Bagi keluarga pekerja, punya mesin cuci menjadi salah satu instrumen penting di rumah. Namun, di desa, mesin pengucek pakaian tersebut menjadi saksi dinamika sosial dari sekadar untuk mengucek pakaian.
***
Satu tahun setelah ibu bekerja di pabrik, pada 2021 silam ibu akhirnya membeli sebuah mesin cuci. Itu pun setelah saya desak. Itu menjadi mesin cuci pertama di rumah kami.
Saya memang jarang pulang dari perantauan. Akan tetapi, tiap pulang ke rumah yang hanya sebentar, saya menyaksikan betapa setiap hari ibu harus melawan kelelahan tubuhnya untuk merangkap peran sebagai pekerja pabrik dan ibu rumah tangga sekaligus.
Rumah tanpa mesin cuci: awalnya lebih baik, tapi menguras energi
Awalnya ibu bersikeras tidak ingin membeli alat bantu cuci baju tersebut. Tidak terlalu urgen. Karena mencuci manual (pakai tangan) memang sudah menjadi kebiasaan.
Terlebih sudah tertanam dalam cara pandang orang desa: bahwa tugas perempuan memang harus demikian—mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga seperti mencuci.
Hanya saja, setelah bekerja di pabrik, lama-lama tubuhnya terasa remuk. Karena ia harus bangun lebih awal (sebelum subuh) untuk mengucek pakaian kotor yang bertumpuk. Kemudian memasak. Lalu berangkat ke pabrik dan baru pulang saat petang.
Tidak jarang ia bangun dengan keluhan badannya sakit semua. Dari situlah saya meyakinkan bahwa membeli mesin cuci sungguh tidak ada salahnya.
Pagi yang lebih baik dari sebelumnya
Mesin cuci terbeli. Dan sejak hari itu, ibu merasa setidaknya ia bisa bangun pagi dengan lebih baik.
Sebelumnya, ia akan menghela napas berat ketika melihat tumpukan baju kotor. Lalu menguceknya dengan setengah mengantuk.
Keberadaan sebuah mesin cuci—meski berharga murah—membuatnya hanya tinggal memasukkan pakaian, mengguyurnya dengan air, lalu memencet tombol pengucek.
Ibu tidak lagi harus mengerahkan otot-otot tangannya untuk mengucek atau menyikat pakaian kotor. Ia pun bisa bangun sedikit melewati azan subuh—tidak harus jauh sebelum subuh—untuk meredakan letih yang membekas dari hari kerja sebelumnya.
Pertama kali beli mesin cuci di rumah desa: dari dianggap kaya hingga buang-buang duit
Ketika meromantisasi mesin cuci pertama di keluarga, Gandika (25), pemuda asal Rembang, Jawa Tengah, mengamini di sisi itu: memudahkan ibunya.
Salah satu hasil dari kerja kerasnya di perantauan memang ia wujudkan dalam bentuk hadiah mesin kotak pembantu mencuci baju untuk ibu. “Ibuku emang full ibu rumah tangga. Tapi aku pengin ngasih kemudahan ibu. Sekarang ada teknologi bernama mesin cuci, jadi biar tangannya nggak lecet-lecet kalau nyuci baju,” ungkap Gandika bercerita, Kamis (9/7/2026).
Tapi ada situasi lucu di lingkungan tetangganya. Ternyata, membeli mesin cuci punya nilai sosial dari sekadar alat bantu cuci baju: dianggap tetangga sebagai “orang kaya”.
Kata Gandika, di lingkungan tetangganya di rumah desa, memang paradigmanya adalah: kalau beli alat-alat berharga mahal untuk sesuatu yang dianggap tidak terlalu urgen, maka dianggap punya uang lebih.
“Mesin cuci dianggap nggak urgen karena kan urusan cuci baju harusnya masih bisa pakai tangan,” tutur Gandika.
Satu sisi Gandika mengamini saja dianggap punya uang lebih. Tapi memang ada juga tetangga julid yang menganggap Gandika buang-buang uang dan gaya-gayaan.
“Nyuci baju aja harus pakai mesin cuci. Kok ya buang-buang duit,” begitu salah satunya. Karena memang penggunaan mesin cuci otomatis berpengaruh pada biaya listrik bulanan.
Anggapan kurang manteb-kurang afdal sebagai ibu rumah tangga
Kejulidan si tetangga julid tidak hanya berhenti pada persoalan dianggap “buang-buang duit”. Mencuci di mesin dianggap tidak memberikan kesan manteb. Sebab, mesin hanya berputar-putar, tidak ada proses mengucek atau menyikat noda.
Gandika ingat, awal-awal ia membelikan mesin cuci untuk ibunya di rumah, saat sang ibu sedang srawung dengan tetangga di desa, ada yang nyeletuk: Kalau aku kok kurang manteb. Sepertinya nggak bersih kalau cuma diputer-puter.
Mencuci manual dengan tangan dirasa lebih afdal. Selain bisa memastikan noda terangkat sepenuhnya, para ibu-ibu juga merasa lebih paripurna menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga.
Kalau jadi rongsokan tidak ada gunanya
Mesin cuci pertama tersebut memang sudah rusak dan menjadi rongsokan. Tapi tidak lama setelah rusak dan tidak tertolong, Gandika—karena ada rezeki lebih—kemudian membelikan lagi yang baru untuk ibunya.
“Aku memang pengin memanjakan ibu. Tugasnya di rumah udah banyak. Dari masak, bersih-bersih rumah. Jadi kalau aku bisa meringankan satu aja, dalam hal ini ya urusan cuci-mencuci, aku merasa lega,” beber Gandika.
Saat mesin cuci pertama rusak, Gandika sebenarnya memberi sang ibu uang untuk memanggil teknisi untuk dibetulkan. Awalnya bisa, dengan harga jasa ratusan ribu.
Setelah itu, mesin cuci tersebut rusak lagi. Ya diperbaiki lagi. Tapi di kemacetan berikutnya, mesin cuci tersebut sudah tidak tertolong sehingga diletakkan di gudang rumah sebagai rongsokan, sebelum akhirnya beli lagi.
“Julidnya tetangga julid ya baru lagi itu. Misalnya, lah iya, kalau rusak ya jadi rongsokan, nggak ada gunanya kok ya tetap dibeli,” kata Gandika mencontohkan. Apalagi setelah si tetangga tahu, kalau mesin cuci pertama itu saat dirongsokkan ke tukang rosok hanya dihargai “recehan”.
Tapi Gandika tidak pernah peduli apa omongan tetangga. Baginya, mesin cuci adalah kepanjangan tangannya untuk membantu ibu—dalam konteks mencuci pakaian—sepanjang Gandika masih berjibaku di perantauan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Ironi Perempuan di Desa: Dihambat Tumbuh dan Maju karena Crab Mentality atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
