Kita sedang hidup dalam masyarakat yang penuh paradoks: mudah nyawer gift di TikTok atau berdonasi online, tapi ogah membantu tetangga yang benar-benar susah. Setelah saya telisik, ini semua gara-gara kapitalisme.
***
Algoritma TikTok saya sedang random-randomnya. Fyp yang muncul tidak jauh-jauh dari cerita-cerita orang miskin, penderitaan warga pinggiran, atau pedagang yang apes. Konten-konten ini dibalut footage yang dramatis dan sound sedih.
Di kolom komentar, akun TikTok yang membagikan video sedih itu membuka donasi bagi “tokoh” dalam video. Dalam hitungan jam, jutaan rupiah bisa dikumpulkan.
“Ternyata masih banyak orang baik di negeri ini,” ujar saya dalam hati.
Misalnya, belum lama saya melihat video seorang kakek pedagang kerupuk di Jakarta yang basah kuyup karena kehujanan dan sudah beberapa hari mengaku belum ada pembeli. Di video tersebut, akun pembagi meminta penonton untuk menglarisi dagangan si kakek.
Tak disangka, orang-orang kemudian berinisiatif buat patungan (open donation) kepada si kakek. Dalam waktu dua hari, ada uang Rp6 juta yang terkumpul. Video serah terima juga dibagikan di akun yang sama.
Selain cerita sedih, fyp saya juga mulai dibanjiri video para streamer. Ada streamer gim daring, video reaction, hingga story teller yang bercerita apa pun. Mereka live sepanjang malam dengan ratusan gift didapatkan.
“Gila. Dermawan juga orang-orang yang nyawer,” lagi-lagi, ucap saya dalam hati.
Awalnya, saya memandang fenomena itu dengan biasa saja. Namun, ada ucapan seorang kawan yang mengganggu pikiran saya: “kalau sama tetangga, mereka dermawan juga nggak ya?”
Pertanyaan ini mengganggu saya, karena saya pernah berada di posisi tersebut. Saya pernah dengan enteng berdonasi Rp50-100 ribu untuk seekor kucing jalanan yang tertabrak motor, tapi justru keberatan meminjami uang ke tetangga–dengan nominal yang sama. Meski malu mengakuinya, tapi beginilah adanya.
Nyatanya fenomena ini juga dirasakan banyak orang selain saya. Di media sosial, keresahan saya teramplifikasi. Banyak orang lebih enteng nyawer gift di TikTok atau berdonasi online daripada membantu tetangga, dengan berbagai alasan.
Egoisme yang terselubung di balik donasi online
Saya pun coba mencari jawaban atas keresahan itu. Dan, untuk memahami mengapa jari kita begitu ringan mencet tombol “gift” atau donasi online, kita perlu menengok teori impure altruism atau “altruisme yang tidak murni”, yang digagas ekonom James Andreoni. Dalam konsep ini, dikenal istilah “warm glow”.
Secara sederhana, warm glow menjelaskan bahwa manusia seringkali memberi bukan semata-mata karena peduli pada penerima, tetapi karena menginginkan sensasi “perasaan hangat” dan kepuasan emosional yang muncul setelah memberi.
Dalam kerangka teori ini, alhasil memberi bukan lagi altruisme (mementingkan orang lain di atas kepentingan sendiri). Ia telah berubah menjadi egoisme-yang-terselubung: pemberi ingin “merasa” menjadi orang baik.
Sialnya lagi, platform digital mendesain mekanisme donasi mereka dengan sangat cerdik untuk memanen warm glow ini. Misalnya, saat kamu mengirim gift di TikTok, atau berdonasi di platform crowdfunding seperti Kitabisa, “pujiannya” sangat instan.
Ada animasi meledak, ada notifikasi “Terima kasih, Orang Baik”, ada nama kamu yang terpampang di daftar donasi. Bukti kebaikanmu langsung terlihat, tervalidasi, dan dirayakan.
“Di situasi inilah otak seseorang langsung dibanjiri dopamin–hormon kebahagiaan,” tulis Andreoni dalam studi yang diterbitkan The Economic Journal (1990) itu.
Bandingkan dengan membantu tetangga yang sakit atau meminjamkan uang pada kerabat yang kesulitan. Tidak ada animasi yang muncul. Tidak ada notifikasi yang memuji. Yang ada cuma ucapan terima kasih–tanpa ada follower medsos yang melihat.
Lebih jauh, kalau mengutip kata Manfred Kets de Vries, kita ini sedang hidup di zaman “I” Society atau masyarakat “Aku”. Menurut de Vries dalam esainya di INSEAD Working Paper (2018), telah terjadi pergeseran dari kolektivisme menuju individualisme narsistik.
“Dalam lanskap ini, kebaikan bukan lagi sekadar kewajiban moral, melainkan bagian dari personal branding dan konstruksi identitas,” ujar de Vries.
Di dunia digital, kebaikan adalah performa (mediated altruism). Ketika kita mengirim gift paus di TikTok atau membagikan tautan donasi di Instagram Story, kita sedang membangun identitas diri di hadapan publik.
Label seperti “top gifter”, atau “orang baik” adalah lencana status sosial. Ada elemen narsistik di sana: keinginan untuk dilihat, diakui, dan divalidasi. Sebaliknya, membantu tetangga yang susah tindakan yang tidak terlihat. Tidak ada yang memotret, mengapresiasi, atau memuji.
“Dalam logika media sosial, kebaikan yang tidak terekam adalah kebaikan yang tidak menambah nilai eksistensi digital kita,” tegasnya.
Srawung justru dirasa membebani, tidak untuk donasi online
Namun, persoalannya tak sampai di situ. Ia bukan hanya soal validasi. Nyatanya, ada hitung-hitungan lain yang terjadi di bawah alam sadar kita setiap kali kita berinteraksi dengan manusia lain.
Sosiologi modern menyebutnya sebagai social exchange theory atau “teori pertukaran sosial”. Teori ini memandang hubungan sosial sebagai sebuah transaksi ekonomi.
Mudahnya begini: manusia secara rasional menimbang biaya (cost) dan manfaat (reward) dalam setiap interaksi. Jika biayanya lebih besar dari manfaatnya, ya kita cenderung menarik diri. Begitu juga sebaliknya.
Di sinilah letak jebakan interaksi bertetangga. Biaya sosial untuk membantu orang terdekat seringkali jauh lebih mahal daripada nilai nominal uang yang dikeluarkan. Dalam banyak diskusi di forum internet, media sosial, atau pengalaman langsung mengobrol dengan kawan, banyak yang mengungkapkan “malas mengenal tetangga”.
Banyak yang mengaku bahwa interaksi dengan tetangga (srawung) membawa risiko “kewajiban sosial” yang melelahkan.
“Sekali srawung, terus besok-besoknya nggak kelihatan nongkrong karena sibuk, pasti jadi omongan. Makanya kadang males aja akrab sama tetangga,” kata salah satu kawan, menegaskan teori tersebut.
Sementara berdonasi online atau sekadar nge-gift, adalah “bantuan tanpa komitmen”. Kamu bisa nyumbang untuk korban kecelakaan, orang miskin, orang apes, hingga kucing terlantar di medsos hari ini dan melupakannya besok. Tidak ada ikatan, tak ada tanggung jawab yang membebani.
Sebaliknya, membantu tetangga adalah pintu gerbang menuju relasi jangka panjang yang tak terprediksi. Sekali kamu dikenal sebagai tetangga yang baik dan suka membantu, ekspektasi bakal terbentuk.
Hari ini kamu membantu angkat jemuran, besok-besok bisa jadi dimintai tolong menjaga anak, dan lusa mungkin diminta pinjami uang. Ada risiko konflik, ada risiko gosip, dan ada risiko privasi yang terlanggar.
Bagi generasi modern yang energinya sudah habis diperas pekerjaan dan kemacetan, “biaya” tambahan berupa basa-basi sosial atau drama ketetanggaan ini terasa terlalu mahal.
Seperti yang diungkapkan salah seorang kawan, “udah lelah bersandiwara seharian di kantor, di rumah cuma mau me time, tapi malah terjebak srawung basa-basi dengan tetangga.”
Alhasil, kalau kembali mengutip kerangka teori Andreoni, berdonasi online pun menjadi jalan tengah yang aman. Kamu tetap bisa merasa menjadi orang baik, tanpa harus menanggung beban emosional dari interaksi dengan tetangga.
Alasan kita lebih sedih sama cerita di TikTok
Paradoks berikutnya berkaitan dengan bagaimana otak kita memproses penderitaan. Fenomena ini dikenal sebagai compassion fade atau psychic numbing.
Sebuah riset psikologi yang ditulis Annelise Jolley dari John Templeton Foundation (2024) menunjukkan bahwa empati manusia tidak berskala linear. Sehingga, kita bisa sangat mudah tersentuh oleh cerita sedih satu individu, tapi menjadi biasa saja ketika dihadapkan pada penderitaan massal atau masalah kronis yang kompleks.
Di media sosial, narasi penderitaan dikemas dengan sinematik. Perjuangan seorang penjual kerupuk yang berhari-hari belum ada penghasilan, seperti contoh di awal tulisan, hingga cerita sedih anak kos yang hidup sebatang kara; mereka ditampilkan sebagai tokoh utama dengan satu alur cerita yang jelas. Wajah mereka nampang di layar ponsel, memicu emotional contagion (penularan emosi) yang kuat.
Alhasil, kita pun ikut sedih, berempati, kemudian berdonasi dan lega karena merasa “masalah selesai”.
Sementara tetangga kita yang miskin? Nah, otak kita memproses bahwa itu cerita yang berbeda. Kemiskinan mereka bukan kisah tunggal yang dramatis, tetapi kondisi umum yang kita lihat setiap hari.
Otak kita mengalami kelelahan atau habituation. Masalah tetangga terasa terlalu nyata, terlalu rumit, dan terlalu struktural buat kita selesaikan.
“Rasa ketidakberdayaan semu (pseudoinefficacy) muncul. Karena seseorang merasa tidak bisa menyelesaikan masalah kemiskinan tetangga secara tuntas, dan justru memilih untuk tidak berbuat apa-apa sama sekali,” kata Jolley.
Alhasil, kita ya lebih mudah menangisi konten TikTok karena itu ada durasinya.
Kapitalisme hari ini telah mengkomodifikasi rasa empati
Brengseknya lagi, jika kita melihat lebih dalam menggunakan kacamata kritis, fenomena ini menunjukkan betapa suksesnya kapitalisme digital melakukan komodifikasi empati. Platform teknologi hidup dari atensi dan emosi pengguna. Algoritma media sosial didesain untuk memancing reaksi emosional—baik itu kemarahan maupun belas kasihan.
Live streaming kesedihan atau kemiskinan adalah ladang emosi. Streamer menjual narasi kemalangan, dan penonton membelinya dengan gift untuk mendapatkan perasaan bermakna. Platform mengambil potongan biaya administrasi dari setiap tetes air mata dan rasa iba yang diuangkan tersebut.
Tetangga kita yang sakit di rumahnya tidak masuk dalam logika pasar ini. Penderitaannya tidak menghasilkan klik, share, atau pendapatan iklan bagi siapa pun. Karena penderitaannya “tidak difasilitasi” oleh algoritma dan tidak menguntungkan platform, ia menjadi tidak terlihat.
Kita tidak menjadi jahat. Kita hanya sedang digiring oleh sistem yang mengarahkan empati kita ke jalur-jalur yang bisa dimonetisasi. Kita merasa sedang bersolidaritas, padahal kita sedang bertransaksi di pasar air mata digital.
Sosiolog Ferdinand Tonnies, seabad lalu bahkan sudah memprediksi pergeseran ini lewat konsep gemeinschaft (paguyuban) dan gesellschaft (patembayan). Dulu, kita hidup dalam gemeinschaft, di mana ikatan sosial didasarkan pada kedekatan fisik, kekerabatan, dan kewajiban moral komunal. Membantu tetangga adalah insting bertahan hidup bersama, saat itu.
Kini, kita bergerak cepat menuju gesellschaft, bahkan dalam bentuknya yang paling ekstrem di dunia maya. Hubungan bersifat transaksional, rasional, dan individualistik. Tetangga kita pada akhirnya hanyalah orang asing yang kebetulan menyewa “ruang” di sebelah kita.
Sebagai gantinya, kita membentuk apa yang disebut Barry Wellman sebagai “networked individualism”. Komunitas kita bukan lagi RT atau RW, melainkan grup Discord, fandom di Twitter, atau komunitas penonton streamer.
Kita merasa lebih dekat secara emosional dengan orang yang berjarak ribuan kilometer karena kesamaan hobi atau nilai, daripada dengan orang di sebelah rumah yang berbeda nasib atau gaya hidup.
Di Indonesia, fenomena ini terlihat jelas di kawasan urban. Di mana, manusia lebih rela patungan online untuk membelikan rumah bagi seorang pemulung yang viral di Jakarta, tapi enggan ikut iuran perbaikan selokan di depan rumah sendiri. Solidaritas telah berubah dari kewajiban komunal menjadi pilihan personal yang bisa di-customize.
***
Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi mereka yang gemar berdonasi online atau mereka yang menutup pagar rapat-rapat dari tetangga. Perubahan perilaku ini adalah respons adaptif terhadap dunia yang semakin bising, melelahkan, dan terkomodifikasi.
Saya pun merasakan hal serupa.
Tulisan ini bermaksud mengajukan pertanyaan reflektif yang masih meresahkan saya: Apakah kapasitas empati kita benar-benar masih utuh? Atau kita hanya mampu berempati pada hal-hal yang nyaman, yang bisa dikontrol lewat layar, dan yang bisa diselesaikan dengan satu kali klik?
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Fakta Penderitaan Fresh Graduate di Jogja: Harus Double Job Hanya Demi Bisa Hidup Layak dan Menabung Mengingat UMR Jogja 2025 Ini Terlalu Menyiksa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan












