Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
1 April 2026
A A
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Ilustrasi - Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dalam beberapa kasus, UTBK SNBT memang tidak serta merta urusan kemampuan akademik. Tapi juga bicara soal keberuntungan. Sebab, faktanya, ada siswa yang dikenal pintar di masa SMA tapi gagal lolos UTBK SNBT untuk tembus menjadi mahasiswa Universitas Brawijaya (UB). Ujung-ujungnya terdampar kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) dan malah menjadi mahasiswa goblok yang nyaris drop out (DO). 

***

Dua kali gagal lolos UTBK SNBT membuat Karim (26) merasa kalau Tuhan tidak adil padanya. Sebab, selama SMA di Jawa Timur, Karim dikenal sebagai salah satu siswa terpintar. 

Bahkan sedari SD, Karim sudah langganan juara kelas. Namanya juga kerap muncul di top 3 paralel. Terutama sekali, ia membidangi Matematika dan Ilmu Alam (Biologi, Fisika, dan Kimia). Itu tidak lepas dari kultur pendidikan di keluarganya yang begitu kuat. Sejak SMP orang tua Karim—yang keduanya adalah guru PNS—memberi Karim fasilitas les privat. 

Tidak heran jika ia tumbuh sebagai salah satu siswa terpintar. Selama SMP-SMA, namanya sering dipanggil untuk mewakili sekolah dalam berbagai kompetisi akademik. Terutama untuk bidang Matematika dan Ilmu Alam. 

Karena catatan tersebut, Karim jelas sangat optimis bisa kuliah di universitas terbaik. Saat itu ia mengincar kuliah di Universitas Brawijaya (UB). UIN sama sekali tidak masuk dalam rencana hidupnya. 

Gagal UTBK SNBT untuk Universitas Brawijaya (UB) padahal les privat, terpaksa kuliah UIN buat pelarian

Ketika gagal SNBP pada 2017 (waktu itu masih SBMPTN), Karim sebenarnya sudah mulai mempertanyakan: apa yang kurang dari prestasinya sampai tidak lolos untuk kuliah di UB? 

Namun, saat itu, ia masih punya harapan di UTBK SNBT (saat itu masih SBMPTN). Maka, demi lolos ke Universitas Brawijaya (UB), Karim sampai mengikuti les privat untuk mempelajari soal-soal UTBK SNBT. 

Sayangnya, ia tetap tidak lolos juga. Di titik itulah harga dirinya merasa runtuh. Malu di hadapan teman-temannya yang lain: tidak pintar-pintar amat tapi bisa lolos universitas terbaik dan bergengsi. Sementara Karim, punya label siswa terpintar malah tidak bisa bicara banyak. 

“Orang tua sebenarnya mengarahkan ke swasta. Tapi aku kan penginnya Universitas Brawijaya. Orang tua nawari tes mandiri UB. Tapi aku masih punya plan buat daftar SBMPTN tahun berikutnya ke UB,” ujar Karim, Selasa (31/3/2026). 

Sebagai pelarian dan mengisi waktu menanti UTBK SNBT tahun berikutnya, Karim yang kebetulan lulus UIN, akhirnya memutuskan untuk menjalani dulu kuliah di UIN. Tapi rencananya itu hanya pelarian sesaat. Targetnya tetaplah menjadi mahasiswa UB.  

2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya, terpaksa lanjut menjadi mahasiswa UIN meski gagap

Tapi di UTBK SNBT tahun berikutnya pun, di tengah-tengah aktivitas Karim menjadi mahasiswa UIN, ia masih tidak bisa tembus kuliah di UB. Artinya, sudah dua kali ia gagal UTBK SNBT. 

Maka, daripada tidak kuliah sama sekali, ia mencoba ikhlas melanjutkan kuliah di UIN. Toh ia sudah kecewa dan sudah putus asa kalau mau coba-coba UTBK SNBT lagi. Sementara kalau daftar di swasta atau secara mandiri, ia tidak siap dengan biaya lebih mahal yang harus dikeluarkan. Biarlah Universitas Brawijaya menjadi sebatas cita-cita yang telah pupus. 

Tapi kuliah di UIN benar-benar membuatnya gagap. Pertama, mayoritas mahasiswa UIN adalah lulusan pesantren. Sementara Karim tidak. Alhasil, ia merasa ada gap budaya dan intelektual antara ia dan mahasiswa lain. 

Iklan

“Ada intensif Bahasa Arab dan kajian kitab gundul di semester awal. Asli aku kowah-kowoh (plonga-plongo),” ungkap Karim. 

Jadi mahasiswa goblok gara-gara salah jurusan dan pergaulan

Seiring waktu, Karim juga merasa tiba-tiba menjadi mahasiswa goblok di UIN. Persoalannya adalah karena ia salah jurusan. 

Di UTBK SNBT, Karim sebenarnya mendaftar Matematika UB. Namun, di UIN, ia justru mengambil jurusan lain di Fakultas Humaniora. Saat itu, niatnya sebenarnya iseng-iseng daftar di jurusan yang punya potensi mudah tembus. Dan ternyata memang ia tembus.

“Aku dari SMP-SMP kan memang fokusnya di Matematika dan Ilmu Alam, sehingga kalau ngomongin agama-agama, kayak kepontal-pontal ngikutinya,” kata Karim. 

Alhasil, saat teman-temannya sibuk diskusi di kelas, Karim hanya bisa diam sambil ngang-ngong-ngang-ngong. Tugas-tugas kuliah pun ia kerap mengandalkan teman sekelompok. 

Tidak hanya merasa jadi mahasiswa goblok karena salah jurusan di UIN, Karim lama-lama juga mendapat cap sebagai mahasiswa yang tidak diharapkan oleh sebuah kelompok. Pokoknya kalau ada kelompok yang ada namanya, mahasiswa di kelompok tersebut—terutama cewek-cewek—pasti langsung menggerutu. 

“Aku merasa nggak bisa ngikuti mata kuliah. Itu bikin males. Jadi aku jarang masuk. Kalau ada tugas juga nggak kukerjakan saking malesnya. Jadi ya ngulang-ngulang mata kuliah akhirnya,” kata Karim. 

Apalagi didukung dengan lingkaran pertemanan Karim yang isinya mahasiswa-mahasiswa pemalas. Itu membuat Karim merasa ada teman untuk kuliah sekadarnya. 

Nyaris DO dan diancam tidak dibiayai orang tua

Habit malas itu membuat Karim menjadi satu dari sedikit mahasiswa UIN yang nyaris terancam DO. Sebab, hingga menjelang semester 12, ia tidak kunjung merampungkan skripsi. 

Orang tua Karim pada akhirnya pun mempertanyakan: apa yang terjadi pada Karim? Menimbang, selama ini Karim dikenal sebagai siswa terpintar di SMA. Selain itu, tiap kali ditanya orang tua, Karim juga selalu bilang kuliahnya beres. 

“Orang tua ngiranya, karena aku pinter, aku bisa adaptasi di bidang ilmu apapun. Padahal, bidang ilmu di jurusan yang kuambil di UIN ini beda sama sekali dengan Sains. Ya namanya juga hasil iseng,” tutur Karim. 

Orang tua Karim lantas memberi tenggat ke Karim: pokoknya harus selesai skripsi semester 13. Kalau semester 13 tidak kunjung ada progres, maka orang tua Karim menegaskan akan memutus aliran uang saku ke Karim. 

Karim sempat berpikir untuk mencari joki skripsi. Namun, ada gengsi sebagai siswa terpintar yang menahannya: masa mantan siswa terpintar skripsinya pakai jasa joki? 

Alhasil, dengan susah payah dan lewat bantuan teman, Karim bisa menuntaskan skripsinya di semester 13. Hanya saja, masalah berikutnya: sebagai mantan siswa terpintar, ia malu karena kariernya berakhir sebagai guru honorer bergaji Rp300 ribu. Karena ijazah UIN yang ia punya, apalagi dengan catatan lulus molor, ia kesulitan mencari pekerjaan di sektor formal.  

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Diajar Dosen “Absurd” saat Kuliah UIN: Isi Matkul Paksa Sesatkan dan Mengafirkan, Ujian Akhirnya Praktik Wudu yang Berakhir Nilai C atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 1 April 2026 oleh

Tags: kuliah uinmahasiswa ubmahasiswa UINpilihan redaksisalah jurusanSNBTUBuinUniversitas BrawijayaUTBKutbk snbt
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Gagal kuliah di PTN karena tidak lolos SNBP, padahal masih ada jalur SNBT dan UM UGM
Catatan

Gagal Lolos SNBP UGM Bukan Berarti Bodoh, Seleksi Nilai Rapor Hanya “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tidak Menjamin Masa Depan

1 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Catatan

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO
Esai

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

1 April 2026
Resign after lebaran karena muak dengan kantor toxic demi work life balance di Jogja MOJOK.CO
Urban

Nekat Resign After Lebaran karena Muak Kerja di Kantor Toxic, Pilihan “Ngawur” untuk Cari Happy tapi Stres Tetap Tak Terhindarkan

30 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Oleh-Oleh “Red Flag” Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Ulang sebagai Buah Tangan Mojok.co

4 Oleh-Oleh Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Berkali-kali sebelum Dibeli

29 Maret 2026
Salah paham pada kuliner sate karena terlalu miskin. Baru benar-benar bisa menikmatinya setelah dewasa untuk self reward MOJOK.CO

Salah Paham ke Sate: Kaget dan Telat Sadar kalau 1 Porsi Bisa buat Diri Sendiri, Jadi Self Reward Tebus Masa Kecil Miskin

31 Maret 2026
Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co

Mending Kerja di Bali daripada Jogja, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026
Work from home (WFH) untuk ASN tidak peka kondisi pekerja informal MOJOK.CO

WFH 1 Hari ASN Perlu Lebih Peka terhadap Kondisi Pekerja Informal

30 Maret 2026
Ibu hamil kondisi mengandung bayi

Hampir Memiliki Anak Sudah Jadi Anugerah, Ibu Tak Apa Berjuang Mati-matian demi “Buah Hati” yang Belum Tentu Lahir ke Dunia

29 Maret 2026
Lewat Setu Sinau, Jalan Malioboro Kota Yogyakarta tidak hanya jadi tempat wisata. Tapi juga ruang edukasi untuk belajar budaya Jawa, termasuk aksara Jawa MOJOK.CO

“Setu Sinau” bikin Jalan Malioboro Tak Hanya Jadi Tempat Wisata, Tapi Juga Ruang Edukasi Aksara Jawa

29 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.