Kuliah di kampus top Universitas Gadjah Mada (UGM) bukan hal mudah, terutama saat keluarga tak merestui karena kondisi biaya. Namun, pemuda asal Pleret, Bantul ini berhasil membuktikan dengan menerima beasiswa hingga meraih gelar sarjana dan meneruskan S3 di Belanda.
***
Namanya Ahmad Rif’an Khoirul Lisan (32). Sejak mendaftar di UGM Fakultas Geografi pada tahun 2012, jalan Rif’an—sapaan akrabnya, untuk kuliah tidaklah mudah. Mulanya, ayah Rif’an menyuruh anak sulungnya itu untuk langsung bekerja mengingat ada 6 adiknya yang masih harus sekolah.
Sementara ayahnya hanya bekerja sebagai guru mengaji panggilan dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Keduanya berharap agar Rif’an ikut menghidupi kebutuhan adik-adiknya. Namun, permintaan itu justru tidak mengendorkan Rif’an untuk mengejar mimpi.
Bagi Rif’an, melanjutkan pendidikan bukan sekadar mimpi pribadi, melainkan tujuan untuk mengubah kondisi keluarganya agar merasakan hidup lebih baik. Agar mimpinya tercapai, Rif’an berusaha bekerja sambil kuliah, sekaligus mencari beasiswa.
Bertahan hingga Sarjana di UGM dengan beasiswa
Awal kuliah di Fakultas Geografi UGM tahun 2012, Rif’an langsung mencari beasiswa seperti beasiswa Bidikmisi (sekarang KIP Kuliah). Tak hanya itu, ia turut aktif di berbagai organisasi kampus. Selain ingin menambah skill di luar aktivitas kuliah, serta menambah jejaring, alasan utamanya adalah agar bisa dapat makan gratis.

“Biasanya ikut kegiatan kepanitiaan karena tahu ada konsumsi. Terus beberapa kali minum air dari keran saking nggak punya biaya untuk beli Aqua gelas,” ujar Rif’an dikonfirmasi Mojok, Sabtu (14/3/2026).
Saat kelaparan di tengah kantong kering, Rif’an mencari warung paling murah di sekitar UGM. Setidaknya, uang Rp4 ribu cukup untuk membeli nasi, sayur, dan satu gorengan di masa itu. Sehat atau tidak, kata Rif’an, yang penting makan.
“Aku juga ikut menanam di kampus buat panen buah-buahan sama teman-teman untuk dimakan,” ujarnya.
Pertolongan Tuhan yang terus mengalir
Kondisi ekonomi yang terbatas juga mengharuskan Rif’an kuliah sambil bekerja. Di awal perkuliahan, ia memilih berdagang saat siang seperti menjual arem-arem atau bubur kacang ijo. Setelahnya, ia kerja di warnet paruh waktu agar mendapat uang sekaligus menggunakan komputer di sana untuk mengerjakan tugas kuliah.
Namun, muncul stigma bahwa mahasiswa yang bekerja di warnet pasti lulusnya lama. Mendengar hal itu, Rif’an memberanikan diri untuk menemui Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan Fakultas Geografi UGM, guna menceritakan alasannya bekerja paruh waktu di warnet.

Alih-alih dilarang atau dimarahi, dosennya justru memberikan komputer bekas miliknya untuk Rif’an. Berkat kebaikan hati dosennya itu, Rif’an bisa mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.
Tak berhenti sampai di situ, Rif’an juga tertolong berkat program asrama pembinaan kepemimpinan tahun 2014, yang kini dikenal sebagai Rumah Kepemimpinan. Dari sana, ia mendapat bantuan tempat tinggal sekaligus uang saku bulanan sekitar Rp500 ribu.
Untuk pertama kalinya, Rif’an bisa menabung dari uang saku bulanan tersebut. Dari program itu pula, ia bisa merasakan bepergian ke luar negeri untuk pertama kalinya.
“Aku ikut perjalanan singkat ke Kuala Lumpur bersama teman-teman asrama,” dikutip dari laman resmi UGM.
Lanjut kuliah S2 di Amerika setelah wisuda UGM
Singkat cerita, Rif’an akhirnya lulus dan mendapat gelar Sarjana di UGM. Setelah itu, ia mulai mencari-cari beasiswa hingga lolos beasiswa LPDP luar negeri pada tahun 2018. Bersamaan dengan itu, Rif’an juga diterima kuliah S2 di Arizona State University, Amerika Serikat (AS).

Setibanya di AS, Rif’an dibantu oleh komunitas mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia untuk mencari tempat tinggal. Berkat mereka pula, Rif’an bisa beradaptasi. Tanpa menghilangkan prinsip hidupnya untuk berhemat, Rif’an lebih sering masak sendiri serta memanfaatkan food bank di kampus guna mendapat bahan makanan.
“Aku masih ingat, almarhum kyai Muhammad Khatib Masyhudi (guruku dulu) datang ke rumah waktu aku belum berangkat ke Amerika. Dia kasih uang saku yang menurutku cukup besar yakni Rp700 ribu. Lebih dari itu, aku juga bawa cash 200 USD, hasil utang beliau juga sebesar Rp20 juta,” ujar Rif’an.
Setelah berhasil bertahan di AS selama 15 bulan, Rif’an diimbau untuk pulang ke tanah air karena pandemi Covid-19. Alhasil, ia pulang dan menyelesaikan tesisnya di Indonesia hingga lulus pada tahun 2020.
Dari UGM, Amerika, hingga S3 di Belanda
Sepulang dari Amerika, Rif’an sempat bekerja di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Kini, ia mengajar sebagai dosen di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta.
Pada 2024, ia kembali meraih beasiswa LPDP dan melanjutkan kuliah S3 di Wageningen University & Research di Belanda dengan fokus pada pengelolaan sumber daya air dan pertanian.
Mengingat usahanya kini, Rif’an sadar bahwa tiap usaha dan kesulitan yang tengah dijalani seseorang tidak akan pernah sia-sia. Selalu akan ada pelajaran yang bisa diambil, serta solusi yang dibukakan, asal kita tidak menyerah.
“Jika boleh menyampaikan pesan untuk siapa pun yang sedang berjuang, aku selalu percaya satu hal: Gusti mboten sare—Tuhan tidak pernah tidur,” kata alumnus UGM tersebut.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













