Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

3 Kultur Demo di Jogja yang Berbeda dari Jakarta dan Surabaya saat Aksi ‘Indonesia Gelap’

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
21 Februari 2025
A A
jogja memanggil berbeda dengan Jakarta dan Surabaya.MOJOK.CO

Potret massa aksi Jogja Memanggil, Kamis (20/2/2025). (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai warga Surabaya yang pernah merantau ke Jakarta dan kini berdomisili di Jogja, saya cukup kaget melihat demo para mahasiswa serta elemen masyarakat lainnya di sini. Untuk pertama kalinya, saya mengikuti aksi ‘Jogja Memanggil’ yang mengkritisi kebijakan efisiensi anggaran pendidikan hingga program Makan Bergizi Gratis pada Kamis (20/2/2025).

Saya sudah pernah mengikuti aksi sebelumnya di beberapa daerah seperti Surabaya dan Jakarta, tapi kali ini demo di Jogja terasa berbeda. Ada beberapa kultur yang membuat saya kagum, bahkan bisa jadi mengubah perspektif anda tentang eksistensi demo itu sendiri bahwa tak semua demo harus berakhir anarki. 

#1 Massa aksi ‘Jogja Memanggil’ mengenakan baju seragam

Sekitar pukul 10.00 WIB, mahasiswa yang terdiri dari berbagai kampus di Jogja berkumpul di Taman Parkir Abu Bakar Ali yang berada di sisi utara kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta. Seluruhnya mengenakan baju berwarna hitam meski terdiri dari berbagai universitas dan aliansi.

Salah satu peserta aksi ‘Jogja Memanggil’, Atfi (24) mendukung adanya kesepakatan dress code tersebut. Baginya, tidak menggunakan jas almamater saat aksi sebagai simbol, bahwa tidak ada sekat antara mahasiswa dan masyarakat. Timbulnya sekat, kata dia, bisa membuat partisipan baru. 

“Masyarakat yang mau bergabung di dalam barisan jadi tidak sungkan,” kata Atfi yang sudah sering ikut aksi di beberapa daerah seperti Jogja dan Temanggung, Jumat (21/2/2025).

Massa aksi Jogja Memanggil. MOJOK.CO
Massa aksi ‘Jogja Memanggil’ berbaju hitam. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Menurut Atfi, koordinator lapangan (korlap) aksi pasti bisa membedakan, mana orang yang menyusup sebagai intel dan mana yang bukan. Bisa saja ada masyarakat yang memang murni ingin bersuara atau meluapkan amarahnya terhadap isu yang terjadi.

“Jadi ngapain sih pakai almamater? Kalian kan mau aksi ya, bukan gagah-gagahan kampus,” kata dia.  

Adapun baju berwarna hitam sebagai simbol pesimisme terhadap masa depan Indonesia yang kian gelap saat dipimpin oleh pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka bersama kabinet Merah Putih. Warna hitam juga menunjukkan kekecewaan massa aksi ‘Jogja Memanggil’ terhadap situasi Indonesia akhir-akhir ini. 

#2 Hotline untuk kekerasan seksual saat aksi

Massa aksi masih berangsung-angsur berdatangan hingga pukul 12.00 WIB. Setelah itu, mereka mengatur barisan dan mulai berjalan menyusuri kawasan Malioboro. 

Sebelum berangkat, mata saya tertuju pada poster layanan aduan tindak pidana kekerasan seksual. Hal yang jarang saya jumpai saat aksi di Surabaya maupun Jakarta dulu. Poster itu mengimbau massa aksi yang melihat, mendengar, dan mengalami kekerasan seksual baik verbal maupun non verbal, bisa menghubungi hotline 082241382870. Lengkap dengan tagar Indonesia gelap.

Setelah mencari tahu, layanan itu ternyata diinisiasi oleh Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS). Anggota LKiS, Ade Surya yang juga mewakili Forum Cik Di Tirto mengatakan, layanan tersebut sudah dibuat sejak tahun 2024. Tepatnya saat aksi ‘Jogja Memanggil’ pertama untuk mengawal putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

“Kami sudah turun tiga kali, sejak aksi ‘Jogja Memanggil’ pertama hingga aksi Indonesia Gelap ini,” kata Ade.

Hotline KS. MOJOK.CO
Hotline layanan aduan tindak pidana kekerasan seksual. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Forum Cik Di Tirto sendiri terdiri dari berbagai elemen masyarakat sipil, komunitas, lembaga CSO, dan NGO yang berkomitmen menciptakan ruang aman dalam aksi. Menurut Ade, hotline yang mereka berikan berdampak terhadap kesadaran masyarakat soal tindakan kekerasan seksual seperti catcalling, meraba, atau membawa poster berbau seksis.

Ade menjelaskan jika massa aksi yang melapor umumnya adalah perempuan, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa laki-laki bisa menjadi korban tindak kekerasan seksual. Sayangnya, masih banyak banyak dari mereka yang tidak berani lapor. 

Iklan

“Dengan adanya hotline, peserta aksi memiliki jalur aman untuk melaporkan kekerasan tanpa takut atau merasa terancam,” kata dia.

Selain itu, hotline juga berfungsi mencegah terjadinya chaos di lapangan. Ade menjelaskan kemarahan terhadap pelaku kekerasan sering kali berujung pada tindak kekerasan fisik dalam aksi. Melalui laporan yang LKis terima, tindak kekerasan tersebut dapat ditangani secara sistematis dan profesional.

#3 Alasan Jakarta sering chaos ketimbang ‘Jogja Memanggil’

Demo ‘Jogja Memanggil’ yang merupakan rangkaian dari aksi ‘Indonesia Gelap’ berlangsung kondusif di Malioboro. Massa mulai memisahkan diri saat sore, lalu pulang dengan tenang. Suasananya kontras dengan aksi ‘Indonesia Gelap’ yang terjadi di berbagai daerah seperti Jakarta, Surabaya, hingga Makassar.

wibu, jogja memanggil.MOJOK.CO
Ziu, seorang wibu asal Jogja, melakukan orasi di aksi Jogja Memanggil (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Di Jakarta, aksi ‘Indonesia Gelap’ sudah berlangsung di depan Patung Kuda sejak Senin (17/2/2024). Berdasarkan laporan yang beredar di media massa, sejumlah elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam aksi tersebut sampai melempar botol plastik, bilah kayu, dan sampah ke arah polisi. Begitu pula yang terjadi di Surabaya.

Lain halnya dengan suasana aksi ‘Jogja Memanggil’ yang kondusif. Meskipun ada juga kesamaannya. Di Malioboro, massa aksi membawa banyak poster berupa kritik terhadap 100 hari kinerja Prabowo-Gibran. Sesekali mereka juga menyanyikan lagu seperti Indonesia Pusaka.

Beberapa anggota aksi juga menyebarkan selebaran tentang kebijakan pemerintah yang dinilai tak adil. Misalnya, pajak pertambahan nilai (PPN) sebanyak 12 persen, kelangkaan gas 3 kilogram, konflik agraria, korupsi, UU Cipta Kerja, Dwifungsi dan militerisasi, makanan bergizi (tidak) gratis, pemangkasan anggaran pendidikan, dan sebagainya.

Namun, menurut pengalaman Savero (24), alumnus kampus di Jogja yang kini bekerja di Jakarta, suasana aksi di Jogja dan Jakarta sebetulnya tidak jauh berbeda meskipun isu yang diangkat sama.

“Di kedua tempat itu sebenarnya bisa sama-sama chaos, tapi mungkin karena Jakarta lebih dekat dengan pemerintah pusat jadi massanya lebih nekat,” ujarnya. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pesan untuk Massa Aksi ‘Jogja Memanggil’ dari Mereka yang Terlihat Tenang di Kejauhan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 21 Februari 2025 oleh

Tags: demo di Malioborodemo Jakartademo Surabayaindonesia gelapjogja memanggil
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Aliansi Jogja Memanggil menggelar aksi damai di bundaran UGM. MOJOK.CO
Aktual

Alasan Aliansi Jogja Memanggil Pilih Bundaran UGM Jadi Tempat Aksi, Bukan Malioboro

1 September 2025
Prof. Al Makin: Menyelami Sejarah Peradaban Dunia untuk Menyikapi Tantangan Indonesia
Video

Prof. Al Makin: Menyelami Sejarah Peradaban Dunia untuk Menghadapi Tantangan Indonesia Gelap

23 April 2025
Membedah poster dalam Aksi Jogja Memanggil, rangkaian aksi indonesia gelap yang mengkritik kebijakan Prabowo-Gibran. MOJOK.CO
Mendalam

‘Oke gas ndasmu!’–Seruan Massa Aksi Jogja Memanggil yang Ingin Prabowo-Gibran Turun Jabatan

22 Februari 2025
Aksi 'Jogja Memanggil' di Malioboro. MOJOK.CO
Aktual

Pesan untuk Massa Aksi ‘Jogja Memanggil’ dari Mereka yang Terlihat Tenang di Kejauhan

20 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda Supra X 125

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026
Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi MOJOK.CO

Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi

26 Februari 2026
Makan bersama sia-sia: niat kumpul keluarga, tapi bikin ortu kesepian karena anak-anak sibuk main hp sampai tak nyahut saat diajak bicara MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.