Semester 5 Kuliah: Masa paling Overthinking bagi Mahasiswa karena Kepikiran Ortu dan Masa Depan, Percuma Cari Pelarian

Semester 5 kuliah: Masa paling overthinking kepikiran ortu dan masa depan, percuma cari pelarian MOJOK.CO

Ilustrasi - Semester 5 kuliah: Masa paling overthinking kepikiran ortu dan masa depan, percuma cari pelarian. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Memasuki semester 5 masa kuliah menjadi masa paling overthinking. Masa bersenang-senang sebagai mahasiswa baru sudah berlalu. Semester 5 adalah penanda bahwa perkuliahan sudah menuju akhir. Karena itulah banyak hal tiba-tiba berjejalan di kepala. 

***

Gangguan tidur pertama saya terjadi di pertengahan semester 5. Jika biasanya saya bisa tidur di jam 1 dini hari, tiba-tiba saja saya selalu kesulitan memejamkan mata dan baru benar-benar tertidur selepas Subuh. 

Masalahnya, saya akan terbangun pada jam setengah 7 pagi, dengan kondisi mata sepet dan badan sakit semua. Sekali bangun, susah untuk tidur lagi. Dan itu terjadi hingga berlarut-larut kemudian. 

Yang menyebalkan dari situasi “kelap-kelop” tidak bisa tidur di jam-jam lewat tengah malam itu adalah: kecemasan-kecemasan yang berjejalan di batin dan kepala. 

Terutama yang saat itu sangat mengganggu adalah: betapa saya sering diremehkan banyak orang, dianggap tidak punya masa depan jika mengandalkan hidup dari menulis—sebagai sebuah skill yang saya tekuni secara serius. 

Overthinking: nangis sesenggukan sambil meringkuk, melamun di halaman kosan

Itulah kenapa, di semester 5 masa kuliah tersebut, saya kerap menghindari kosan. Selain karena kos saya terlalu sumuk, kumuh, dan tidak nyaman. Sebab, jika dalam kondisi sendiri, saya pasti akan diserang kecemasan. 

Sepulang kampus pada jam 4 sore, saya biasanya akan nongkrong sejenak di belakang gedung fakultas. Menjelang Magrib, saya dan sejumlah teman kemudian pindah ke warung kopi langganan. 

Selain ngobrol, di warung kopi itu saya akan menyibukkan diri di depan laptop: mengerjakan tugas-tugas kampus atau pekerjaan sampingan. Harapan saya, saya akan pulang kosan dengan keadaan sangat capek, sehingga bisa lekas tidur. 

Kenyataannya tidak. Kepala saya justru sedang berisik-berisiknya kalau saya sudah balik kos, sendirian. Tidak jarang, tiba-tiba saja saya menangis sesenggukan sembari meringkuk. 

Selepas menangis, saya akan keluar, menyulut rokok, dan melamun di halaman kos. Membunuh waktu menunggu kumandang azan Subuh. Begitu terjadi terus-menerus sampai akhirnya saya bisa lulus dan langsung bekerja. 

Semester 5 kuliah: masa overthinking perihal skripsi dan bagaimana nasib setelah ini?

Semester 5 sepertinya memang fase mahasiswa lagi banter-banternya overthinking. Mahasiswa dengan cerita serupa adalah Obi yang belum lama ini lulus dari sebuah PTN di Surabaya di semester ke-9. 

Kecemasan pertama yang menyerang Obi pada waktu itu adalah perihal skripsi. Entah kenapa, ia membayangkan skripsi sebagai momok yang mengerikan. Ia takut prosesnya akan panjang, rumit, lebih-lebih membuatnya gagal lulus tepat waktu. 

“Tapi itu nggak seberapa mengganggu. Yang paling kutakuti adalah pertanyaan di kepala, ‘Gimana nasib setelah ini? Setelah selesai kuliah?” ungkap Obi, Senin (4/5/2026). 

Masa kuliah Obi sudah menuju akhir. Sementara saat itu ia belum memiliki bayangan akan bekerja apa/di mana? 

Obi menyadari, untuk mencari pekerjaan, modal ijazah S1 saja rasa-rasanya tidak akan cukup. Sementara ia merasa hard skill yang ia miliki sangat terbatas. 

“Belum lagi aku sudah terpapar banyak informasi di media berita atau medsos kalau nyari kerja makin susah,” ujar Obi. 

Kecemasan-kecemasan itu saling tumpang tindih. Membuat Obi kerap gemetaran sendiri kalau sedang berada di kosan sendiri. Obi selalu berandai-andai, seandainya ia mempercepat waktu, ia ingin segera melewati hari-hari penuh ketidakpastian itu. 

Dalam benaknya, kalau bisa sih langsung skip masa semester 5 itu. Tahu-tahu sudah lulus dan sudah kerja saja biar tidak terjebak dalam kecemasan yang berlarut-larut. 

Mahasiswa overthinking di semester 5 kuliah karena kepikiran orang tua

Kecemasan paling menyiksa yang dirasakan Obi adalah pikiran-pikiran terhadap orang tua. Persis sama seperti yang saya rasakan juga di masa menjadi mahasiswa semester 5 dulu. 

Saya dan Obi sama-sama berasal dari keluarga kelas menengah bawah. Orang tua kami hanya pekerja kasar dengan pendapatan tidak menentu. 

Kalau saya waktu itu, saya punya ketakutan kalau selepas kuliah ternyata saya tidak mendapat pekerjaan layak, apalagi kalau sampai menganggur dan menjadi beban orang tua. Saya benar-benar takut tidak bisa gantian meringankan beban mereka dari hasil pekerjaan saya. Bagian inilah yang membuat saya kerap tiba-tiba menangis sesenggukan. 

“Pikiranku malah ke mana-mana. Karena merantau dan jarang pulang, ketakutanku tiba-tiba ada kabar salah satu dari mereka meninggal. Aku nggak siap, sementara aku belum bisa membahagiakan mereka,” tutur Obi. 

“Masalahnya, aku juga masih burem tentang masa depan. Burem apakah kelak aku benar-benar bisa membahagiakan mereka?” Sambungnya. 

Ketakutan itu lalu ditumpuk dengan bayangan wajah orang tua Obi di rumah: dengan tubuh yang kian menua tapi mereka masih harus bekerja begitu kerasnya demi kuliah sang anak. 

Rasa bersalah hingga obat-obatan dari Psikiater

Overthinking soal masa depan dan terutama karena kepikiran dengan nasib orang tua juga dialami oleh Sherin (26) yang kuliah di sebuah PTN di Surabaya pada 2018 silam.

Beban pikiran Sherin ketika menjadi mahasiswa semester 5 adalah rasa bersalah kepada orang tua. Sebab, kalau diingat-ingat, dulu ia tidak melakukan diskusi lebih dulu dengan orang tuanya sebelum memutuskan kuliah. 

Pokoknya ia ingin kuliah sebagai kebanyakan teman seangkatannya, daftar seleksi, diterima, dan langsung setiap semester minta biaya UKT dari orang tua. 

“Harusnya aku diskusi dulu, apa orang tuaku bakal mampu biayai aku kuliah atau nggak? Karena akhirnya mereka kan cuma bisa dukung kemauanku,” beber Sherin. 

“Di semester-semester awal aku cuma fokus dengan diriku sendiri. Tapi memasuki semester 5, aku mulai menyadari kalau biaya kuliah dan hidupku besar loh, sementara aku bergantung penuh dari orang tua. Itu membuatku merasa bersalah,” sambungnya. 

Belum lagi, di tengah situasi tersebut, Sherin juga terjebak dalam hubungan yang toksik. Alhasil, ia sampai harus rutin ke Psikiater untuk mendapat obat penenang karena efek serius dari gangguan kecemasan yang ia alami di semester 5 tersebut. 

Cari pelarian tapi percuma

Pada akhirnya pilihan yang bisa saya, Obi, dan Sherin ambil adalah menjalani situasi hidup meskipun tidak begitu ideal. 

Dalam konteks saya dan Obi, kami pernah mencoba mencari berbagai pelarian. Misalnya, saya bisa naik gunung atau motoran, Obi bisa menenggak alkohol. 

Namun, pelarian-pelarian itu pada akhirnya percuma saja. Sebab, kesumpekan-kesumpekan itu hanya akan reda sejenak, tapi setelahnya akan langsung menggelombang kembali. 

Yang bisa dilakukan adalah menjalaninya. Dan kami sam-sama menyimpulkan, berkutat pada kecemasan justru menjebak kami untuk tidak beranjak ke manapun. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version