Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
13 Maret 2026
A A
Mahasiswa Pariwisata UGM Jogja belajar dari kepala suku di Raja Ampat, lebih dari ilmu kuliah

Ilustrasi - Mahasiswa Pariwisata UGM Jogja belajar dari kepala suku di Raja Ampat, lebih dari ilmu kuliah (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Rido (30) adalah alumnus UGM Jogja, lulusan Prodi Pariwisata. Salah satu cerita paling berkesan di memorinya saat berkuliah adalah belajar dari kepala suku di Raja Ampat yang tidak pergi berkuliah, tetapi mengajarinya bagaimana ilmu-ilmu yang didapatkan di ruang perkuliahan bisa diterapkan secara nyata.

Bagi Rido, pengalaman ini membuatnya harus merenung mengenai hal-hal yang telah dilakukannya. Rido memang lebih unggul akademis, ia pergi ke kampus terbaik di Indonesia, bukan hanya di Jogja, tetapi soal lainnya jelas harus diukur kembali.

Mahasiswa UGM merasa “kecil” karena kepala suku

Pengalaman Rido saat menjadi mahasiswa ini dibuka dengan kesadaran bahwa Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan hanya mengajarinya untuk mewujudkan rencana yang dibawa jauh-jauh dari Jogja. Namun juga, membekali Rido dengan sesuatu yang tidak tercantum dalam materi perkuliahan mana pun selama berada di Jogja.

“Gue mahasiswa UGM. KKN di Raja Ampat. Dan gue pulang dengan pelajaran yang tidak ada di silabus manapun,” kata Rido melalui akun Threads, Kamis (12/3/2026).

Rido bercerita, pengalaman ini telah terjadi 9 tahun yang lalu saat masih menimba ilmu di Fakultas Ilmu Budaya, tepatnya pada tahun 2017. Namun, kenangan ini masih membekas jelas di ingatannya sebagai bagian dari perjalanan kuliahnya selama di UGM Jogja.

Hari itu, ia bertemu dengan kepala suku yang tidak pernah sekolah formal, tetapi punya visi yang lugas sebagai seorang pemimpin desa. “Dia bilang, kalau saya mau masyarakat di sini maju, saya harus jadi contoh duluan. Bukan cuma ngomong,” kata Rido menirukan.

Mendengar hal itu, Rido terdiam. Sebab, kalimat yang disampaikan sang kepala suku merupakan definisi dari filosofi kepemimpinan bernama servant leadership yang dipelajarinya. Padahal, sang kepala suku tidak tahu istilah itu, tetapi sudah menjalankannya.

Mulai dari mengajak warga desa untuk tidak menjual ikan sembarangan ke tengkulak, mengorganisir nelayan untuk mempunyai posisi tawar (bargaining position) yang lebih baik, sampai membangun kepercayaan satu per satu dari warganya sebelum meminta mereka untuk mematuhinya. Itulah yang dilakukan kepala suku tersebut.

“Textbook community development. Tapi, dia tidak pernah baca textbook itu,” kata Rido heran.

Teori hanyalah nama ketika sudah ada yang beraksi nyata

Tak hanya itu, Rido menyebut, rencana-rencana sang kepala suku lebih baik dari yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda). Lulusan Prodi Pariwisata itu mengakui rencana pariwisata tidak biasa yang dipaparkan oleh kepala suku di Raja Ampat.

“Dan soal pariwisata, dia sudah mikirin hal yang bahkan belum banyak Pemda pikirkan,” katanya.

Rencana itu di antaranya menyangkut kedatangan wisatawan tanpa merusak ekosistem laut, perputaran uang pariwisata dalam komunitas, serta mengukuhkan alasan anak-anak muda di Raja Ampat untuk tidak merantau.

Menurutnya, obrolan ini bukan hanya basa-basi. Sesuatu yang bisa terjadi di warkop (warung kopi). Sebagai lulusan Pariwisata, Rido menyebutnya strategi pembangunan yang koheren.

“Itu bukan obrolan warung. Itu strategi pembangunan yang koheren,” tegas dia.

Iklan

Karena itulah, Rido sempat mempertanyakan posisinya sebagai mahasiswa yang masih belajar secara formal di kampus saat itu. Ia memahami penjelasan rencana tersebut dalam bahasa teknis, dalam teori yang belum dibaca oleh masyarakat dari daerah di luar jangkauan–jauh dari pusat.

Namun di lain sisi, Rido merasa dirinya hanya memahami istilah-istilahnya saja. Justru, sang kepala suku yang tidak mengetahui “nama” tersebut adalah sosok yang beraksi nyata melampaui pengetahuannya.

“Gue yang kuliah d UGM. Gue yang belajar istilah-istilah itu di kelas. Pemberdayaan masyarakat, sustainable tourism, local economic development, tapi dia yang sudah mengaplikasikannya,” kata Rido.

“Tanpa pernah tahu nama-namanya,” kata dia menambahkan.

Berujung mempertanyakan diri sendiri

Dari sinilah, Rido mulai bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Ia merasa telah memiliki pemahaman yang salah, bahwa pendidikan formal adalah yang terbaik. Namun kemudian, pemikirannya ini dibuktikan keliru oleh kepala suku yang ditemuinya saat KKN.

“Tapi mungkin yang sebenarnya terjadi adalah pendidikan formal yang mengajarkan cara memberi nama pada pemikiran yang sebetulnya bisa tumbuh dari mana saja,” ujarnya memberikan ralat.

Setelah mendengar dan melihat langsung aksi yang telah diwujudkan oleh kepala suku di Raja Ampat ini, Rido menyadari bahwa istilah-istilah keren yang didapatkannya dari perkuliahan hanya akan menjadi keren tanpa tindakan lebih lanjut.

Memang, terasa keren ketika menyebut peningkatan ekonomi warga desa sebagai local economic development. Akan tetapi, istilah tersebut akan tetap menjadi istilah, bahkan bisa mengesankan ndakik-ndakik karena berusaha menjadi tinggi diri dengan menyebutkannya.

Sama halnya dengan pertukaran gagasan melalui presentasi saat kuliah. Menurutnya, menelusuri framework melalui slide-slide terdengar mengesankan. Namun, ada seseorang yang tidak butuh ini. 

“Bapak itu tidak punya slide. Tidak punya framework yang dia bisa sebut namanya. Tapi, desanya sudah bergerak,” kata Rido.

Pria lulusan Prodi Pariwisata itu juga menceritakan bahwa dirinya sempat bertanya mengenai kemungkinan bapak kepala suku untuk pernah mempelajari semua yang disampaikannya sebelumnya, tetapi mendengar saja beliau belum akan istilah-istilah akademis yang Rido sebutkan.

“Gue tanya ke dia:  Bapak belajar ini dari mana?”

“Dia senyum. ‘Dari salah. Saya banyak salah dulu. Terus diperbaiki. Terus coba lagi,’”

Pada akhirnya, aksi nyata yang membantu istilah ini semakin baik. Ia tidak hanya eksis di udara, dituturkan dari satu mulut ke mulut lain sebagai rencana, tetapi mampu dibawa ke dunia nyata dalam bentuk fisik. Seperti yang telah dilakukan bapak kepala suku.

“Tapi istilah tanpa implementasi itu hanya dekorasi. Dan implementasi tanpa istilah, seperti yang dilakukan bapak itu, tetap menghasilkan perubahan nyata,” ujar Rido.

“Dan momen itu ngajarin gue sesuatu yang tidak akan gue lupa. Gelar itu membuka pintu, tapi yang bikin lo dihormati di dalam ruangan itu bukan gelarnya. Itu apa yang sudah lo kerjakan dan lo bisa pertanggungjawabkan,” jelas dia.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Sarjana Ekonomi Pilih Berjualan Ayam Penyet, Sempat Diremehkan Banyak Orang, tetapi Bisa Untung 3x Lipat UMR dan Kalahkan Gaji Pekerja Kantoran dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 13 Maret 2026 oleh

Tags: alumni UGMalumnus UGMCerita KKNkepala suku di raja ampatkkn di raja ampatkkn ugmMahasiswa Jogjamahasiswa pariwisata ugmmahasiswa ugmpariwisata ugm
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Perjalanan Memaafkan: Dendam ke Orang Tua karena Tak Diizinkan Kuliah di UGM, Jadi Luruh karena Bekal “Ndeso” Bikinan Ibu MOJOK.CO
Sehari-hari

Perjalanan Memaafkan: Dendam ke Orang Tua karena Tak Diizinkan Kuliah di UGM, Jadi Luruh karena Bekal “Ndeso” Bikinan Ibu

4 Maret 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co
Pojokan

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Honda Supra X 125
Sehari-hari

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026
pendatang di jogja.MOJOK.CO
Urban

Nasib Menjadi “Pendatang” di Jogja: Selalu Disalahkan Atas Masalah yang Terjadi, padahal Menjadi Sumber Penghasilan Para Akamsi

18 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Jombang iri dengan Tuban, daerah tetangga sesama plat S yang semakin gemerlap dan banyak wisata alam buat healing MOJOK.CO

Sebagai Orang Jombang Saya Iri sama Kehidupan di Tuban, Padahal Tetangga tapi Terasa Jomplang

12 Maret 2026
Mahasiswa Pariwisata UGM Jogja belajar dari kepala suku di Raja Ampat, lebih dari ilmu kuliah

Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata

13 Maret 2026
Ada kehangatan dan banyak pelajaran hidup di dalam kereta api (KA) ekonomi yang sulit didapatkan user KA eksekutif kalau terlalu eksklusif MOJOK.CO

Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif

13 Maret 2026
Makanan Khas Sunda dan Jogja Bikin Muak- Bau Busuk dan Manis (Wikimedia Commons)

Makanan Khas Sunda Bikin Menderita Orang Jogja, Sama Seperti Perantau Sunda Muak dengan Makanan Jogja yang Serba Manis

11 Maret 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Pamitan ke Perantauan

6 Maret 2026
Orang "Gagal" yang Dihina Hidupnya, Buktikan Bisa Lolos CPNS hingga PNS. MOJOK.CO

Dulu Kerap Dihina, Ditolak Kampus Top hingga Nyaris DO dan Beasiswa Dicabut, Kini Buktikan Bisa Lolos Seleksi CPNS

10 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.