkan Tiga Anak

Soto Garing Bu Yati di Delanggu, Klaten. MOJOK.CO

Meski terpaut usia 8 tahun dengan istrinya, Sudiman (76) masih merawat cintanya dengan baik hingga sang istri, Yati, tutup usia. Nama kekasihnya itu pun disematkan dalam usaha legendaris miliknya, yakni Soto Garing Bu Yati, yang diklaim sebagai masakan soto garing pertama di Delanggu, Klaten. Dari bisnis itulah, keduanya mampu membiayai tiga dari lima anaknya untuk kuliah.

***

Sudiman berujar lapak makanan yang dia jual mulanya menggunakan nama dia, tapi kemudian berganti menjadi nama sang istri sebagai bentuk penghormatannya kepada Yati. Dia pun meyakini usahanya dapat lebih berkembang dan laris jika menggunakan nama sang istri.

“Istri saya tadinya saya ajak ke pasar itu malu, lah baru umur 16 tahun kok mungkin masih mau senang-senang, dolan, opo-opo jek dimanja wong tuwo. Kok yo mau karo aku yoan,” kelakar Sudiman saat ditemui di rumahnya yang tak jauh dari warung Soto Garing Bu Yati, samping Pasar Delanggu, Klaten pada Kamis (20/8/2026).

Meski malu-malu, Sudiman berujar Yati tetap mendampinginya berjualan di dalam pasar. Hingga akhirnya dia betah dan membantu Sudiman memasak di dapur. Sampai-sampai, istrinya tidak mau libur kecuali saat Lebaran tiba. Itu pun hanya satu hari.

Pernah berjaya di Delanggu, Klaten era 80-an

Sudiman. MOJOK.CO
Sudiman saat ditemui di rumahnya. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Sebelum meminang Yati, Sudiman mengaku sempat bekerja sebagai guru. Namun setelah menikah, penghasilannya selalu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga dia mencari peluang lain dengan berjualan di pasar.

“Kebanyakan angkatan saya sudah (merantau) di Pemalang sampai Brebes, tapi saya nggak mau, nah ning kunu engkok piye? Opo cukup? (di sana nanti bagaimana? Apa cukup),” kata Sudiman yang memutuskan tinggal di Delanggu, Klaten.

Sudiman yang sebetulnya tak jago-jago amat memasak akhirnya berusaha mencoba berbagai resep makanan mulai dari sop, ayam bakar, garang asem, opor hingga soto babat bersama sang istri. Sampai kemudian, warung makannya mulai booming di era tahun 80-an.

Saking ramainya pelanggan, Sudiman sampai harus mencari babat sebanyak 20-25 kilogram di Salatiga, karena persediaan di Klaten tidak cukup. Dalam satu hari, dia juga harus menyediakan beras sebanyak 30-40 kilogram, yang dibantu oleh 14 pegawai.

Awal mula Soto Garing Bu Yati yang berkuah sedikit

Namun, kejayaan Sudiman tak berlangsung lama khususnya saat terjadi reformasi Indonesia pada tahun 1998. Akibat peristiwa tersebut, Sudiman harus memutar otak agar bisnis kulinernya mampu bertahan di Delanggu, Klaten.

“Di masa itu, daya beli masyarakat semakin menurun, pabrik beras banyak yang tutup, banyak juga yang asam urat setelah makan babat, harga kebutuhan pokok juga naik,” tutur Sudiman.

Soto dengan kuah sedikit. MOJOK.CO
Soto Garing Bu Yati dengan kuah sedikit. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Oleh karena itu, Sudiman mengurangi beberapa menu hingga tersisalah menu soto. Di tengah upaya efisiensi tersebut, secara tak sengaja Sudiman mendapat pelanggan anak-anak yang merengek tak mau makan soto dengan kuah. 

Alhasil, Sudiman hanya menambahkan kuah sedikit agar si anak mau makan. Ndilalah, tak hanya anak itu yang suka, tapi juga orang dewasa yang menjadi pelanggannya. Sejak saat itu Sudiman mulai mem-branding nama Soto Garing Bu Yati, sekaligus menjadi yang pertama di Delanggu, Klaten.

Jane yo mung koyo ngunu, soto e kering ra nganggo kuah (sebenarnya ya cuma begitu, sotonya kering tidak pakai kuah). Terus mulai tersebar ke mana-mana, wong-wong tuwo podo seneng (orang-orang tua juga senang),” jelas Sudiman.

Salah satu penikmat Soto Garing Bu Yati di Pasar Delanggu, kata Sudiman, adalah para petani yang mulai sibuk di musim tanam. Pemilik sawah biasanya akan memesan Soto Garing Bu Yati untuk dimakan ramai-ramai saat istirahat.

“Karena kalau ngirim soto berkuah ke sawah repot. Kalau garingan kan cuma dibungkus. Saiki lak ngirim ora nganggo iwak podo ora gelem ok (sekarang kalau ngirim nggak pakai lauk, petaninya nggak mau),” kelakar Sudiman.

Kuliahkan anak dari hasil jualan Soto Garing Bu Yati 

Warung soto garing Bu Yati. MOJOK.CO
Warung Soto Garing Bu Yati di belakang Pasar Delanggu, Klaten. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Siapa sangka, Soto Garing Bu Yati yang berdiri sejak tahun 1974 kini masih eksis berdiri dan tetap buka dari pukul 03.30 WIB hingga 13.40 WIB. Jam itu menyesuaikan rutinitas warga di Pasar Delanggu, Klaten, terutama warga yang ingin sahur di bulan Ramadan.

Selama 52 tahun berdiri, Sudiman turut menyesuaikan harga. Namun, dia tak mau mendapat untung muluk-muluk. Begitu pula anak-anaknya yang kini menggantikan usaha miliknya. Mereka memilih patuh terhadap pesan sang bapak.

Gusti Allah ki adil, wong dagang pasti ono pasang surut. Harus kuat mental, harus tekun,” ujar Sudiman.

Di tengah situasi ekonomi yang tak menentu, Sudiman pun tak merasa perlu bersaing dengan pedagang sekitar melainkan saling bahu-membahu. Sebab kata dia, semua orang pasti butuh makan untuk hidup.

Oleh karena itu, seporsi Soto Garing Bu Yati dia patok harga Rp7 ribu, sementara jika menambah topping potongan jeroan harganya Rp10 ribu. Pelanggan pun dapat meminta tambahan kuah jika tak ingin kuahnya terlalu sedikit.

Toh, lewat bisnis kulinernya itu dia masih bisa beli rumah di Delanggu, Klaten hingga membiayai tiga anaknya kuliah, yang salah satunya sudah bergelar sarjana Universitas Sebelas Maret (UNS). Sementara dua anaknya telah meninggal, jauh sebelum menyentuh bangku kuliah.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Pengalaman Pertama Orang Surabaya Mencicipi Soto Bening di Pasar Gede Bu Harini Solo yang Sudah Berdiri Sejak Empat Generasi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 September 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.