Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Di Balik Pesona Rinjani, Gunung Terindah di Indonesia yang Ternodai

Kalau mendaki meninggalkan sampah, mending nggak usah saja!

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
6 Agustus 2023
A A
Pesona Rinjani, Gunung Terindah di Indonesia yang Ternodai (Ega Fansuri/Mojok.co)

Ilustrasi pendakian Gunung Rinjani (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tidak salah untuk menyebut Gunung Rinjani sebagai trek pendakian paling menawan di Indonesia. Gunung ini punya lanskap alam yang begitu lengkap. Kendati begitu, ada sejumlah alasan yang membuat Rinjani sejatinya tidak perlu kamu daki.

***

Di mobil, mata saya takjub melihat deretan perbukitan hijau kekuningan yang gagah berdiri di sisi jalan. Panorama itu tampak setelah kami melewati hutan yang membuat perjalanan terasa gelap. 

Pohon besar gagah berdiri, beberapa monyet tampak di tepian berharap ada yang melempar sisa makanan. Bahagia rasanya sedekat ini dengan gunung yang sudah lama saya ingin saya daki. 

Sebelumnya, saya tiba di Bandara Internasional Lombok bersama seorang rekan dari Jogja pada Rabu (26/7/2023) sekitar pukul setengah dua belas. Kami berdua langsung mendapat jemputan dari sopir mobil yang sudah kami pesan jauh-jauh hari. 

Biaya pengantaran dari bandara menuju Sembalun, Lombok Timur, basecamp utama pendakian Rp430 ribu. Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam. Sempat tertidur, saya terbangun ketika jalan mulai menanjak dan berkelok, tanda Sembalun semakin dekat.

Rinjani, dekat di hati jauh di kaki

Pendakian baru kami mulai Kamis pagi. Kami terlebih dahulu menginap di Joglo Sembalun Ceria, sebuah penginapan di dekat basecamp utama pendakian Gunung Rinjani. Penginapan itu milik kenalan kami, Gifari Saputra yang merupakan pebisnis muda asli Sembalun.

Gifari bercerita banyak tentang gunung yang setiap hari ia lihat tatkala membuka pintu rumahnya. Sembalun, merupakan lembah di antara lebih dari tujuh gunung dan perbukitan. Tanah yang subur untuk bertani.

Keindahannya tak perlu diragukan lagi. Tapi perlu persiapan fisik dan mental buat kami berdua yang akan mendaki tanpa porter. “Rinjani itu dekat di mata tapi jauh di kaki,” kelakar Gifari berulang kali kepada kami. 

Hal itu akan kami buktikan besoknya. Kami akan naik dari Sembalun dan turun lewat jalur Torean demi mendapatkan keseluruhan titik keindahan gunung ini. 

Perjalanan kami akan memakan waktu 4 hari 3 malam, sesuai batas maksimal durasi pendakian dari pihak Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Sebenarnya bisa lebih cepat, tapi tentu kami tahu diri dengan tenaga kami.

Para pendaki yang sedang menuju puncak Rinjani.
Para pendaki yang sedang menuju puncak Rinjani. (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Sebelum itu, kami menikmati malam bercengkerama bersama beberapa pemuda Sembalun sebelum tenaga akan diperas habis-habisan di trek panjang dan penuh tanjakan. Kami menyalakan api unggun, merokok, sambil mendengar mereka bercerita tentang hidup indah di kaki Rinjani.

Sabana panjang yang melelahkan di Rinjani

Kami agak kesiangan untuk berangkat. Baru mengurus registrasi sekitar jam setengah sembilan pagi. Saat itu, basecamp sudah penuh sesak dengan pendaki. 

Kami menaiki mobil bak terbuka milik Gifari dari basecamp menuju titik awal pendakian yang sudah berupa perbukitan sabana rumput. Keindahan Rinjani sudah tampak jelas dari permulaan perjalanan. Kami berangkat tepat pukul setengah sepuluh saat hari sudah terik.

Iklan

Langkah demi langkah dengan tenaga yang masih penuh berjalan lancar. Permukaan tanah penuh debu lantaran beberapa waktu tidak turun hujan. Hal ini sudah kami perkirakan ketika memutuskan mendaki di musim kemarau.

Meski di bawah cerah, sekitar pukul sebelas kabut sudah tampak menyelimuti puncak Rinjani. Di jalan, tahi sapi banyak berceceran. Sepanjang trek awal sampai ke pos dua jalur Sembalun memang jadi tempat menggembala sapi-sapi coklat khas Lombok.

Satu jam waktu yang perlu kami tempuh untuk sampai di pos 1. Di sana, suasana sudah ramai dengan pendaki mancanegara. Kebanyakan dari Eropa. Namun, banyak juga pendaki dari Malaysia yang kami temui.

Perbincangan dengan ragam bahasa terdengar. Namun, ada satu yang menarik perhatian saya, saat pendaki Prancis terheran-heran dengan porter yang langsung mengepulkan asap rokok seperti cerobong kereta uap.

“How can u smoke in this situation?” kata bule sambil tertawa.

“No smoke no energy,” sahut beberapa porter itu sambil unjuk otot lengannnya.

Suasana di Pos 1 pendakian Rinjani via Sembalun. MOJOK.CO
Suasana di Pos 1 pendakian Rinjani via Sembalun. (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Pos tempatnya makan siang

Saya menyimaknya sambil merokok juga. Nikmat sekali. Tapi tentu tenaga saya tidak sebanding dengan para porter yang memanggul beban begitu berat dari para pendaki yang mereka pandu.

Bangunan di pos 2 tampak dari titik berhenti kami. Artinya, perjalanan ke sana tak akan terlalu lama. Tapi pepatah Gifari tampaknya berlaku. Waktu tempuh kami ke sana tak terlalu singkat, sekitar 50 menit.

Sepanjang jalan, rekan saya, Nimal, tampak sudah ngos-ngosan. Ia sempat tawar menawar dengan ojek yang bisa mengantar sampai pintu pos 2. Namun, ia akhirnya lebih memilih menghemat uang Rp50 ribu.

Sesampainya di pos 2, suasana sedikit membahagiakan lantaran banyak pedagang. Tempat ini bak shelter pemberhentian untuk makan siang. Para porter memasak makanan untuk pendaki. Kami cukup beli semangka dan gorengan untuk memompa semangat lagi.

Perjalanan dari pintu gerbang sampai pos 3 masih didominasi trek bukit berkontur tanah. Pemandangannya padang rumput luas. Lalu berlanjut ke area tebing berbatu yang semakin terjal tanjakannya. 

Bagian pertama pendakian Rinjani via Sembalun kami anggap berakhir di Pelawangan Sembalun. Area berkemah luas dengan panorama Danau Segara Anak yang memikat. Perjalanan dari pintu gerbang sampai Pelawangan kami tempuh dengan durasi delapan jam. Sedikit molor dari estimasi karena langkah gontai kami.

Summit yang menguras mental

Datang di Pelawangan sudah gelap, kami harus segera mendirikan tenda demi merebahkan badan. Idealnya, perjalanan menuju puncak harus dimulai sejak sekitar pukul satu atau dua dini hari.

“Perjalanan ke puncak paling cepat lima jam. Itu pun kalau sama porter,” kata Gifari yang terus kami ingat.

Sial, karena kelelahan, jam 2 kami baru bangun. Perlu waktu untuk menyesuaikan diri sejenak sebelum badan bisa diajak bergerak. Alhasil, setengah jam kemudian kami baru memulai langkah keluar tenda.

Sorot lampu senter sudah tampak berderet di jalanan menanjak menuju puncak Rinjani. Kelihatannya dekat, tapi lain di mata lain di kaki.

Rute menuju puncak penuh tanjakan. Berawal dari mendaki bukit dengan tanah kering dan debu menumpuk. Banyaknya pendaki membuat debu berterbangan mengganggu pernapasan. Wajib hukumnya menggunakan alat pelindung seperti masker atau slayer yang menutup wajah saat mendaki.

Sekitar jam enam pagi, kami sudah berada di bukit yang mengitari Segara Anak. Di sini pemandangan sedikit jadi penghiburan atas lelah. Belum lagi semburat fajar mulai terlihat dari sisi barat. Membuat laut selatan Lombok tampak indah.

Trek tanah sudah berganti bebatuan kecil yang rawan membuat pendaki tergelincir. Tanjakan juga semakin curam. Membuat kami terus berhenti menghela napas setiap dua puluh langkah.

Letter E, jalan paling berat menuju puncak Rinjani. Mojok.co
Letter E, jalan paling berat menuju puncak Rinjani. (Hamam Izzuddin/Mojok.co)

Saking seringnya beristirahat, kami baru tiba di hadapan tanjakan paling agung di Rinjani sekitar jam sembilan. Jalan curam yang kerap disebut Letter E. Batuan di trek itu kecil berbalut pasir. Jalan selangkah bisa mundur dua langkah ke belakang.

Halaman selanjutnya…

Puncak yang terlihat dekat tapi jalan begitu berat

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 18 Agustus 2023 oleh

Tags: gununggunung rinjanigunung terindahsampah
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Kiamat Sampah dan Hal-Hal Lain yang Mempercepat Bali Tak Layak Lagi Dikunjungi.MOJOK.CO
Ragam

Kiamat Sampah dan Hal-Hal Lain yang Mempercepat Bali Tak Layak Lagi Dikunjungi

26 Desember 2024
Sampah Jogja, Darurat Sampah Jogja.MOJOK.CO
Aktual

Warga Jogja Paling Berisik di Medsos Soal Sampah, Tapi Pemerintahnya Tutup Mata dan Telinga

8 Juni 2024
Gunung Rinjani Lombok Menuju Menjadi Gunung Sampah MOJOK.CO
Ragam

Gunung Rinjani Lombok Tak Seindah yang Dibayangkan, Capek-Capek Mendaki Berujung Kekecewaan

7 Juni 2024
TPS3R Karangmiri Milik Pemkot Jogja Meresahkan: 100 Persen Ditolak Warga Jagalan Bantul Karena Pembangunannya Asal Terobos.MOJOK.CO
Aktual

TPS3R Karangmiri Milik Pemkot Jogja Meresahkan: 100 Persen Ditolak Warga Jagalan Bantul Karena Pembangunannya Asal Terobos

5 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
InJourney salurkan bantuan pascabencana Sumatra. MOJOK.CO

Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM

17 Januari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.