Cerita dari Aktivis Muhammadiyah yang Menikahi Gadis NU

Langsung minta restu ke Haedar Nashir

Kehadiran sosok Haedar Nashir dan Siti Noordjanah Djohantini di pernikahan [Dok. Andan]

Pada 2018 lalu, seorang pria yang merupakan aktivis Muhammadiyah tulen menikah dengan perempuan dengan latar belakang Nahdlatul Ulama (NU) yang kental. Sebelum prosesi sakral terjadi, pria itu mendatangi Ketua Umum (Ketum) PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir. Menyerahkan undangan dan memohon restu. Haedar tersenyum, menerima undangan itu dan menanyakan, bagaimana latar belakang calon istrinya.

***

Pria itu bernama Velandani Prakoso, di kalangan Muhammadiyah ia bukan nama yang asing didengar. Lebih dari separuh hidupnya dihabiskan di lingkungan persyarikatan. Saat mondok di Mts – MA Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, ia aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) tingkat ranting. Selepas lulus, ia meneruskan ke tingkat daerah, wilayah, hingga aktif di Pimpinan Pusat IPM.

Tak tanggung-tanggung, saat di PP IPM, ia menduduki posisi ketum periode 2016-2018. Lengkap sudah untuk menjuluki dirinya sebagai kader Muhammadiyah tulen. Sang surya telah tertanam dalam dirinya.  “Kalau secara perkaderan formal, bisa dibilang sudah termasuk purna di lingkup Muhammadiyah,” ujar pria kelahiran 1993 ini.

Sedangkan sang istri, Nadzifah Fitriyani, memang bukan seorang kader NU secara struktural. Namun, ia lahir dan dibesarkan di lingkungan NU yang begitu kental di Magelang. Keluarganya banyak aktif di majelis NU, bahkan kediamannya kerap dijadikan tempat berkonsolidasi Badan Otonom NU setempat. “Keluarga saya itu NU tulen, sampai sering mempertanyakan kenapa Muhammadiyah tidak memakai kunut ketika salat subuh,” timpal sang istri saat dihubungi terpisah dari suaminya.

Velandani, yang akrab disapa Andan, Mojok temui di sela kesibukannya bekerja di Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah. Kami berbincang di sebuah kafe tak jauh dari kantornya yang terletak di Kasihan, Bantul. Pada Rabu (5/1/22) jam makan siang, ia menceritakan awal pertemuannya dengan sang istri.

Kedua sejoli ini dipertemukan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekitar 7 tahun silam. Nadzifah dan Andan sempat menjadi temporary staf di sana karena sama-sama alumni kampus muda mendunia. “Ya meskipun istri saya dari latar belakang NU tulen, akhirnya dapat perlahan termuhammadiyahkan di kampus ini,” ujar Andan tersenyum bungah.

Kantor Andan berada di gedung Fakultas Kedokteran, sedangkan Nadzifah aktif berkegiatan di gedung Fakultas Agama Islam (FAI). Dua gedung ini bersebelahan, sehingga kemungkinan berpapasan, bertatapan, dan berinteraksi pun muncul perlahan.

Setelah saling kenal dan waktu berjalan, tahun 2018 mulai timbul rasa ingin mengenal lebih dekat untuk kemudian melangkah ke jenjang yang lebih serius di benak Andan. Beruntungnya, ada teman Andan yang merupakan kerabat Nadzifah sehingga proses pendekatan keduanya agak termudahkan. “Temanku ini kebetulan masih saudaranya Nadzifah, jadi saya tanya-tanya hingga proses berkenalan dengan keluarga di Magelang cukup terbantu berkatnya,” ucap pria asal Banjarnegara ini.

Bagi Nadzifah, segalanya memang terasa begitu cepat. Ia mengaku awalnya belum berani menceritakan ke orang tua, kalau ada seorang pria yang ingin meminangnya. “Karena latar belakang Mas Andan yang Muhammadiyah itu,” ujar sang istri.

Apalagi, semenjak dulu Nadzifah berkuliah di UMY, ada beberapa saudaranya yang mencoba menguji pengetahuan tentang keagamaan, terutama yang menyinggung perbedaan Muhammadiyah dan NU.

“Karena saya milih kuliah di UMY, ada saudara yang mengajak diskusi kitab kuning terkait doa kunut dan ziarah, dikiranya saya sudah Muhammadiyah banget karena kuliah di kampus ini,” tambah Nadzifah.

Namun, tanpa sepengetahuannya, Andan sudah melawat ke Magelang untuk menyampaikan niat ke calon mertua. “Entah apa yang dibicarakan, tapi beberapa hari kemudian saat saya pulang, orang tua langsung menyampaikan, ‘Kemarin Mas Andan datang dan menyampaikan niatnya, kamu sudah siap belum’,” kenang Nadzifah.

Bagi Nadzifah, cara penyampaian dan pendekatan Andan pada kedua orang tuanya cukup baik. Sehingga terbukanya pintu restu tak sesulit yang ia bayangkan. “Pakdhe saya padahal seorang Kiai NU, beberapa kali memang menasihati saya terkait kriteria calon suami yang sefrekuensi dengan keluarga, tapi saya coba jelaskan dengan hati. Akhirnya beliau pun restu,” tambah wanita yang setahun lebih muda dari Andan ini.

Menurut Nadzifah orang tuanya berharap juga agar ia menikah dengan pria yang sefrekuensi dalam beragama. “Dengan kata lain sama-sama NU,” ujarnya. Orang tuanya punya alasan agar kelak, ketika sudah wafat mereka tidak khawatir, jika suami Nadzifah NU pasti ada yang menziarahi kuburnya setiap malam Jumat. Juga melakukan acara tahlil dari hari ketiga, ketujuh, hingga keempat puluh kematian.

Restu Sang Ketua PP Muhammadiyah

Andan mengaku tak menemui halangan untuk mempersunting wanita yang ia suka. Orang tuanya tak menetapkan kriteria sedemikian rupa, sebab bukan berasal dari latar belakang aktivis Muhammadiyah seperti dirinya maupun keluarga sang istri yang kental dengan ke-NU-anya.

Namun, sebagai aktivis banyak teman yang menanyakan, “Kenapa tak mencari jodoh yang sama-sama kader Muhammadiyah?”.  Andan mengakui kalau dulunya ia punya kriteria, bahwa istrinya paling tidak alumnus Madrasah Muallimat Muhammadiyah atau sesama aktivis persyarikatan. Itulah pasangan idealnya dahulu.

Muhammadiyah dan NU menikah
Velandani (kiri) dan Nadzifah (kanan) saat prosesi lamaran [Dok. Andan]
Seiring waktu berjalan ia tak begitu mementingkan itu. “Asal cocok saja, sing penting penting buat hati nyaman,” ujarnya dengan logat ngapak yang masih terdengar kental.

Sebagai seorang aktivis, setelah mendapat persetujuan dari dua pihak keluarga, Andan berinisiatif untuk memohon restu dan doa dari Ketum PP Muhammadiyah, Ayahanda Haedar Nashir. Andan bertemu langsung dengan beliau di Yogya, menyerahkan undangan dan menceritakan rencananya untuk menikah.

Andan ingat betul bagaimana Haedar tersenyum saat menerima undangan yang ia berikan. Kedua sosok ini memang punya kesamaan, sama-sama pernah menjabat sebagai Ketum PP IPM. Namun, salah satu yang kemudian membedakan yakni Haedar menikah dengan ibu Siti Noordjanah Djohantini, aktivis persyarikatan yang kini menjadi Ketum Aisyiah, sedangkan Andan memilih jalan lain dengan meminang putri dari keluarga Nahdliyin.

Usai tersenyum bungah, Haedar menanyakan bagaimana latar belakang wanita pilihan Andan. Dengan jujur, Andan menjelaskan betapa NU keluarga wanita yang hendak ia persunting. Namun, Haedar memberikan kalimat bijak yang selalu terkenang di benak Andan, “Sebagai kader Muhammadiyah, kamu akan merasakan keberagaman yang murni di keluargamu kelak dan itulah salah satu esensi dari Islam Rahmatan Lil ‘Alamiin.”

Restu yang diberikan Haedar berlanjut kala ia bersama ibu Noordjanah mendatangi acara pernikahan Nadzifah dan Andan di Magelang. Acara akad nikah itu memang penuh keragaman. Melibatkan dua ormas besar yang punya banyak perbedaan.

Hal itu membuat Nadzifah dan Andan mengatur agar peran-peran dalam acara sakral itu merepresentasikan dua ormas ini secara bersamaan. Bertempat di lingkungan Nahdliyin, proses khotbah nikah dilakukan oleh Ustaz Fathurahman Kamal yang merupakan Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah. Kemudian prosesi doa-doa dipimpin oleh KH Jironi, Kiai  NU yang merupakan pakdhe dari sang mempelai wanita.

Pernikahan dengan latar belakang dua ormas ini memang kerap menarik perhatian. Setahun sebelum pernikahan Andan, Selmadena yang merupakan cucu dari K.H Saiful Mujab mantan Ketua PWNU DIY era 1970-1980 menikah dengan Baehaqy Rais, putra dari Prof Amien Rais mantan Ketum PP Muhammadiyah.

Kisah cinta berlatar belakang dua ormas ini juga jadi bangunan penting dalam novel Kambing dan Hujan Karya Mahfud Ikhwan. Tentang Fauzia dan Miftah, yang masing-masing ayahnya merupakan pimpinan ormas NU dan Muhammadiyah di desa bernama Centong, berjuang meminta restu. Perbedaan latar belakang dan cara menjalankan ritual keagamaan ternyata memberikan banyak warna dan kisah menarik, sehingga novel ini dinobatkan pemenang sayembara novel DKJ 2014. 

Alasan Andan kerap menolak saat diminta azan

Namun, warna-warni sebelum dan saat prosesi menikah baru awal dari kisah panjang dan lika-liku yang terjadi kemudian. Nadzifah dan Andan membuktikan bahwa di akar rumput, Muhammadiyah dan NU akur dan saling bersatu.

Andan dan keluarga kecilnya dulu sempat tinggal mengontrak rumah di Gamping, Sleman. Namun, setahun belakangan telah pindah ke Magelang, tempat keluarga Nadzifah tinggal. Sehingga untuk bekerja, Andan melaju dari Magelang ke Yogya setiap hari.

Rumah Nadzifah yang terletak di Salam, Magelang memang bukan berada di lingkungan pesantren. Namun berada di satu area khusus yang berisi deretan rumah keluarga. Di sana terdapat langgar atau musala yang dijadikan Taman Pembelajaran Alquran (TPA). Lebih dari seratus anak-anak belajar di sana hampir setiap hari. Di langgar itu juga, keluarga Nadzifah melaksanakan salat sehari-hari.

Masalah peribadatan, NU dan Muhammadiyah memang memiliki sedikit perbedaan. Misalnya pelaksanaan kunut saat salat subuh, jumlah azan saat salat Jumat, rakaat saat salat tarawih, dan ritual-ritual lainnya. “Memang kalau saudara NU ini doanya lebih lengkap,” ujar Andan.

Saat menjalankan ibadah di langgar, keluarga Nadzifah yang dituakan selalu menjadi imam dan memimpin berbagai ritual yang dilaksanakan. Seringnya, Andan hanya diberi tawaran untuk menjadi muazin. “Ya karena azan itu kan universal ya, sama saja, jadi saya bisa aslinya,” tambah Andan.

Velandani Prakoso saat diwawancarai Mojok [Hammam/Mojok.co]
Namun, Andan kerap menolak jika disuruh azan. Ia mengaku belum hafal lantunan puji-pujian yang biasa dibacakan di sana setelah azan dikumandangkan. “Itu alasan utamanya sebenarnya. Tapi kalau ditawarin, biasanya aku bercanda, nanti kalau tak azanin, jemaahnya jadi Muhammadiyah semua gimana?” ujarnya sambil tertawa lepas. Saya pun tak kuat menahan tawa mendengarnya.

Saat pulang kerja, Andan juga kerap menjumpai para pemuda Ansor dan Fatayat sedang berkumpul. Hal itu tak jadi masalah. Malah ia mengaku kerap nimbrung bareng dan berbincang dengan mereka. “Banyak rasa penasaran mereka tentang Muhammadiyah, misalnya bagaimana sebenarnya Pak Din Syamsyudin yang dulunya ketua IPNU di daerah, bisa jadi Ketum PP Muhammadiyah,” paparnya sambil sedikit senyum.

Berada di keluarga NU yang kental juga membuat acara ziarah ke makam-makan jadi hal yang lazim dilakukan. Nadzifah mengaku kalau sang suami biasa ikut mengantar keluarganya saat kegiatan itu dilakukan. “Biasanya keluarga itu ziarah ke Kopeng, Mas Andan ya mengantar. Sebagai bakti ke orang tua,” ujar sang istri.

Selain itu, rutin pula digelar acara mujahadah di langgar. Membacakan doa dan berbagai pujian. Andan juga kerap mengikutinya, meski ya tak hafal juga bacaannya. “Sebagai muamalah saja, nyambung silaturahmi dengan saudara, tetangga. Di NU itu memang guyub sekali kekeluargaannya,” jelas Andan.

Andan merasa diterima di sana, baik dalam acara keluarga maupun ritual-ritual keagamaan yang biasanya tak pernah ia rasakan sebelum menjadi bagian keluarga istrinya. Ia tak pernah merasa dipaksa atau dituntut untuk mengikut, “Malah saya yang kadang terdorong, karena sadar sudah jadi bagian dari keluarga ini,” tambah lulusan Fisipol UMY ini.

Masalah ibadah, Andan juga tetap menjalani seperti yang ia yakini. Misalnya saat tarawih, jika musala menggelar 23 rakaat, maka ia ikut 8 rakaat, kemudian mundur untuk melanjutkan salat witir terpisah.

“Ya aku jelaskan, kalau yang saya pahami mekaten (begini), ya di rumah saya bawakan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah. Saya juga ditunjukkan kitab-kitab rujukan yang biasa dipakai keluarganya,” jelasnya.

Lebih senang tanggal Lebaran berbeda

Sejak menikah Oktober 2018, Nadzifah dan Andan sudah melewati tiga kali lebaran. Lebaran pertama pada 2019, Muhammadiyah dan NU berbeda tanggal pelaksanaan. Hal ini karena NU menggunakan metode rukyat hilal pada penentuan awal puasa, sedangkan Muhammadiyah menggunakan hisab. “Ya kalau berbeda, hari pertama istri saya bawa ke rumah (Banjarnegara), buat lebaran di sana,” ujarnya tertawa.

Kemudian hari kedua, saat NU menggelar Idul Fitri, maka mereka kembali ke Magelang untuk merayakan bersama keluarga istri. “Justru enak kalau lagi beda hari, saat hari lebaran masing-masing keluarga, kita pas bisa hadir to,” tambah Andan.

Kini Nadzifah dan Andan telah dikarunia seorang putri yang tak lama lagi memasuki masa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Mereka tak mau ambil pusing masalah pendidikan dan bagaimana anak ke depan. Mau jadi NU kah atau Muhammadiyah. “Karena di dekat rumah adanya PAUD yang NU, ya dimasukkan ke sana,” ujar Nadzifah.

Andan juga sepakat. Kelak, saat sang anak dewasa biar ia yang memilih jalannya. Semuanya baik-baik saja. Sambil sesekali menyeruput kopinya, Andan mengutip ucapan Emha Ainun Nadjib, “Orang Muhammadiyah kalau sudah di puncak kemuhammadiyahannya akan jadi NU. Orang NU kalau sudah di puncak ke-NU-annya juga bakalan jadi Muhammadiyah,” katanya bijak.

Reporter : Hammam Izzuddin
Editor      : Agung Purwandono

BACA JUGA Tahu Gimbal Kopyok Telur Mbo, Warisan Laris Tiga Generasi dan  liputan menarik lainnya di Susul.

 

Exit mobile version