Perkuliahan di kelas tidak memberi apa-apa
Lebih parah, metode pembelajaran yang Haliza dapatkan—setidaknya di jurusannya—baginya terasa ala kadarnya. Bahkan cenderung tidak niat, baik dari sisi dosen maupun mahasiswa UIN sendiri.
Dosen jarang masuk banyak. Lebih banyak lagi dosen yang sistem mengajarnya hanya memberi tugas, presentasi, lalu selesai. Semua terasa sangat teoretis dan formalitas belaka. Seperti tidak ada kesan untuk benar-benar mempersiapkan lulusan UIN nantinya bakal bagaimana.
“Mahasiswa pun sama hal. Hanya mengerjakan tugas sekadarnya. Tidak sungguh-sungguh belajar. Diajak cari referensi di perpustakaan susah sekali,” kata Haliza.
“Masa itu, ada mahasiswa yang suka copy paste dari internet. Presentasi hanya dibaca saja,” sambungnya.
Suasana perkuliahan benar-benar monoton. Dari semester ke semester tidak berubah. Justru semakin membosankan karena metode yang begitu-begitu saja.
“Ada pengalaman lucu. Ada mata kuliah yang mengharuskan kuliah lapangan. Misalnya arkeologi. Tapi kami bingung harus buat apa, karena hanya lihat-lihat makam kuno,” ungkap Haliza.
Dibetah-betahkan meski merasa salah kampus dan hadapi guyonan tidak mutu dari mahasiswa Indonesia
Sejak memasuki semester 3, Haliza sebenarnya sudah merasa tidak betah kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) dengan kualitas pendidikan semacam itu. Namun, saat itu, rasanya sepertinya akan melelahkan jika ia harus mengulang lagi mendaftar kuliah di Malaysia.
Setelah berbincang dengan teman-temannya sesama mahasiswa Malaysia, sudah kepalang tanggung nyebur kuliah di UIN. Jadi harus dituntaskan.
Walaupun, selain persoalan fasilitas dan metode di kelas, ada satu hal lagi yang harus kuat-kuatan para mahasiswa Malaysia hadapi: guyonan tidak mutu. Misalnya:
“Kamu dari Malaysia? Apanya Kampung Durian Runtuh? (kampung dalam serial Upin Ipin).”
“Kamu tetangganya Tok Dalang?.”
“Due…. tige….”
“Ada juga yang berlagak dekat, memanggil saya “Kak Ros” bahkan “Mak Cik”. Saya tersenyum saja. Cara berguraunya aneh,” keluh Haliza.
Lulusan UIN mentok gitu-gitu aja
Dengan segala dinamika itu, Haliza akhirnya lulus kuliah pada 2022. Ia kemudian kembali ke Malaysia. Karena ingin balas dendam setelah melalui kuliah sekadarnya di UIN, ia pun melanjutkan S2 di sebuah universitas di Malaysia.
Karena ia sadar betul, label lulusan UIN yang menjalani kuliah seperti Haliza, rasa-rasanya akan susah berkarier di Malaysia. Serba nanggung. Skill tidak bisa ditawarkan, intelektual juga pas-pasan.
“Faktanya, teman-teman saya mahasiswa Malaysia dulu akhirnya juga banyak ambil S2 di universitas Malaysia. Kalau tidak S2, ada yang meneruskan bisnis keluarga,” kata Haliza.
“Sedangkan teman saya lulusan UIN di Indonesia, begitu-begitu saja. Tidak beranjak kariernya. Saya masih terhubung dengan beberapa teman. Banyak yang jadi guru (honorer) dengan gaji kecil sangat. Banyak juga yang bekerja informal, sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusan semasa kuliah,” pungkasnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kuliah di UIN Jadi Tahan Penderitaan Hidup: Kumpul Mahasiswa “Modal Iman”, Terbiasa Mbambung dan Lapar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













