Kuliah di luar negeri, konon lebih enak daripada di Indonesia. Namun, kuliah di Austria justru malah bikin kena mental karena warganya sangat ketus dan rasis. Kuliah di dalam negeri lebih enak.
***
Sejak tahun 2011, kehidupan Aldo sangat dinamis. Ayahnya bekerja di sebuah perusahaan yang mengharuskannya sering berpindah-pindah negara. Sebagai anak, Aldo bersama ibunya sering ikut menemani sang ayah, meski tidak pernah benar-benar menetap lama di satu tempat.
Pengalaman hidup berpindah-pindah ini justru sangat dinikmati oleh Aldo. Ia pernah merasakan hangatnya budaya di beberapa negara Amerika Latin, hingga menyusuri jalanan yang ramai di Afrika Utara seperti Maroko dan Aljazair. Baginya, berinteraksi dengan orang-orang baru dari berbagai belahan dunia adalah hal yang menyenangkan.
Namun, ada kawasan yang belum pernah ia kunjungi, yakni Eropa Tengah. Kebetulan, pada tahun 2020, ayahnya ditugaskan dan mulai menetap di Austria. Sebelumnya, pengalaman Aldo dengan benua Eropa hanya sebatas liburan ke negara-negara Eropa Barat yang terkenal ramah turis.
“Saya sama sekali tidak tahu bahwa keputusan menetap di Austria bakal mengubah pandangan saya tentang Eropa,” kisahnya kepada Mojok, Jumat (20/2/2026) pagi.
Pada tahun 2022, tiba saatnya Aldo untuk masuk kuliah. Sang ayah yang sudah dua tahun menetap di Austria menyarankan agar anaknya itu kuliah di sana saja.
Memilih kuliah di Austria karena sistem pendidikannya konon paling ideal di Eropa
Bukan tanpa alasan ayahnya memberikan saran tersebut. Secara objektif, iklim pendidikan di Austria memang sangat ideal. Kampus-kampus di sana memiliki standar pendidikan yang sangat maju, fasilitas riset kelas dunia, dan sistem belajar yang terstruktur.
“Daya tarik paling utamanya, yang jelas ya pada biaya pendidikan,” jelas Aldo.
Untuk ukuran negara maju di Eropa, biaya kuliah sarjana (S1) di universitas negeri Austria sangatlah murah. Mahasiswa dari luar Uni Eropa seperti Aldo, misalnya, hanya perlu membayar uang kuliah sekitar Rp12,5 juta per semester. Angka ini bahkan jauh lebih murah dibandingkan banyak kampus swasta di Jakarta.
Dengan kualitas pendidikan tingkat dunia dan biaya yang sangat bersahabat, tawaran itu terdengar terlalu sayang untuk dilewatkan.
Orang Austria ketus-ketus, tidak ramah orang yang easy-going
Sayangnya, ekspektasi sering kali tidak sejalan dengan realitas. Kuliah di jantung kota pelajar Eropa ternyata perlahan membuat Aldo “kena mental”. Masalahnya bukan pada materi pelajaran yang sulit atau tugas yang menumpuk. Masalah utamanya ada pada kehidupan sosial sehari-hari.
Bagi Aldo yang terbiasa dengan kehangatan orang Amerika Latin, keramahan warga Maroko, atau basa-basi orang Indonesia, sifat warga lokal Austria terasa sangat dingin dan kasar.
“Orang-orang di sana terkesan selalu ketus,” ujarnya.
Aldo merasakannya di mana-mana. Saat ia berbelanja di supermarket, misalnya, kasir tidak pernah tersenyum, tidak ada basa-basi, dan barang belanjaan sering kali didorong dengan cepat dan kasar seolah mengusir pelanggan agar segera pergi.
Atau, saat makan di restoran, pelayan datang dengan wajah datar dan nada bicara yang kaku. Kalau Aldo bertanya dalam bahasa Inggris karena bahasa Jermannya belum lancar, ia sering kali dijawab dengan helaan napas panjang, tatapan tajam, atau bahkan diabaikan.
Awalnya, Aldo mengira ia melakukan kesalahan. Namun, belakangan ia baru paham bahwa sikap ketus ini mungkin memang sudah menjadi bawaan budaya setempat.
Di Wina, ibu kota Austria, ada budaya bernama Wiener Grant yang berarti sifat suka mengeluh dan bermuka masam. Bagi warga lokal, bersikap ramah kepada orang yang tidak dikenal justru dianggap aneh atau palsu.
@viennawurstelstand ✍️ No talking on the phone while in the Öffis #viennawurstelstand #wienergrant #vienna #grantig #relatable ♬ original sound – Vienna Würstelstand
Mereka menggunakan gaya komunikasi yang sangat blak-blakan. Artinya, mereka bicara langsung pada intinya tanpa memikirkan perasaan lawan bicara.
Sayangnya, bagi pendatang yang kuliah di Austria seperti Aldo, gaya komunikasi seperti ini terasa sangat mengintimidasi dan membuat hidup terasa tidak nyaman.
“Rasanya nggak nyaman aja. Bayangin wajah Hitler, nah kira-kira orang di sana mimik mukanya kayak gitu semua,” ungkapnya, dengan nada setengah bercanda.
Rasisme juga sangat parah
Lebih buruk lagi, selain sikap ketus yang menjadi budaya umum, ada satu hal lagi yang membuat mental Aldo semakin terkikis: rasisme.
Rasisme yang dialami Aldo memang bukan dalam bentuk kekerasan fisik. Secara keamanan, Austria adalah negara yang aman. Rasisme di sana lebih berbentuk tindakan diskriminasi halus yang membuat pendatang merasa tidak diterima.
Aldo, misalnya, sering mengalami kejadian di mana ia ditatap lekat-lekat dari ujung kepala sampai ujung kaki oleh warga lokal, terutama generasi tua, saat berada di dalam kereta api atau trem. Tatapan itu bukan tatapan ramah, melainkan tatapan curiga yang merendahkan.
Dalam urusan administrasi negara, tantangannya lebih berat. Mengurus dokumen izin tinggal di kantor imigrasi seringkali menjadi mimpi buruk bagi mahasiswa asing asal Asia. Petugas sering kali tidak sabar, memperlama proses, atau menolak membantu hanya karena mahasiswa tersebut belum lancar berbahasa Jerman.
Teman-teman Aldo lebih parah lagi. Mencari sewa kamar apartemen juga sangat sulit, karena banyak pemilik tempat yang secara terang-terangan lebih memilih menyewakan kamarnya kepada sesama orang Eropa berkulit putih.
“Kulit berwarna kayak orang Indonesia ini dianggap kelas kedua,” kata mahasiswa yang pernah kuliah di Austria ini.
Sikap rasis ini tumbuh subur bukannya tanpa sebab. Dalam beberapa tahun terakhir, situasi politik di Austria memang sedang berubah. Partai politik yang membawa narasi anti-imigran mendapat dukungan suara yang semakin besar dari masyarakat.
Narasi politik ini membuat sebagian warga lokal merasa punya alasan untuk bersikap tertutup dan menolak orang asing.
Selain itu, sejak krisis pengungsi di Eropa beberapa tahun lalu, Austria menerima sangat banyak pendatang. Hal ini menimbulkan rasa lelah di tengah masyarakat lokal. Mereka merasa negara mereka sudah terlalu sesak oleh kehadiran orang asing.
Sayangnya, mahasiswa internasional yang datang secara legal untuk belajar–seperti Aldo–sering kali ikut terkena imbas sentimen negatif ini. Wajah Asia-nya sudah cukup untuk membuat beberapa warga lokal menutup diri sebelum mengenalnya lebih jauh.
Hari demi hari, tekanan mental ini terus menumpuk. Aldo lelah karena harus selalu menyiapkan mental baja hanya untuk keluar rumah. Meskipun berasal dari keluarga berprivilese, ia merasa keberadaannya tidak dihargai warga Austria.
Kuliah di Indonesia jauh lebih enak, mental aman
Setelah mencoba bertahan, Aldo akhirnya mencapai batasnya. Pada tahun 2023, ia menelepon kerabatnya di Indonesia. Keputusannya sudah bulat: ia ingin pulang ke Indonesia.
Keluarga Aldo memahami kondisi mental anaknya. Mereka sepakat bahwa kedamaian pikiran jauh lebih penting daripada gengsi gelar sarjana dari Eropa. Aldo pun mengemasi barang-barangnya, meninggalkan biaya kuliah murah dan fasilitas pendidikan maju di Austria, lalu terbang kembali ke Tanah Air.
Sesampainya di Indonesia, Aldo mendaftar di salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jakarta. Secara peringkat kualitas pendidikan di atas kertas, kampus barunya ini jelas kalah jauh dibandingkan universitasnya di Austria. Namun, ada satu hal mahal yang akhirnya didapatkan Aldo dan tidak bisa ia temukan di Eropa: rasa nyaman.
Di kampus barunya, ia bisa menyapa siapa saja. Teman-temannya ramah, penjual makanan di kantin tersenyum lebar saat melayaninya, dan ia tidak perlu lagi khawatir ditatap sinis di angkutan umum.
Bagi sebagian orang, melepaskan kesempatan kuliah di Eropa mungkin terdengar seperti sebuah kemunduran atau kerugian besar. Tapi bagi Aldo, gelar sarjana dan kampus mentereng tidak ada gunanya jika setiap hari harus hidup dalam lingkungan yang menolak kehadirannya.
“Kalau kita udah agak lama tinggal di sana (Eropa), kita mungkin baru akan sadar kalau hidup di negeri sendiri lebih nyaman.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Sulitnya Jadi Mahasiswa Penerima Beasiswa LPDP, Dituntut Banyak Ekspektasi padahal Nggak Bahagia di Luar Negeri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














