LPDP jadi beasiswa paling cepat terlintas di pikiran kalau butuh sokongan dana buat lanjut sekolah lagi. Daftar LPDP jadi semacam “harapan” kalau negara mau memfasilitasi, tapi yang terjadi sering sebaliknya, khususnya dalam tahap wawancara.
Skema wawancara LPDP yang berbeda-beda
Tahap wawancara LPDP diisi oleh tiga pewawancara. Biasanya, formasi pewawancara akan terdiri dari akademisi, praktisi, dan psikolog. Setiap pendaftar, meskipun membidik jurusan dan kampus yang sama, bukan mustahil akan mendapatkan pewawancara yang berbeda. Inilah yang membuat faktor “bejo” (keberuntungan) juga dimainkan dalam tahap akhir ini.
Pasalnya, keragaman pewawancara ini berarti akan ada pewawancara yang objektif dalam menilai. Juga, ada pewawancara yang subjektif, bahkan judgemental.
Melati (24) adalah salah satu yang mengalaminya. Ia dipertemukan dengan pewawancara yang menyerang personal alih-alih mengulik potensinya.
Ada yang berjuang habis-habisan, malah diserang personal di akhir seleksi
Wawancara adalah tahapan akhir seleksi. Ini berarti, tahap ini menjadi harapan “terakhir” juga buat Melati (bukan nama sebenarnya) yang berusaha penuh selama proses seleksi.
Bagi yang belum tahu, LPDP terdiri dari tiga tahapan seleksi: seleksi administrasi, seleksi bakat skolastik (TBS), dan seleksi substansi (wawancara).
Dalam seleksi administrasi, pendaftar perlu mengumpulkan seluruh berkas yang diminta. Memastikan berkas ini terpenuhi saja sudah cukup sulit, Melati harus menghubungi dosen di kampus sebelumnya, juga menuliskan esai panjang tentang diri dan rencana kontribusi.
Selanjutnya, karena Melati sudah mengantongi surat penerimaan (LoA), ia bisa melewati tahapan TBS. Namun, Melati tidak bisa melangkahi wawancara dan langsung menjadi penerima—disebut awardee—begitu saja.
Inilah langkah terakhir yang menjadi penentunya bagi Melati. Wawancara adalah tahap sekaligus harap terakhirnya.
Namun, harapan Melati dimusnahkan. Ia ditolak mentah-mentah, bahkan sebelum bisa berusaha meyakinkan bahwa dirinya layak menerima LPDP. Melati menggambarkan situasi ini terjadi dalam tensi yang tinggi, menempatkan dirinya dalam serangan personal dari berbagai celah yang memungkinkan.
“Aku merasa pas wawancara itu tensinya sangat tinggi karena semua yang diserang secara personal,” kata Melati kepada saya, Jumat (20/2/2026) siang.
Menjatuhkan mental bisa jadi trik wawancara, tapi bukan berarti adil
Meskipun disambut dengan suasana yang tidak nyaman, Melati mencoba memahami. Ia bilang, sudah pernah mendengar ulasan wawancara LPDP yang seperti ini sebelumnya. Ia tidak sendiri—bukan hanya Melati yang mengalami, sehingga mencoba menerima.
“Walaupun waktu itu, aku pernah dengar siapa gitu ngomong kalau emang [serangan personal] itu tuh sengaja. Sebuah trik supaya bisa melihat apakah kita bener-bener ready untuk melanjutkan dan menyelesaikan studi S2. Jadi, bukan untuk menyerang personal,” katanya.
Namun setelah sudah mempersiapkan diri untuk menerima wawancara sebagai bagian seleksi yang lebih profesional, Melati tidak bisa menerima.
Ia membayangkan wawancara LPDP akan seperti wawancara kerja bersama HR yang ditujukan untuk menggali potensi calon pekerja. Bukan untuk “menguliti” seperti seorang hakim.
Terlebih, pertanyaan yang diterima Melati langsung merujuk pada latar belakangnya sebagai lulusan UGM, salah satu kampus di Jogja, bergengsi di Indonesia. Melati yang ingin kembali ke UGM dipertanyakan, padahal mengingat posisi “terbaik” kampusnya itu adalah keputusan yang masuk akal.
“Tapi, aku tetap merasa terserang secara personal karena kayak gimana ya, bahkan aku tidak disuruh perkenalan tuh seingatku langsung ditembak ‘Kenapa pengin lanjut UGM lagi?’,” ujarnya menirukan gaya pewawancara yang menanyainya dengan sinis.
Sudah jatuh ditimpa tangga, dihakimi dan dicap “buruk” dalam wawancara LPDP
Setelah itu, Melati mengatakan, dirinya langsung menerima “cap” dari pewawancara LPDP. Padahal, wawancaranya baru saja berlangsung.
Keputusan Melati untuk melanjutkan kuliah di UGM lagi malah jadi bumerang baginya yang disebut “tidak mau berpetualang” karena berasal dari Jawa Tengah, lalu melanjutkan studi di Jogja lokasinya masih bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua.
Selama kariernya, Melati juga menjejali Jawa Tengah-Jogja. Bisa dikatakan, Melati berkontribusi penuh terhadap Jawa Tengah-Jogja.
Namun, bukannya menjadi nilai lebih karena “berkesinambungan”, ia dicap buruk begitu saja.
“Karena kan aku S1-nya UGM. Jadi, pertanyaan pertamanya itu. Nah, habis itu, terus di-judge bahwa aku punya kecenderungan untuk nggak mau ‘berpetualang’,” kata Melati.
Padahal, calon penerima beasiswa seperti Melati inilah yang akan berdedikasi penuh apabila diberi kesempatan. Salah satu poin pernyataan pendaftaran LPDP mensyaratkan peserta untuk kembali ke Indonesia dan berkontribusi di Indonesia selama 2 kali masa studi ditambah 1 tahun setelah selesai studi.
Dalam kondisi, calon penerima sudah punya jejak karier di wilayah asal, lalu memilih mengulang studi di kampus yang sama (yang juga terbaik di Indonesia) dengan rencana kontribusi di lokasi yang tidak jauh dari sana. Artinya, ia akan memanfaatkan beasiswa sebaik-baiknya, bukan justru menyalahgunakan seperti sebagian oknum.
Pewawancara LPDP sudah punya ekspektasi, wawancara hanya basa-basi
Tidak sampai di sini, Melati masih menerima pertanyaan panjang yang membuatnya mempertanyakan diri sendiri.
Salah satu yang paling membekas adalah ketidakselarasan rencana dan pengalaman Melati, menurut pewawancaranya. Kedua hal ini dilihat berbeda dengan sejarah Melati yang lebih condong sebagai praktisi, tetapi ingin beralih menjadi akademisi.
“Aku juga dipertanyakan kenapa selama S1 tidak ikut konferensi yang sifatnya ilmiah banget gitu? Kenapa tidak ada publikasi segala macem, padahal rencana ke depan katanya mau jadi akademisi,” bebernya.
Melihat daftar pencapaian Melati, bukan tidak pernah Melati berkontribusi dalam ranah akademis. Ia pernah menjejal pengalaman sebagai guru. Ia juga pernah melakukan publikasi, meski tidak akademis—tetapi punya potensi untuk ditempa demikian kalau bisa lanjut S2.
Selain itu, mengingat akademisi punya tiga tugas pokok Tridharma, yakni mengajar, meneliti, dan mengabdi. Melati punya pengalaman panjang dalam pengabdian kepada daerah asalnya. Namun bagaimanapun, seluruh keunggulannya ini seakan-akan tidak berarti.
“Habis itu, aku juga dibilang sebenarnya kamu tuh rekam jejaknya cenderung ke sana, tapi penginnya ke sini,” ujarnya.
“Di dalam waktu mendesak dan situasi yang tensinya tinggi seperti itu, tentu saja aku nggak bisa terlalu berpikir jernih, kurasa sebenarnya mereka sudah punya jawaban, tapi memastikan apakah jawabanku sama dengan ekspektasi mereka kayak gitu,” kata Melati menambahkan gambaran situasinya saat itu.
Karena itu, Melati jadi merasa rendah diri. Ia merasa pencapaiannya yang tidak relevan, berarti tidak ada pencapaian—sebab, tidak dipertimbangkan. “Jadi, menurut mereka, nggak oke kalau aku mau lanjut S2, tapi dengan rencana kontribusi menjadi akademisi itu, tapi apa yang udah aku perbuat di S1 tuh kayak tidak mengarah ke sana gitu,” tambahnya.
Setelah wawancara berakhir, barulah Melati yang bisa menenangkan dirinya menyadari. Bukan salahnya diberi “cap tidak layak” dalam wawancara, melainkan kesempatan yang tidak pernah benar-benar diberikan.
Menurutnya, alasan-alasan yang dilontarkan untuk tidak menerimanya adalah alasan-alasan untuk menerimanya. Ia bisa memutarbalikkan itu kalau saja tidak dihakimi lebih dulu dan diserang habis-habisan secara personal.
“Aku lupa nggak menyampaikan bahwa itulah kenapa aku pengin S2, karena knowledge gap-nya di situ yang mau aku isi, makanya kasih aku chance gitu, tapi kan sudah di-judge duluan,” tutupnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA Indonesia Adalah Negara Tanpa Logika dan Semaunya Sendiri ketika Menentukan Jurusan LPDP bagi Mahasiswa Tanpa Mendengarkan Kritik dan Masukan dan artikel liputan Mojok lainnya dalam rubrik Liputan














