Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Berbeda

Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO

Ilustrasi - Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Ada bagian menyebalkan dari tongkrongan mabar (main game online bareng, umumnya Mobile Legend alias ML) kepada orang yang tidak main game. Yakni ketika tiba-tiba dianggap tidak asyik dan terlalu spaneng

Pada mulanya, saya memang kesal, ketika janjian nongkrong tapi justru seperti “dikhianati”: malah ditinggal mabar ML. Tapi pelan-pelan saya belajar memahami, zaman berubah. Mabar ML pun menjadi semacam stress release bagi sejumlah teman di tongkrongan. 

Tapi barangkali pula saya masih terjebak dalam romantisasi istilah “nongkrong” dari pengalaman jauh di belakang. 

“Terjebak” dalam konsep—yang mungkin—lawas: nongkrong itu ya ngobrol, bukan mabar Mobile Legend (ML)

Jika saya tarik dari masa kuliah hingga kerja di Surabaya (2017-2024 awal), saya memang lebih banyak terlibat dalam tongkrongan yang kebetulan masih satu pemahaman soal konsep nongkrong. 

Teman-teman di lingkaran saya bukannya tidak mengenal game online. Di ponsel pintar mereka minimal terinstal Mobile Legend (ML) dan PUBG. 

Namun, setiap kami ketemu, entah kenapa tidak pernah sekalipun terdistraksi untuk mabar. Di sebuah meja kedai kopi, kami justru lebih larut dengan obrolan-obrolan panjang. Kadang receh, kadang serius, tidak jarang pula melankolis. 

Kami secara tidak tertulis menyepakati, kalau janjian nongkrong, itu artinya ya menyediakan diri untuk ngobrol, berbagi cerita satu sama lain. 

Lantas di mana mereka akan mabar ML? Ya di ruang atau momen yang memang tidak “dijanjikan” untuk nongkrong. Misalnya, ketika berada di kosan, di belakang gedung fakultas selepas jam kuliah, dan situasi sejenis. 

Pokoknya kalau sudah janjian ngajak nongkrong, itu artinya tidak ada distraksi ajakan mabar di tongkrongan. Kalau toh ingin mabar di tongkrongan, mereka biasanya sudah sejak awal mengabari kalau momen nongkrong tersebut khusus buat mabar. Dengan begitu, orang yang tidak punya ML seperti saya bisa tidak datang atau kalau toh datang berarti sudah dengan kesadaran penuh tidak mempermasalahkan jika nantinya teman-teman di tongkrongan fokus hp miring. 

Namun, ketika akhirnya saya pindah kerja dari Surabaya dan berganti tongkrongan, situasi yang saya dapati ternyata berbeda sama sekali. Saya harus terbiasa menurunkan ekspektasi: kalau ada ajakan ketemuan, mungkin akan diawali obrolan-obrolan tertentu, tapi selang beberapa menit kemudian, saya harus siap kalau tongkrongan berubah menjadi ruang mabar

Mencoba toleran, tapi malah dianggap tidak asyik dan dipertanyakan hiburannya 

Saya pun pada akhirnya tidak pernah mempermasalahkan. Misalnya, di tengah obrolan tongkrongan, lalu tiba-tiba ada yang mulai menginisiasi “login”, saya pasrah saja. 

Mereka sibuk mabar, tapi saya pun bisa menyibukkan diri dengan urusan lain: membuka laptop untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda, memantau tren untuk bekal produksi konten, atau sekadar maraton membaca cerpen-cerpen mingguan di media massa tertentu. Sudah sangat toleran dan inklusif. 

Namun, entah kenapa tongkrongan anak mabar justru terkesan memaksakan preferensi mereka. Ini juga seperti yang diamini oleh tiga responden Mojok (2 laki-laki pekerja swasta dan 1 laki-laki mahasiswa aktif di Jogja) yang mengalami situasi serupa dengan saya. 

Misalnya, tiba-tiba ada anak tongkrongan yang menyebut hidup kita tidak asyik karena tidak menginstal game online. Dianggap tidak gaul pula. Bahkan ada celetukan seperti ini, “Kalau nggak nge-game, lah terus hiburanmu apa?”

Tidak jarang pula teman-teman di tongkrongan ML tersebut “mendesak” agar orang-orang yang tidak mabar ini menginstal game online. Biar hidup ada hiburannya, kata mereka. 

Di titik itu, saya dan tiga responden Mojok sama-sama mengernyitkan dahi mendapat celetukan tersebut: bentar-bentar, rasa-rasanya preferensi yang dipaksakan, nih. 

Tak instal Mobile Legend (ML) untuk mabar di tongkrongan bukan berarti tidak punya hiburan

Menerima ucapan tersebut, awalnya tiga responden Mojok merenungi diri sendiri: apa jangan-jangan benar, hidup mereka tidak asyik dan kurang hiburan?

Namun, setelah mereka rasa-rasakan lagi, nyatanya tidak begitu-begitu amat. Pertama, mereka mungkin dianggap tidak asyik di tongkrongan mabar. Tetapi, di tongkrongan lain yang mengutamakan ngobrol, mereka justru menemukan suasana tongkrongan yang membuat masing-masing merasa lebih hidup. 

Lalu kedua, jika butuh stress release, mereka toh punya banyak pilihan hiburan lain selain main game online. Misalnya, nonton film atau anime, baca buku atau manga, motoran random, ngopi di alam, dan macam-macam lah. Bahkan, ngobrol deep talk dengan pasangan atau teman dekat pun sudah cukup “menghibur”. 

Dengan begitu, rasa-rasanya tidak fair ketika standar asyik dan hiburan harus ditentukan dari sudut pandang tunggal: sesuai preferensi tongkrongan mabar yang menganggap seolah hiburan itu ya hanya main game online bareng-bareng di tongkrongan sembari berseru-seru histeris. 

Kita sebenarnya sama-sama punya versi kehidupan yang asyik dan hiburan untuk stress release. Hanya memang beda preferensi aja. Jika preferensi kita berbeda, bukan berarti preferensimu yang paling benar dan harus diikuti.  

Ada alasan untuk tetap tidak instal game online, meski game bisa bikin diterima

Gara-gara “pemaksaan” preferensi tersebut, salah seorang teman (juga seorang pekerja swasta di Jogja) mengaku sampai harus pura-pura menikmati mabar Mobile Legend di tongkrongan. 

Pasalnya, di luar urusan mabar, jarang ada yang mengajaknya nongkrong atau sekadar berbincang. Namun, jika urusannya Mobile Legend, tiba-tiba saja ia selalu dicari-cari, mengingat ia menjadi salah satu orang jago dalam urusan game tersebut. 

“Aku punya ML, tapi kalau nongkrong, aku memang lebih suka main sendiri di kamar. Kalau ketemu teman dekat, pasti bukan untuk nge-game, tapi deep talk, bertukar insight,” ungkapnya. 

“Tapi rasanya memang pahit. Kalau di luar game aku rasanya seperti orang asing. Baru merasa benar-benar diterima kalau sudah join mabar,” sambungnya. 

Meski begitu, entah kenapa saya tetap tidak berminat untuk meng-install Mobile Legend di ponsel saya. Murni karena perbedaan preferensi saja. Begitu pula dengan tiga responden Mojok. Mereka tetap tidak mengisi ponsel mereka dengan satu pun game online hanya karena memang bukan tipikal orang yang suka game, tanpa judgmental apapun ke tongkrongan mabar. 

“Mengutip kata Tepe di Marapthon: Urusanku ya urusanku, urusanmu ya urusanmu. Hiburanku ya hiburanku, hiburanmu ya hiburanmu, ribet amat!” Tulis satu dari tiga responden tersebut. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Derita Tak Punya Motor Sendiri dan Tak Bisa Nyetir di Tongkrongan Laki-laki: Dianggap Beban hingga Ditinggal Diam-diam atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version