Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Para Pelukis Payung di Klaten, Hasilkan Jutaan Rupiah dari Desa Sendiri

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
21 Oktober 2025
A A
Perajin payung hias di Paguyuban Ngudi Rahayu, Juwiring, Klaten. MOJOK.CO

ilustrasi - payung hias khas Juwiring, Klaten. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang bapak tua turun dari sepeda onthelnya memasuki halaman paguyuban payung hias “Ngudi Rahayu”, ketika saya sedang asyik memotret. Tepatnya di Dusun Gumantar, Tanjung, Juwiring, Klaten, Jawa Tengah.

Bapak itu lalu memarkirkan sepedanya di dekat payung-payung hias yang terjemur di halaman. Ia kemudian menyapa saya dan mempersilahkan saya untuk melihat-lihat payung di dalam. Rupanya, ia baru saja istirahat sebentar untuk mencari makan di luar.

Iklan

“Monggo Mbak, lihat-lihat saja ke dalam. Saya izin lanjut melukis payung ya,” kata perajin lukis payung tersebut yang tampak terbiasa dengan kedatangan orang baru.

Ia bercerita bahwa paguyuban Ngudi Rahayu kerap menjadi wisata edukasi bagi kalangan siswa maupun mahasiswa. Di sana, para pengunjung bisa membeli atau sekadar melihat proses pembuatan payung lukis yang mulai langka di masa kini. Pantas saja, Bapak itu tak merasa terganggu.

“Saya sehari bisa melukis 20 payung Mbak,” ucap bapak itu saat saya tanya pada Rabu siang (15/10/2025).

Kerja di Klaten dengan upah sekitar Rp3 juta per bulan

Bapak itu memperkenalkan diri sebagai Muh Yusuf. Laki-laki berusia 73 tahun itu sudah kerja di paguyuban payung hias Ngudi Rahayu selama 8 tahun. Yusuf bercerita, orang tuanya dulunya juga merupakan pelukis payung. Ia pun mengikuti jejak orang tuanya sejak lulus dari SMP dan tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya karena kondisi ekonomi.

Perajin payung di Juwiring, Klaten. MOJOK.CO
Muh Yusuf, perajin payung di Ngudi Rahayu, Juwiring, Klaten. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Saya dulu kerja di pabrik payung dekat sini. Kira-kira sejak tahun 1967. Tapi belum lama ini pabriknya tutup. Jadi saya kerja di Ngudi Rahayu punya bapak Ngadi,” tutur Yusuf.

Ia mengaku tak ada kendala yang berarti dalam melukis, kecuali faktor alam seperti hujan. Sebab kalau hujan, kata Yusuf, proses penjemuran payung bakal lama. Yang tadinya hanya dua hari, bisa jadi berhari-hari.

Laki-laki asal Klaten itu berujar bisa menyelesaikan lukisan 20 payung dalam sehari. Ia pun bisa mendapat upah Rp8 ribu per payung. Jika tak ada kendala dan pesanan payung hias mulai ramai, Yusuf bisa mendapat upah sekitar Rp3 juta lebih dalam sebulan.

Menghidupkan kembali budaya tak benda payung lukis

Muh Yusuf adalah satu dari 30 orang perajin payung lukis di Sentra Payung Tradisi Gumantar, Desa Tanjung, Juwiring, Klaten. Tepatnya di paguyuban Ngudi Rahayu milik Ngadiyakur (58). Ngadi–sapaan akrabnya mengungkap paguyuban miliknya sudah berdiri sejak tahun 1999.

Ngudi Rahayu. MOJOK.CO
Paguyuban Ngudi Rahayu di Klaten milik Ngadiyakur. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Namun, industri kreatif payung lukis sendiri sudah ada sejak zaman kerajaan. Dalam sejarahnya, payung tidak hanya sebagai penadah air hujan, tapi simbol status sosial yang dipakai oleh pejabat tinggi seperti raja. 

Bahkan dalam perkembangannya, payung lukis, khususnya Juwiring sudah dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia sejak tahun 2022. Namun, saat krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998, produksi seni kriya payung lukis sempat terhenti.

Kemudian dihidupkan kembali oleh masyarakat desa yang dulunya memang memproduksi payung lukis, tapi sempat terputus lagi saat pandemi. Begitu juga yang dialami oleh Ngadiyakur. Bisnis payung hias milik orangtuanya itu sempat berhenti beberapa kali, hingga akhirnya ia berinisiatif mengajak warga kampung untuk menghidupkan kembali industri kreatif payung hias.

“Jadi saya ajak tetangga-tetangga di sini, mulai dari perajin pembuat rangka lalu proses pembuatan payungnya di sini. Mulai dari pemasangan kain, memberikan aksesori, sampai melukis payungnya,” tutur Ngadiyakur.

Iklan

Bahu-membahu bangkitkan ekonomi warga

Ketua paguyuban payung hias. MOJOK.CO
Ketua Paguyuban Payung Lukis Ngudi Rahayu, Ngadiyakur. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Dalam sehari, paguyungan Ngudi Rahayu di Klaten mampu menghasilkan 100 payung. Harganya berkisar dari Rp30 ribu sampai jutaan rupiah per payung, tergantung dari motif, ukuran, dan corak lukisan yang dibuat.

Paguyuban Ngudi Rahayu di Klaten umumnya memproduksi payung lukis yang digunakan untuk hiasan seperti di restoran, tempat wisata, hotel, dan perkantoran. Ada juga yang memesan untuk alat tari maupun suvenir.

“Kebanyakan juga dipesan untuk upacara adat, khususnya Juwiring digunakan sebagai hiasan di sisi kanan dan kiri pada acara mantenan sampai kebutuhan keraton. Pesanannya ada dari Solo, Jogja, Bali, Cirebon, Jakarta, Indramayu, Tasikmalaya, dan sekitaran Jawa itu rata-rata ada,” tutur Ngadi.

Untuk saat ini, Ngadi belum mau menerima tawaran dari luar negeri, walaupun banyak instansi dari Amerika misalnya pernah mengajak kerja sama. Mengingat jumlah sumber daya manusia mereka yang masih kurang.

Sejauh ini, ia pun merasa sudah cukup dengan pencapaiannya. Selain bisa mencukupi kebutuhan keluarganya, ia bisa membantu ekonomi warga sekitar. 

“Karena kami juga banyak melibatkan orang-orang sekitar, ya walaupun cuman 30 sampai 40 orang, intinya kami bisa bermanfaat untuk sesama. Saya kira itu saja sudah cukup,” kata Ngadi.

Industri kreatif di Klaten

Payung hias. MOJOK.CO
Salah satu perajin payung hias, tak jauh dari paguyuban Ngudi Rahayu. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Paguyuban Ngudi Rahayu bukan satu-satunya bisnis payung lukis di Dusun Gumantar, Tanjung, Juwiring, Klaten, Jawa Tengah. Menurut pantauan Mojok, masih ada Kerajinan Payung Wisnu hingga Kerajinan Payung Lukis Hias Honocoroko. Jarak produksinya pun berdekatan.

Meski begitu, kata Ngadi, persaingannya di desanya tetaplah sehat. Justru, mereka bahu-membahu untuk membangkitkan ekonomi desa. Bahkan tak hanya perajin payung tapi juga perajin kayu di sana.

“Semua warga di sini saling membantu sesuai kemampuan dan ‘tekane ati’. Artinya, kami ikhlas. Misalkan, ada yang mampunya ngasih uang Rp1 juta untuk pembangunan masjid, ada juga yang cuma nyumbang Rp100 ribu. Itu nggak masalah.” Kata Ngadi.

Selain payung lukis, warga Klaten juga didominasi oleh perajin gerabah, wayang kulit, dan mebel ukir. Bahkan, lurik khas Klaten juga sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pensiun dari Guru, Raup Puluhan Juta dengan Menganyam Bambu di Minggir Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 19 November 2025 oleh

Tags: edukasi melukis payungJuwiringklatenpayung hiasperajin payungwarisan budaya tak benda
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO
Eksplor

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO
Eksplor

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten dan dirikan KOMSAH. MOJOK.CO
Sosok

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO
Eksplor

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.