Setelah 8 tahun mengendarai Yamaha Mio Sporty keluaran tahun 2011, saya akhirnya merasa muak. Bukan karena gayanya yang tak lagi trendy, melainkan ringkihnya motor kesayangan saya ini meski sudah di-service berkali-kali di berbagai bengkel di Jogja. Sampai akhirnya, saya ingin berpaling hati ke motor Yamaha terbaru.
Yamaha Mio Sporty 2011 mogok tiap minggu
Januari lalu, saya mendapat kesialan bertubi saat cuaca di Jogja sedang tak bersahabat. Hembusan angin terjadi pada Sabtu dini hari (24/1/2026) dan baru mereda pukul 13.00 WIB. Angin kencang yang terjadi kala itu menimbulkan beberapa pohon tumbang dan merusak rumah warga.
Suasana makin mencekam karena sepanjang Jalan Kaliurang terjadi listrik padam dan tak ada sinyal. Sialnya lagi, motor Yamaha Mio 2011 yang saya kendarai justru mogok di tengah jalan padahal saya baru 500 meter keluar kosan.
Ingin rasanya kembali ke kosan, tapi itu artinya saya malah lari dari masalah. Toh, besok saya tetap harus ke bengkel untuk memperbaikinya. Alih-alih menunda, saya akhirnya menuntun motor Yamaha Mio Sporty saya ke bengkel yang berjarak sekitar 500 meter.
Untungnya, bengkel itu sepi pelanggan sehingga motor Yamaha Mio 2011 saya langsung ditangani. Saya bilang ke teknisi kalau motor saya tiba-tiba mati tanpa tahu penyebabnya. Sebab sebetulnya, motor Yamaha Mio 2011 milik saya ini baru saja di-service seminggu yang lalu.
Saya juga rutin mengecek kondisinya setiap satu kali per bulan ke bengkel. Mulai dari ganti oli, ganti busi, pembersihan fuel pump, mengganti ban dalam, hingga service biasa. Jika ditotal, biayanya habis hampir Rp250 ribu. Maka wajar kalau saya tak punya petunjuk sedikit pun tentang alasan utama Yamaha Mio Sporty itu bisa mati di jalanan Jogja.
Motor tua itu akhirnya tumbang
Setiap membawa motor Yamaha Mio 2011 saya ke bengkel, hati saya terasa miris. Beberapa kali saya harus melihat Yamaha Mio 2011 itu “batuk-batuk” saat dinyalakan, hingga mengeluarkan banyak asap dari knalpotnya.
Tak lama kemudian, penyakitnya pun kambuh: tiba-tiba mati di tengah jalan. Teknisi yang menanganinya pun harus mengambil tindakan ekstrem. Dia terpaksa melucuti Yamaha Mio 2011 milik saya demi mengetahui penyebab kematiannya.
Saya hanya bisa pasrah dan rela menunggunya selama satu jam lebih, tapi karena tak tega melihat “operasi bedah” itu saya akhirnya pergi meninggalkan bengkel untuk mencari ATM terdekat. Sekalian nongkrong sejenak di Indomaret atau Alfamart.
Di saat itulah saya kembali sadar, listrik belum menyala dan saya tidak bisa mengambil uang di ATM. Saya pasrah dan memutuskan kembali ke bengkel sembari memikirkan mau bayar jasa bengkel pakai apa, karena uang tunai di dompet saya tinggal Rp100 ribu.
Tiba di bengkel, saya kembali mengotak-atik gawai yang tak ada sinyal sementara motor saya belum selesai ditangani. Dari sana saya sudah merasa bahwa biayanya akan mahal dibanding uang tunai yang saya bawa.
Karena tak bisa membayar dengan QRIS atau transfer, saya berpikir untuk membeli kartu lain ke konter HP terdekat demi mendapat sinyal. Sebelum saya sempat pergi lagi meninggalkan bengkel, teknisi yang menangani Yamaha Mio 2011 saya akhirnya datang menghampiri.
“Sudah bisa nyala Kak,” kata dia, “tapi potensi mati lagi, karena akinya harus diganti.”
Sudah saya duga, saya memang harus mengeluarkan uang lebih untuk mengobati penyakit kumatnya kali ini. Salah satunya untuk membayar aki seharga Rp110 ribu (belum ditambah dengan jasa service lain).
Saya iyakan saja tawaran aki tadi, karena saya sudah lelah kalau Yamaha Mio 2011 itu mati lagi. Kejadian mati berulang ini pernah saya tulis di artikel yang berbeda, mulai dari mati saat hendak ke Deles Indah, Klaten sampai mati dalam perjalanan menuju pantai.
Ketahanan Yamaha Mio 2011 tak perlu dipertanyakan
15 menit kemudian, aki Yamaha Mio 2011 saya sudah diganti, sebelum saya sempat menyelesaikan masalah keuangan yang terjadi karena cuaca yang tak mendukung. Dengan wajah memelas, saya akhirnya berhutang di bengkel sampai muncul sinyal, sehingga saya bisa melakukan transfer.
Untungnya, pihak bengkel bersedia. Setelah listrik menyala dan ada sinyal, tanpa ba-bi-bu lagi saya mengirim uang sejumlah Rp230 ribu untuk membayar jasa bengkel. Kejadian ini membuat saya berpikir untuk merelakan Yamaha Mio 2011 saya ke motor terbaru (masih) versi Yamaha.
Mengapa tetap Yamaha? Karena patut diakui, Yamaha Mio 2011 milik saya itu sebenarnya sudah lama bertahan. Usianya aus, dari tahun 2011. Hingga tahun 2026 ini, dia masih setia dan berjuang untuk menemani perjalanan saya.
Oleh karena itu, jika ada keinginan ganti motor sepertinya saya tetap pilih Yamaha. Apalagi, belum lama ini saya melihat motor baru milik teman saya, Rochima yang tampil necis dengan motor pink soft-nya. Motor skutik classy bergaya retro-Eropa dari Yamaha Grand Filano itu kian menarik perhatian saya.
“Sejak ganti motor ini, aku senang banget! Sebagai pekerja yang harus PP dari Sidoarjo-Surabaya, Yamaha Grand Filano ini bikin aku anti ribet.” Ujarnya tanpa bermaksud membandingkan motornya dengan Yamaha Mio 2011 milik saya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Menantang Diri dari Jogja ke Klaten Memakai Yamaha Mio Butut Berusia 14 Tahun, Penuh Rintangan tapi Tetap Jadi Motor Kesayangan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
