Berbagai upaya strategis dilakukan untuk mewujudkan Jogja menjadi kota wisata rendah emisi karbon. Di antaranya adalah menata ulang sistem transportasi publik menjadi lebih ramah lingkungan.
***
Randi (34) memijat pelan tengkuknya. Pekerja kantoran asal Jakarta ini sengaja menghabiskan cuti tahunan plus libur panjang nataru lalu dengan berlibur ke Jogja. Niatnya sederhana: mencari ketenangan, melepas penat dari bising ibu kota, dan menikmati syahdunya malam Kota Pelajar.
Namun, bayangan liburan tenang itu runtuh seketika saat mobilnya tertahan di perbatasan timur Jogja, tepatnya di jalur masuk dari arah Prambanan.
Bukannya angin segar yang menyapa. Randi justru disuguhi lautan kendaraan sejauh mata memandang. Lalu lintas merayap sangat pelan.
Penyejuk udara di dalam mobilnya memang berembus dingin. Tetapi di balik kaca, udara terasa panas akibat kepungan asap knalpot dari ribuan mobil yang mengantre panjang.
“Niatnya cari tempat tenang buat istirahat, eh, malah pindah macet doang ke sini. Sudahlah macet, udaranya juga kerasa sumpek banget,” keluh Randi, menceritakan pengalamannya itu pada Sabtu (6/6/2025) kemarin.
Jogja “sumpek” di akhir pekan
Cerita Randi bukanlah pengalaman tunggal wisatawan. Keluhan serupa selalu berulang dan dialami ratusan ribu wisatawan lain setiap kali musim libur panjang tiba.
Bahkan, kini, pemandangan serupa kerap terlihat ketika memasuki akhir pekan.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Jogja, Agus Arif Nugroho, memberikan gambaran yang membuat siapa pun mengerutkan dahi. Angka yang ia sodorkan kepada saya menunjukkan betapa beratnya beban infrastruktur jalan di kota ini saat momentum liburan tiba.
“Populasi warga Kota Jogja ini aslinya cuma sekitar 400 ribu jiwa,” katanya, saat ditemui pada Jumat (5/6/2026) lalu.
“Tapi, kalau sudah masuk akhir pekan, jumlah orang yang ada di kota ini bisa melonjak 10 kali lipat, sampai 4 juta jiwa,” imbuhnya.
Jika melihat realitasnya di lapangan, kota yang luas wilayahnya cuma 32,5 kilometer persegi ini harus menampung limpahan jutaan manusia beserta kendaraan pribadi mereka secara bersamaan.
Kapasitas dan lebar jalan raya sama sekali tidak bertambah, tetapi arus mobil masuk terus mengalir deras dari berbagai pintu penyeberangan wilayah.
Titik tujuannya pun nyaris selalu sama, yakni pusat kota dan kawasan wisata ikonik seperti Malioboro.
Di balik lonjakan wisatawan, ada penurunan kualitas udara
Di balik kemacetan panjang tersebut, ada ancaman diam-diam yang jauh lebih berbahaya bagi kesehatan masyarakat, yakni penurunan kualitas udara.
“Selain macet, hal lain yang tentu menjadi masalah serius bagi Kota Jogja sebagai ikon wisata adalah polusi dan emisi karbon,” jelas Agus.
Menurut catatan Dishub Kota Jogja yang disampaikan Agus, sektor transportasi memang menduduki peringkat pertama sebagai penyumbang emisi karbon paling dominan di kawasan Kota Pelajar.
Apalagi, berdasarkan laporan dari berbagai lembaga pemantau kualitas udara, seperti IQAir dan AQICN, kualitas udara Jogja memang kerap merosot ke level sedang hingga buruk setiap kali memasuki akhir pekan.
Hal yang paling menjadi sorotan adalah temuan dari aplikasi pemantau udara asal Indonesia, Nafas, yang sempat menyematkan label merah untuk beberapa titik wisata utama.
Label tersebut mengindikasikan bahwa kualitas udara di kawasan padat seperti Tugu dan sekitarnya masuk dalam kategori sangat tidak sehat. Udara yang dihirup warga asli maupun turis yang sedang berwisata telah terkontaminasi oleh partikel debu kotor.
“Jika masalah ini terus dibiarkan tanpa penanganan strategis, pariwisata Jogja perlahan akan kehilangan daya tarik alaminya. Karena selama ini kan Jogja identik dengan kota yang nyaman,” tegas Agus.
Menekan emisi karbon melalui penataan transportasi publik
Pemerintah Kota Jogja tentu tidak tinggal diam melihat masalah ini. Wacana untuk menyelamatkan napas kota dari kepungan emisi karbon mulai ditata secara serius dan perlahan terlihat implementasinya di lapangan.
Ditemui di sela acara “Jogja Bersinar 2026” pada Jumat (5/6/2026), Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Harmawan, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menekan angka emisi karbon secara berkala.
Langkah konkret yang diambil, salah satunya, adalah dengan menata ulang sistem transportasi publik menjadi jauh lebih ramah lingkungan. Sehingga kualitas udara dapat membaik tanpa harus mematikan denyut ekonomi sektor pariwisata.
Kawasan Malioboro, sebagai salah satu episenter wisatawan, kemudian dipilih sebagai lokasi untuk proyek jalanan bersih ini.
Wajah jalan paling legendaris di Jogja tersebut diubah secara bertahap, di mana area trotoar dibersihkan dan diperlebar agar pejalan kaki merasa nyaman dan aman.
“Pemerintah juga menerapkan aturan tegas yang melarang kendaraan pribadi melintas pada jam-jam tertentu, guna mendorong wisatawan untuk menikmati suasana kota dengan berjalan kaki,” tegas Wawan.
Untuk mengakomodasi para wisatawan juga, sarana angkutan umum ikut dibenahi. Bus Trans Jogja kini perlahan mulai digantikan oleh armada bus listrik untuk melayani rute-rute utama yang membelah kawasan Malioboro.
“Bus listrik ini lebih ramah lingkungan. Harapannya juga, dengan kemudahan transportasi ini, wisatawan tak perlu membawa kendaraan pribadi saat berwisata ke Jogja,” ujarnya.
“Kami juga mulai mengganti armada becak motor di Malioboro dengan becak listrik, karena ini menjadi moda transportasi yang dominan di kota.”
Terobosan tanpa menghilangkan nilai budaya Jogja
Pada Rabu (3/6/2026) lalu, Pemerintah Kota Jogja memang telah memberi bantuan 50 becak listrik kepada para pengemudi. Nantinya, armada yang lebih ramah lingkungan ini akan dipakai untuk melayani para wisatawan.
Perubahan menuju teknologi yang lebih ramah lingkungan memang telah dilakukan. Meski begitu, Wawan menyadari ada satu elemen kultural yang pantang hilang dari wajah Jogja, yaitu sentuhan kearifan lokalnya.
Sebelum kebijakan ini bergulir, Wawan mengakui memang sempat muncul kekhawatiran di masyarakat bahwa modernisasi sarana angkutan umum ini pelan-pelan akan meminggirkan para pengayuh becak tradisional.
Namun, ia menegaskan, transisi penggunaan energi yang ramah lingkungan ini dapat berjalan beriringan tanpa harus merampas mata pencaharian warga kecil.
“Tentunya kami tidak menghilangkan aspek manusia dan nilai budaya. Maka dari itu, kami tidak menghilangkan transportasi tradisional seperti becak, tetap menggantinya dengan moda yang lebih ramah lingkungan,” kata Wawan.
Titik temu antara pelestarian lingkungan dan kepedulian sosial ini diwujudkan lewat program sinergi dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi 6 Jogja, yang membagikan bantuan puluhan unit becak listrik secara cuma-cuma kepada paguyuban pengayuh becak tradisional.
Pembagian armada baru ini menjadi jalan keluar yang sangat membumi dan melegakan hati para pekerja jalanan. Jika dilihat dari kejauhan, penampilan fisik kendaraan roda tiga itu tetap dipertahankan persis seperti aslinya, sehingga suasana khas Jogja tetap terjaga.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Jogja dan Produksi Pengetahuan Lewat Ratusan Penerbit Buku, Modal Jadi Ibu Kota Buku UNESCO atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan