Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) dulu terasa berbeda dengan sekarang. Khususnya dalam gaya hidup mahasiswa. Perbedaan itu membuat alumni PTN di bawah Kementerian Agama (Kemenag RI) tersebut, di konteks tertentu, merasa beruntung kuliah di UIN di masa-masa dulu—setidaknya sebelum badai Covid-19.
***
“Untung saja kita kuliah di UIN sebelum Covid-19.” Kira-kira begitu seloroh sejumlah teman alumni UIN ketika nostalgia melintasi gedung kampus.
Pasca Covid-19, memang seolah ada gaya hidup baru yang masuk dan menjalar begitu cepat. Membuat seolah jarak antara masa awal kuliah—yang sebenarnya masih di tahun 2015-2017-an—terasa seperti sudah tertinggal di nun belakang sana.
Tiga orang alumni UIN lantas berbagi apa yang merasakan kepada saya: betapa gaya hidup mahasiswa UIN dulu dengan sekarang terasa sangat berbeda dalam skala mayoritas (dengan tidak mengabaikan fakta bahwa masih ada part-part tertentu yang terasa masih sama). Perbedaan gaya hidup itu justru membuat tiga orang alumni UIN yang menjadi responden saya itu merasa bersyukur mengawali kuliah di UIN di masa 2015-2017-an.
#1 Universitas Islam Negeri (UIN) dulu: lebih ramah kelas menengah bawah
Sebelum ke perbedaan yang dari tiga responden alumni UIN, saya akan bagikan perbedaan yang saya rasakan sendiri—sebagai alumnus Universitas Islam Negeri. Perbedaan itu sangat kentara: di sisi besaran UKT.
Saya masuk kuliah pada 2017. Waktu itu saya masih bisa mendapat UKT termurah di angka Rp900 ribu persemester. Itu pun ada beberapa teman yang masih bisa banding hingga menjadi hanya Rp400 ribu persemester.
Itu dulu menjadi alasan saya melepas sebuah PTN besar di Surakarta. Karena di PTN itu saya kena UKT Rp2,4 jutaan. Kalau ada yang lebih murah, ya sudah ambil yang murah. Bagi saya waktu itu, UKT Rp2,4 juta sudah terasa berat di kantong.
Namun, di tahun-tahun setelahnya, jurusan dengan UKT ratusan ribu rupiah sudah jarang. Rata-rata paling murah ada di angka Rp1,8 juta. Menengah ada di angka Rp2,4 jutaan. Sementara untuk yang paling mahal sudah menyentuh Rp5 jutaan.
Itu membuat saya benar-benar bersyukur kuliah di tahun 2017-an. Sebab, angka-angka tinggi mulai bermunculan sejak 2018 hingga sekarang. Semakin bersyukur karena setiap berbincang dengan teman dari PTN lain, rata-rata terkejut dan menganggap saya sangat beruntung bisa kuliah dengan modal ratusan ribu rupiah.
Walaupun di luar UKT besar itu sebenarnya mahasiswa masih bisa mengejar beragam jenis beasiswa. Tapi ya memang harus gambling juga.
#2 Seandainya kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) hari ini: outfit akan terintimidasi
Tiga responden, termasuk saya sendiri mengamini, ada perubahan gaya berbusana antara mahasiswa UIN era dulu dengan sekarang.
Pada dasarnya, ada fakultas yang menerapkan aturan pekem soal outfit ngampus. Misalnya di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan atau Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Outfit paling umum jelas busana syar’i. Dan itu masih mudah ditemukan sampai sekarang.
Sementara di fakultas lain cenderung lebih fleksibel asal sopan. Tapi outfit mahasiswa UIN dulu—setidaknya di lingkaran saya dan tiga responden saya ini—busana kuliah lebih ke prinsip “sing penting nyandang tur sopan (yang penting berpakaian dan sopan)”.
Tidak ada urusan outfit tersebut rapi atau lecek. Baru atau kumal. Apalagi ngurusin soal brand dan tren tertentu. Tidak ada. Begitu juga dengan perangkat pendukung lain seperti sepatu, tas, atau bahkan hp. Prinsipnya, pokoknya fungsional buat menunjang kuliah.
Saya sendiri saja kuliah pakai sepatu New Era yang sudah saya pakai sejak kelas 3 MAN. Tas pakai Palazzo. Hp-pun pakai Redmi kentang yang lemotnya nauzubillah. Itu lah kenapa, sisi buruknya, mahasiswa UIN kerap “direndahkan” mahasiswa PTN lain. Karena dari segi penampilan cenderung lusuh, kumal, dan tertinggal (terlalu tradisional).
Berbeda dengan sekarang. Mahasiswa UIN tampak lebih branded dan kalcer. Punya daya tawar lah terhadap tren yang berkembang.
Hanya saja, alumni UIN yang masih terjebak dalam romantisme masa lalu membayangkan: seandainya kuliah di era sekarang, sementara kemampuan finansial dan prinsip hidup memungkinkan berpenampilan ala kadarnya, pasti akan merasa terintimidasi, baik di kelas maupun tongkrongan.
Saya punya kasus mutakhir soal ini. Saat saya masih nyambi ngajar di sebuah pesantren di Sidoarjo, ada seorang santri yang kuliah (masuk 2023) yang penampilannya tidak jauh berbeda dengan kami-kami angkatan lama. Dan ia memang kerap merasa terintimidasi. Bahkan ada teman yang terang-terangan menyinggung penampilannya yang dianggap “nggak banget” untuk ukuran anak zaman sekarang.
#3 Ngopi kok di warkop atau angkringan, kurang kalcer!
Mahasiswa Universitas Islam Negeri—di Surabaya, Jogja, Semarang—dulu lebih akrab dengan warung kopi atau angkringan. Alasannya, ya apalagi kalau bukan murah dan tidak terbatas.
Pesan kopi seharga Rp3 ribu-Rp4 ribu segelas, sudah bisa digunakan untuk mengakses internet untuk nugas di laptop atau diskusi semalam suntuk.
Rasa-rasanya akan terintimidasi jika mahasiswa UIN di masa itu kuliah di masa sekarang: ketika warkop atau angkringan dianggap kurang kalcer, sehingga ngopi, nugas, atau nongkrong harus ke coffee shop yang segelas kopinya harus ditebus di harga Rp20 ribuan ke atas.
Rp20 ribu, bagi mahasiswa seperti saya dan tiga responden ini, lebih masuk akal dipakai untuk makan dua kali sehari lah. Itu saja masih bisa ditekan dengan mencari warung makan yang membuka harga mulai Rp7 ribu/Rp8 ribuan. Kalau keluar Rp20 ribuan hanya untuk segelas kopi, menyesalnya pasti tidak karuan.
#4 Selera musik yang dihakimi
Dulu, antarmahasiswa UIN rasa-rasanya tidak ada yang “si paling skena” dalam urusan musik. Musik itu preferensi masing-masing. Selesai.
Dulu, saat seorang mahasiswa mendengarkan lagu-lagu Efek Rumah Kaca atau Fourtwnty, teman kosnya masih pede-pede saja memutar lagu-lagu lawas.
Saat seorang mahasiswa asyik mendengar Nosstress atau Silampukau, temannya masih enjoy aja denga lagu-lagu pop Jawa selepas meledaknya nama Denny Caknan, Guyon Waton, hingga Happy Asmara.
Sekarang, selera musik berbeda—yang dianggap tidak mengikuti tren skena—bisa dihakimi. Itu membuat beberapa orang memilih mendengarkan preferensi lagunya di headset sembari berkendara motor atau memutar leluasa di kamar kosan.
#5 Debatable: PTN Islam tapi tak suka nuansa ke-Islaman
Bagian ini debatable. Tiga responden saya menyebut, budaya diskusi ke-Islaman di kalangan mahasiswa UIN sekarang tidak terlalu diminati. Padahal, dulu diskusi semacam itu sangat lazim. Namanya juga PTN Islam (Universitas Islam Negeri).
Sekarang, kalau toh diskusi, cenderung minim sentuhan spiritualitas. Kalau ada yang masih giat diskusi soal spiritualitas, responsnya sering kali seolah-olah ingin bilang, “Apaan sih?”.
Apalagi bagi mahasiswa yang cenderung menampakkan betul sisi relijiusitasnya. Label yang tersemat kemudian adalah, “Sok agamis” dan sejenisnya. Bahkan bisa dijauhi dari pertemanan karena label “konservatif”.
Alhasil, yang terjadi kemudian: muncul perasaan, kok menjadi Islamis di PTN Islam malah terkesan merupakan sebuah keanehan bahkan kesalahan?
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kuliah di UIN Jadi Tahan Penderitaan Hidup: Kumpul Mahasiswa “Modal Iman”, Terbiasa Mbambung dan Lapar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













