Rido (30) adalah alumnus UGM Jogja, lulusan Prodi Pariwisata. Salah satu cerita paling berkesan di memorinya saat berkuliah adalah belajar dari kepala suku di Raja Ampat yang tidak pergi berkuliah, tetapi mengajarinya bagaimana ilmu-ilmu yang didapatkan di ruang perkuliahan bisa diterapkan secara nyata.
Bagi Rido, pengalaman ini membuatnya harus merenung mengenai hal-hal yang telah dilakukannya. Rido memang lebih unggul akademis, ia pergi ke kampus terbaik di Indonesia, bukan hanya di Jogja, tetapi soal lainnya jelas harus diukur kembali.
Mahasiswa UGM merasa “kecil” karena kepala suku
Pengalaman Rido saat menjadi mahasiswa ini dibuka dengan kesadaran bahwa Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan hanya mengajarinya untuk mewujudkan rencana yang dibawa jauh-jauh dari Jogja. Namun juga, membekali Rido dengan sesuatu yang tidak tercantum dalam materi perkuliahan mana pun selama berada di Jogja.
“Gue mahasiswa UGM. KKN di Raja Ampat. Dan gue pulang dengan pelajaran yang tidak ada di silabus manapun,” kata Rido melalui akun Threads, Kamis (12/3/2026).
Rido bercerita, pengalaman ini telah terjadi 9 tahun yang lalu saat masih menimba ilmu di Fakultas Ilmu Budaya, tepatnya pada tahun 2017. Namun, kenangan ini masih membekas jelas di ingatannya sebagai bagian dari perjalanan kuliahnya selama di UGM Jogja.
Hari itu, ia bertemu dengan kepala suku yang tidak pernah sekolah formal, tetapi punya visi yang lugas sebagai seorang pemimpin desa. “Dia bilang, kalau saya mau masyarakat di sini maju, saya harus jadi contoh duluan. Bukan cuma ngomong,” kata Rido menirukan.
Mendengar hal itu, Rido terdiam. Sebab, kalimat yang disampaikan sang kepala suku merupakan definisi dari filosofi kepemimpinan bernama servant leadership yang dipelajarinya. Padahal, sang kepala suku tidak tahu istilah itu, tetapi sudah menjalankannya.
Mulai dari mengajak warga desa untuk tidak menjual ikan sembarangan ke tengkulak, mengorganisir nelayan untuk mempunyai posisi tawar (bargaining position) yang lebih baik, sampai membangun kepercayaan satu per satu dari warganya sebelum meminta mereka untuk mematuhinya. Itulah yang dilakukan kepala suku tersebut.
“Textbook community development. Tapi, dia tidak pernah baca textbook itu,” kata Rido heran.
Teori hanyalah nama ketika sudah ada yang beraksi nyata
Tak hanya itu, Rido menyebut, rencana-rencana sang kepala suku lebih baik dari yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda). Lulusan Prodi Pariwisata itu mengakui rencana pariwisata tidak biasa yang dipaparkan oleh kepala suku di Raja Ampat.
“Dan soal pariwisata, dia sudah mikirin hal yang bahkan belum banyak Pemda pikirkan,” katanya.
Rencana itu di antaranya menyangkut kedatangan wisatawan tanpa merusak ekosistem laut, perputaran uang pariwisata dalam komunitas, serta mengukuhkan alasan anak-anak muda di Raja Ampat untuk tidak merantau.
Menurutnya, obrolan ini bukan hanya basa-basi. Sesuatu yang bisa terjadi di warkop (warung kopi). Sebagai lulusan Pariwisata, Rido menyebutnya strategi pembangunan yang koheren.
“Itu bukan obrolan warung. Itu strategi pembangunan yang koheren,” tegas dia.
Karena itulah, Rido sempat mempertanyakan posisinya sebagai mahasiswa yang masih belajar secara formal di kampus saat itu. Ia memahami penjelasan rencana tersebut dalam bahasa teknis, dalam teori yang belum dibaca oleh masyarakat dari daerah di luar jangkauan–jauh dari pusat.
Namun di lain sisi, Rido merasa dirinya hanya memahami istilah-istilahnya saja. Justru, sang kepala suku yang tidak mengetahui “nama” tersebut adalah sosok yang beraksi nyata melampaui pengetahuannya.
“Gue yang kuliah d UGM. Gue yang belajar istilah-istilah itu di kelas. Pemberdayaan masyarakat, sustainable tourism, local economic development, tapi dia yang sudah mengaplikasikannya,” kata Rido.
“Tanpa pernah tahu nama-namanya,” kata dia menambahkan.
Berujung mempertanyakan diri sendiri
Dari sinilah, Rido mulai bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Ia merasa telah memiliki pemahaman yang salah, bahwa pendidikan formal adalah yang terbaik. Namun kemudian, pemikirannya ini dibuktikan keliru oleh kepala suku yang ditemuinya saat KKN.
“Tapi mungkin yang sebenarnya terjadi adalah pendidikan formal yang mengajarkan cara memberi nama pada pemikiran yang sebetulnya bisa tumbuh dari mana saja,” ujarnya memberikan ralat.
Setelah mendengar dan melihat langsung aksi yang telah diwujudkan oleh kepala suku di Raja Ampat ini, Rido menyadari bahwa istilah-istilah keren yang didapatkannya dari perkuliahan hanya akan menjadi keren tanpa tindakan lebih lanjut.
Memang, terasa keren ketika menyebut peningkatan ekonomi warga desa sebagai local economic development. Akan tetapi, istilah tersebut akan tetap menjadi istilah, bahkan bisa mengesankan ndakik-ndakik karena berusaha menjadi tinggi diri dengan menyebutkannya.
Sama halnya dengan pertukaran gagasan melalui presentasi saat kuliah. Menurutnya, menelusuri framework melalui slide-slide terdengar mengesankan. Namun, ada seseorang yang tidak butuh ini.
“Bapak itu tidak punya slide. Tidak punya framework yang dia bisa sebut namanya. Tapi, desanya sudah bergerak,” kata Rido.
Pria lulusan Prodi Pariwisata itu juga menceritakan bahwa dirinya sempat bertanya mengenai kemungkinan bapak kepala suku untuk pernah mempelajari semua yang disampaikannya sebelumnya, tetapi mendengar saja beliau belum akan istilah-istilah akademis yang Rido sebutkan.
“Gue tanya ke dia: Bapak belajar ini dari mana?”
“Dia senyum. ‘Dari salah. Saya banyak salah dulu. Terus diperbaiki. Terus coba lagi,’”
Pada akhirnya, aksi nyata yang membantu istilah ini semakin baik. Ia tidak hanya eksis di udara, dituturkan dari satu mulut ke mulut lain sebagai rencana, tetapi mampu dibawa ke dunia nyata dalam bentuk fisik. Seperti yang telah dilakukan bapak kepala suku.
“Tapi istilah tanpa implementasi itu hanya dekorasi. Dan implementasi tanpa istilah, seperti yang dilakukan bapak itu, tetap menghasilkan perubahan nyata,” ujar Rido.
“Dan momen itu ngajarin gue sesuatu yang tidak akan gue lupa. Gelar itu membuka pintu, tapi yang bikin lo dihormati di dalam ruangan itu bukan gelarnya. Itu apa yang sudah lo kerjakan dan lo bisa pertanggungjawabkan,” jelas dia.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Sarjana Ekonomi Pilih Berjualan Ayam Penyet, Sempat Diremehkan Banyak Orang, tetapi Bisa Untung 3x Lipat UMR dan Kalahkan Gaji Pekerja Kantoran dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














