Hidup “lebih” sederhana setelah kuliah
Setelah lulus dari sekolah, Agustin melanjutkan pendidikannya ke UIN Salatiga. Biaya kuliahnya ditanggung bidikmisi, tetapi biaya hidupnya adalah tanggungan Agustin sendiri.
Oleh karena itu, ia mencari cara untuk tidak nglaju Salatiga-Ngawi yang setidaknya akan memakan kisaran 1,5 jam perjalanan. Solusinya adalah dengan ikut tinggal di sebuah pondok pesantren yang mematok uang bulanan senilai Rp2 ribu.
Menurut Agustin, biaya ini bahkan hanya berupa sedekah. Sebab, seluruh kebutuhannya menjadi tanggungan pesantren hanya dengan membayarkan nominal yang tidak seberapa itu—bahkan setara dengan tarif parkir motor.
“Untuk fasilitas dan lain-lain juga gratis dari Bapak Kiai, aku juga kadang bantu-bantu di rumah beliau, bersih-bersih itu aku dapat makan,” ujarnya.
Gaya hidup ini terus berlanjut sampai Agustin lulus kuliah. Ia masih mencoba beberapa pekerjaan, seperti menjadi penjaga pondok pesantren sampai dengan guru honorer. Hari-harinya berlangsung sederhana, setidaknya sampai dia menyadari bahwa ada keinginan besar untuk pulang ke Ngawi dan melakukan sesuatu.
Sempat pesimistis lolos LPDP
Untuk bagian ini, Agustin menceritakannya setelah menyelesaikan satu kelas perkuliahan di UGM. Ia sedang duduk di salah satu fasilitas yang ada, tetapi belum juga percaya telah lolos beasiswa dan bisa lanjut berkuliah.
“Kalau nggak dapat, mungkin aku juga nggak akan S2,” katanya.
“Kenapa?” tanya saya.
“Sebelumnya aku juga nggak yakin aja begitu,” jawabnya.
Menurut ceritanya, Agustin mengaku tidak mempersiapkan banyak hal dalam mengikuti LPDP. Ia hanya mengikuti langkah-langkah administratif untuk pendaftar kriteria afirmasi – prasejahtera, yang diperuntukkan bagi kelompok masyarakat dari keluarga prasejahtera.
“Aku nggak siapin banyak. Aku terbilang singkat persiapannya juga,” katanya.
Karena itu, Agustin tidak terlalu berharap untuk mendapat beasiswa LPDP. Ia menyadari bahwa persiapannya belum terlalu matang dan peluang gagal ada di depan mata. Sebab, ia sebelumnya menyasar Beasiswa Indonesia Bangkit dari Kementerian Agama yang sayangnya tidak dibuka.
Namun, rencana Agustin berjalan lebih baik dari yang diharapkannya, ia lolos sebagai penerima beasiswa LPDP. Ia juga bisa melanjutkan sekolah lagi dan meniti rencana kontribusinya.
Soal ini, Agustin mengaku ingin pulang dan bergabung ke badan pengurus desa untuk berkontribusi penuh pada perkembangan kampung halamannya di Ngawi. Sementara itu, dirinya mencoba untuk membuat tabungan yang selama ini tidak bisa dilakukannya dalam kondisi ekonomi pas-pasan—sebagai bekalnya kemudian hari.
“Aku dapat uang saku beasiswa, turunnya per tiga bulan. Karena aku terbiasa hemat, ya aku tabung,” katanya.
Bentuk dukungan beasiswa LPDP kepadanya, kata Agustin, ditanamkan baik-baik sebagai sebuah keharusan untuk membayar balik dengan kontribusi di kemudian hari. Ia juga menyebut, kesempatan ini sebagai sebuah privilese yang akan digunakan sebaik mungkin.
“Aku sadar aku jadi privilese (beruntung) karena ini. Jadi aku akan memanfaatkan sebaik mungkin,” akunya.
Dari kesadaran akan keberuntungannya, Agustin mengatakan, bisa menilai dirinya tidak sepenuhnya mendapatkan beasiswa karena faktor bejo (keuntungan) yang tidak disertai pendukung lainnya.
Baginya, dedikasinya sebelum mendaftarkan diri untuk beasiswa berperan penting sebagai bukti keseriusan diri untuk benar-benar mengabdi selepas kuliah dengan bantuan beasiswa LPDP. “Setelah kupikir, aku nggak yang nggak ada kontribusi juga. Sebelumnya aku guru honorer kan, aku juga sambil kerja pas S1,” katanya tegas.
Keyakinannya ini, adalah keyakinan yang sekiranya juga harus dimiliki oleh penerima (awardee) dan bakal penerima yang “beruntung” berkat difasilitasi oleh negara ini dalam pendidikan.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














