Jujur, tongkrongan bapak-bapak di desa sering bikin saya yang introvert ini tak nyaman. Obrolan sering ngawur. Isinya juga ghibah, bahkan terkesan seksis dan jorok. Kalau sudah ngomongin politik dan sejarah, isinya konspirasi. Namun, saya mau tak mau harus gabung, nongkrong dengan mereka demi harga diri keluarga. Terutama simbah saya.
Introvert dipaksa gabung tongkrongan bapak-bapak
Hampir sepuluh tahun merantau dan hidup di kota besar telah mengubah banyak hal dalam diri saya, terutama soal bagaimana saya menghabiskan waktu. Sebagai seorang introvert, saya sudah lama menerapkan seleksi ketat dalam pergaulan.
Di kota, jika sebuah ajakan nongkrong tidak benar-benar penting atau bukan dengan teman yang benar-benar dekat, saya hampir pasti akan menolaknya. Bagi saya, menjaga energi sosial adalah kunci agar tetap waras di tengah hiruk-pikuk pekerjaan.
Namun, semua kemewahan untuk menjadi “pemilih” itu mendadak luntur setiap kali saya pulang ke kampung halaman. Di desa, saya tidak bisa menjadi diri saya yang biasanya.
Saya tidak bisa begitu saja mengunci diri di kamar atau menolak ajakan kumpul warga. Sebab, di atas pundak saya ada beban yang cukup berat: menjaga “harga diri” keluarga, atau lebih tepatnya, menjaga marwah Simbah. Caranya, srawung di tongkrongan bapak-bapak.
Nasib menjadi cucu simbah yang dihormati
Simbah saya adalah salah satu sesepuh yang sangat dihormati di desa. Beliau adalah sosok tetua yang disegani, tempat orang-orang bertanya atau sekadar meminta nasihat.
Dampaknya, identitas saya sebagai individu seolah melebur. Saya bukan lagi sekadar anak muda yang kebetulan mudik, tetapi “cucunya Mbah”. Bahkan ketika saya berkunjung ke desa sebelah dan bertemu orang asing, saya cukup menyebutkan nama kakek saya, dan mereka akan langsung mengangguk hormat.
Status sebagai cucu tokoh terpandang ini adalah dilema besar. Jika saya tidak mau “srawung” atau nongkrong bersama bapak-bapak di pos ronda, yang akan kena imbasnya bukan cuma saya, tapi nama baik Simbah.
Bisik-bisik tetangga di desa itu sangat tajam. Sekali saja saya absen dari kegiatan kumpul-kumpul, mereka bisa saja bergunjing. Mau ditaruh di mana muka kakek saya kalau cucunya dicap tidak punya tata krama?
Maka, setiap kali mudik, saya terpaksa nongkrong bareng bapak-bapak. Sebab, teman sebaya saya juga sudah sibuk dengan urusan masing-masing di perantauan, sehingga di desa ya adanya tongkrongan bapak-bapak.
Obrolan di tongkrongan bapak-bapak ngawur kalau sudah bahas politik
Namun, jujur saja, nongkrong bersama bapak-bapak di desa itu seringkali menguji kesabaran. Masalah utamanya adalah obrolannya seringkali tidak nyambung dengan logika saya.
Bapak-bapak di desa paling suka mengobrolkan politik, tapi basisnya cuma sentimen dan hoaks yang mereka dapat dari grup WhatsApp dan TikTok.
Ada satu momen yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya pernah mendengarkan salah satu bapak bercerita dengan sangat meyakinkan bahwa Presiden Sukarno dulu sering mencari harta karun karun bareng Presiden Amerika Serikat bernama “Robert”.
Sebagai orang yang pernah kuliah Ilmu Sejarah, batin saya menjerit. Saya memutar otak mencoba mencari tahu siapa Presiden AS bernama Robert, karena sepanjang sejarah Amerika, tidak ada presiden dengan nama depan itu yang sezaman dengan Bung Karno.
Ada perasaan sangat ingin menyela dan meluruskan fakta sejarah yang porak-poranda itu. Namun, energi saya biasanya sudah habis duluan. Saya juga khawatir dianggap sok tahu dan menggurui jika berani meluruskan.
Pernah sekali waktu saya mencoba sedikit menyela saat mereka membahas politik pemerintah pusat dengan data yang menurut saya keliru, eh, saya malah dicap sebagai orang yang “benci pemerintah”.
Sejak saat itu, saya belajar untuk lebih banyak mengangguk dan berkata, “Nggih, Pak,” sambil tetap tersenyum meskipun kepala saya pening.
Obrolan seksis dan jorok
Selain obrolan sejarah dan politik yang ngawur, saya juga harus berdamai dengan kenyataan bahwa bapak-bapak ternyata jauh lebih suka bergosip daripada ibu-ibu.
Jika selama ini ada stereotip bahwa hanya perempuan yang suka membicarakan tetangga, itu salah besar.
Di meja tongkrongan bapak-bapak, gosip mengalir sangat deras. Mulai dari urusan tanah, kecurigaan soal kekayaan tetangga yang tidak masuk akal, hingga obrolan yang kadang-kadang terasa seksis dan jorok.
Sebagai pendengar, saya sering merasa risih, tapi demi menjaga “wajah Simbah”, saya harus bertahan di sana dengan sisa-sisa kesabaran.
Tongkrongan bapak-bapak paling asyik kalau membahas mistis
Meski begitu, tidak semua bagian dari tongkrongan ini terasa menyiksa. Ada satu momen yang selalu saya tunggu-tunggu dan entah kenapa membuat saya merasa damai, yaitu saat obrolan mulai bergeser ke arah mistis dan klenik ketika malam sudah larut.
Biasanya, menjelang tengah malam, bapak-bapak akan menggelar tikar di perempatan jalan atau di sebuah tempat yang kami sebut sebagai “brak” (pos ronda sederhana). Suasananya berubah syahdu. Ada api unggun kecil untuk mengusir dingin, ditemani kopi hitam yang kental serta singkong atau ubi bakar yang diambil langsung dari kebun.
Di bawah kepulan asap singkong bakar itu, bapak-bapak mulai bercerita tentang pengalaman mereka bertemu lelembut, suara aneh di kuburan desa, hingga mitos-mitos kuno yang turun-temurun.
Sebagai orang yang skeptis, saya sebenarnya tidak percaya pada cerita-cerita itu. Namun, saya menempatkan obrolan mistis ini sebagai hiburan murni. Mendengarkan mereka bercerita tentang mitos atau hantu penunggu alas terasa jauh lebih menyenangkan daripada mendengarkan konspirasi “Presiden Robert”.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
